[3] Sebuah Kendaraan

images

OtherwiseM presented

cr pict here.

Day 3 : The Vessel

Write about a ship or other vehicle that can take you somewhere different from where you are now.

cr prompt here.

.

.

.

Jemarimu bergetar. Pandangmu terhalang genangan air. Rasanya seperti menabur garam di atas luka. Kalau tahu akan jadi sebegini menyakitkan, kau tidak akan pergi ke mari.

Namun, hati bodohmu itu berhasil memperdayai. Atas dasar ‘terlalu terkejut’ dan ‘tidak percaya’, kinerja otakmu terhenti sejenak. Saat kembali bekerja, kamu sudah mendapati dirimu bersimpuh di hadapan sebuah nisan. Lengkap dengan tangis dan penyesalan.

Kau merasakan tepukan di bahumu. Perlahan kepalamu tertoleh dan paras menawan seorang gadis ada di sana. Ia tersenyum. Perawakan mungilnya terbalut pakaian hitam. Si gadis menyelipkan helai hitam panjangnya di balik telinga.

“Aku datang untuk memberi penawaran.”

Alismu meliuk. Lagi-lagi kau terlihat bodoh.

Si gadis berjongkok di sisimu. Menatap pembaringan terakhir orang yang begitu kau kasihi. “Aku punya kendaraan yang bisa membawamu ke mana pun.”

“Apa maksudmu?” Suara paraumu akhirnya terdengar.

“Ini adalah penawaran menarik. Aku jamin, kau tidak akan menyesal.”

Kau menghela napas. “Berhentilah bicara aneh, orang asing.”

Kini gantian si gadis yang menghela napas. “Aku bukan manusia.”

Netramu melebar.

“Seorang gadis aneh tiba-tiba datang dan mengatakan hal aneh. Aku tidak menyalahkanmu jika tidak percaya. Tapi saat aku mengatakan aku bukan manusia, aku benar-benar serius. Bisa dibilang, aku utusan dari dunia seberang.”

Kamu menoleh padanya.

Merasa diperhatikan, sekali lagi gadis itu tersenyum. “Kau benar-benar bisa pergi ke manapun,” ia menoleh, “bahkan ke masa lalu sekali pun.”

Matamu membundar sempurna. Sejemang, jantungmu berhenti berdetak. Sedang gadis di hadapanmu kembali mengulas senyum. Kau tidak sebodoh itu untuk percaya begitu saja pada kata-kata aneh orang asing yang tiba-tiba menghampirimu. Tapi gejolak emosi yang saling tumpang tindih itu berhasil melumpuhkan akal sehatmu.

“Bawa aku pergi. Ke masa lalu.”

“Tentu saja.” Gadis itu tersenyum lebih lebar, nyaris menyeringai.

Tangan mungilnya ia letakkan di depan matamu. Kamu terpejam. Berkas cahaya muncul dari balik telapak tangannya. Semakin bersinar, menyilaukan, sampai akhirnya melahap tubuhmu bulat-bulat.

.

.

.

“Tapi ongkosnya dibayar dengan nyawamu.”

-end-

Jadi ini ceritanya lanjutan dari [1] Gadis di Balik Jendela. Apa ada yang sadar? Wkwkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s