[#2] de’Nearós – Si Lelaki Hitam-Putih

#2

deNearós

#1. Si Lelaki Hitam-Putih

OtherwiseM presented

Code Name 2

|| [OC] Lillith x [Boyfriend] Hyunseong as Locko || AU!, Fantasy, School Life, Sad, Fluff || PG-15 ||

 Teaser || #1 

Anak seusiamu pasti banyak masalah yang sulit diatasi karena kurang bimbingan orang dewasa.

 

.

.

.

 

Lillith hanya terlalu beruntung untuk ukuran seorang sampah.

 

Ia dilahirkan di tengah gua saat pertempuran sengit antara dua negara besar terjadi. Setelah peristiwa yang mengundang banyak korban jiwa tersebut berakhir, negara membantu biaya hidupnya lantaran sang ayah gugur dalam perang. Lillith tumbuh dengan baik. Ibunya begitu menyayanginya—bahkan terlalu banyak memanjakan. Hidupnya tentram, sampai hari itu datang.

 

Lillith baru mendorong daun pintu kala dilihatnya si ibu terisak di tengah rumah. Gadis bersurai sepinggang itu lekas menghampiri. Namun bibir ibunya terkatup rapat, enggan memberi penjelasan. Ada perkamen tergeletak di sisi sang wanita paruh baya. Lillith meraihnya. Netranya menekuni untaian huruf di sana.

 

Sebuah permintaan mengikuti tes dari sekolah paling hebat di seluruh dunia, Ottori.

 

Lillith baru akan menjerit bahagia—masuk ke sana sudah menjadi cita-citanya, omong-omong. Namun tangis pilu sang ibu membuatnya kebingungan. Sejak kecil, otak mungilnya sudah mendapat berbagai macam doktrin tentang kehebatan Ottori. Sekolah impian terbaik dari yang terbaik. Penghasil orang hebat dengan gelar bukan main-main. Tapi kenapa ibunya tidak tersenyum?

 

Lillith ingin bertanya, namun lidahnya keburu kelu. Rangkaian kata dalam otaknya hanya berakhir di pangkal tenggorokan. Gadis itu hanya diam sembari memeluk ibunya erat-erat seharian.

 

****

 

Saat itu, Lillith hanyalah gadis lima belas tahun yang tidak tahu apa-apa.

 

Anggapannya, masuk Ottori artinya masuk surga. Kehidupan ibunya bisa terjamin setelah negara berhenti membiayainya di usia tujuh belas nanti. Itulah kenapa Lillith semakin bingung melihat ibunya yang menangis parah kala ia berpamitan hendak tes. Tapi ia juga tidak bertanya. Mungkin sang ibu hanya tidak siap melepas anak semata wayangnya tinggal di asrama.

 

 

Barulah saat namanya dipanggil dan ia dihadapkan dengan seekor naga buas yang siap menyemburkan api ke tubuhnya kapan saja, Lillith mendapat satu konklusi bahwa hidupnya tidak akan berjalan sedamai riak air di sungai.

 

“Ini benar-benar air kencing naga, ‘kan?”

 

“Hei, kau meragukanku?”

 

“Baunya!”

 

“Hahaha!”

 

Kepalanya diguyur cairan kuning. Kedua tangannya terikat ke belakang dengan sihir. Lillith menunduk dalam. Air mata menggenang saat aroma tak sedap bersatu dengan tubuhnya.

 

“Berhenti … kumohon … berhenti ….”

 

“Hahaha!”

 

Mereka tulikan telinga. Melengos pergi dengan tawa mengudara. Tinggalkan Lillith yang terisak pelan. Meringkuk tak berdaya beralaskan rerumputan.

 

Tidak punya kuasa mengagumkan, tapi bisa jadi penghuni Ottori. Bisa mengenakan almamater kebanggaannya. Bisa bertatap muka dengan para guru yang namanya tercetak dalam daftar pahlawan dunia. Bisa bersanding dengan siswa-siswi hebat yang membencinya tanpa sebab.

 

Mata-mata itu memindai tajam tubuh kuyupnya. Mereka hanya melengos pergi sembari mengercutkan hidung. Tanpa ada niatan menghampiri untuk sekadar berbasa-basi.

 

Tanpa sadar kedua tangan Lillith terkepal kuat. Air matanya mengalir semakin deras—sepertinya ia harus mencari alasan lain jika gurunya bertanya lagi soal mata bengkaknya nanti.

 

“Hei, apa kau masih mau diam di situ dan mencemari udara kami?”

 

Seorang siswa berteriak. Membuat Lillith harus segera mengayuh tungkai lecetnya cepat-cepat. Ke mana saja sebelum pekikan serupa menendang gendang telinganya.

 

Ah, mungkin ruangan di ujung sana boleh juga, begitu pikiran sempit Lillith bekerja. Tanpa ragu ia berhambur masuk. Membanting pintu kencang-kencang sebelum bokongnya jatuh mencium lantai.

 

Gadis itu menggigit bibirnya keras-keras. Ingin mengamuk, tidak mampu. Ingin marah, tidak pantas. Sejak awal, perkamen sialan itu memang bencana. Harusnya ia berani menanyai alasan di balik air mata ibunya waktu itu. Bukannya diam saja seperti orang tolol sampai akhir. Membiarkan dirinya sendiri digiring masuk ke dalam neraka.

 

“Hei, kau kenapa?”

 

Sampai sebuah suara membuat jantungnya berhenti bekerja sesaat. Ah, ternyata ini bukan ruang kosong. Dia sudah pasti akan dihukum—paling beruntung hanya dimarahi. Kenapa hidupnya sial sekali begini sih? Lalu sekarang ia harus bagaimana? Ah, minta maaf! Ya, ya, Lillith harus minta maaf!

 

Gadis itu buru-buru bangkit sampai nyaris terjengkang lantaran menginjak jubahnya sendiri. “M-maaf, a-aku, ak-aku ….”

 

Takut-takut, Lillith menoleh. Namun sejurus kemudian ia membulatkan mata. Kosong. Ruangan ini tak berpenghuni. Hanya warna putih yang mendominasi dengan beberapa ranjang dan peralatan medis. Oh, Lillith bahkan baru tahu kalau sekolahnya punya dua ruang kesehatan.

 

Menyerngit bingung, mendadak bulu romanya meremang. Apa yang tadi itu … sejenis hantu? Oh, kesialan macam apa lagi ini?!

 

Saat Lillith hendak membuka pintu dengan tremor menyerang sekujur tubuh, sebuah tangan menahan pundaknya. Lillith memejam erat-erat. Merapal segala macam doa yang ia bisa. Ayolah, Lillith benar-benar belum siap bertemu hantu! Dia memang belum pernah melihatnya secara langsung, tapi ibunya sering bilang kalau hantu itu adalah—

 

“Mau pergi ke mana dengan pakaian basah begitu? Gantilah dulu.”

 

Dia seorang lelaki. Pakaian serba hitam serta jubah putih sebetis membalut tubuh kekarnya. Helaian hitamnya ditata ke atas. Dahinya mengerut. Segumpal kain diulurkannya pada si gadis yang melongo.

 

tampannya.

 

Lillith menggeleng kuat. Ibunya bilang kalau hantu biasanya berpenampilan menarik agar memudahkannya mendapat mangsa. Lalu kalau tertangkap, jiwa si korban akan dihisap habis-habisan agar ia bisa hidup kembali. Ibunya juga bilang kalau Lillith harus menampar kencang wajahnya agar kesadarannya pulih dari pesona si hantu. Namun walau Lillith melakukannya berulang kali sampai tapak tangannya membekas di pipi, lelaki itu masih berdiri di sana. Sepertinya dia hantu kelas tinggi. Mungkin Lillith harus menampar dirinya lebih kencang lagi.

 

“Hei, apa kau sudah gila?!”

 

Tidak! Sekarang makhluk ini malah memegang tangannya! Oh, sebentar lagi jiwa Lillith pasti dihisap habis-habisan.

 

“To-tolong, a-aku ma-sih mau hi-hidup …. Se-tidaknya, ijinkan a-ku ber-temu i-ibuku dulu.”

 

Si lelaki hanya memandang Lillith dengan mata memicing. Waktu berjalan aneh setelahnya. Sampai tawa keras mengudara dari mulut lelaki tersebut. Sedangkan campuran rasa takut dan bingung membuat wajah Lillith terlihat begitu bodoh.

 

“Sepertinya anak jaman sekarang terlalu banyak bergosip soal hantu, ya. Aku ini manusia. Jadi cepat ganti pakaianmu sebelum kau sakit.”

 

Eh, jadi lelaki tampan ini bukan hantu?

 

****

 

Pakaian pasien berwarna polos itu membungkus tubuh Lillith. Kepala si gadis menyembul dari balik pintu kamar mandi dan mendapati lelaki tampan entah siapa yang tengah menuangkan sesuatu ke cangkir.

 

Haruskah ia keluar sekarang? Tapi Lillith bersumpah tubuhnya masih bau sekali! Sekeras apa pun ia menggosok tubuhnya, juga sebanyak apapun ia memakai sabun (ia memakai sebotol penuh, omong-omong), bau itu masih saja mengoar dari tubuhnya. Air kencing naga memang yang terbaik untuk menindas seseorang.

 

Oh, kau sudah selesai?” Dia tersenyum lagi. Membuat pipi Lillith bersemu.

 

“Te-terima kasih, Tuan!” Oh, ayolah Lillith! Setidaknya kau harus katakan satu frasa itu dengan lantang.

 

“Tidak masalah. Kau mau segelas teh? Ke marilah sebelum dingin.”

 

Lillith mengerjap. Ragu menguasai dirinya. Posisinya masih seperti tadi—hanya kepala yang menyembul dari balik pintu. Lillith yang sadar akan ketidaksopanannya tersebut bergegas menghampiri si lelaki.

 

Menolak pemberian orang lain itu tidak baik, itu kata ibunya. Lagipula lelaki ini juga tidak terlihat mencurigakan. Ia terus tersenyum dan juga, ugh … tampan. Jadi Lillith menurut saja. Dalam sekali teguk, ia tandaskan isi cangkirnya. Eh, Lillith lupa kalau ibunya pernah bilang bahwa orang jahat itu biasanya banyak tersenyum.

 

Tidak! Kenapa dia jadi berprasangka buruk begini? Lagipula teh itu juga terasa seperti minuman paling enak yang pernah diteguknya. Entah karena memang rasanya yang terlalu enak, Lillith yang haus luar biasa, atau karena pemberian si lelaki tampan yang sejak tadi memerhatikannya.

 

Eh, memerhatikannya?

 

“Tidak apa-apa kalau kau ingin menangis lagi.”

 

Panas menjalar di kedua pipi Lillith. “Ti-tidak, i-tu … maafkan atas kelancangan saya. Saya pikir ini ruang kosong karena tidak ada palang di atas pintunya. Tapi mungkin saya juga tidak memerhatikan. Maafkan saya.”

 

“Tidak apa-apa. Ini hanya ruang tambahan karena belakangan ruang kesehatan sering penuh. Jadi wajar saja kalau kau tidak tahu.”
 

Lillith terdiam. Maniknya terkunci pada sosok si lelaki yang masih tersenyum lembut padanya. Tampan, baik, tubuh bagus, ramah pula. Sempurna sekali dia.

 

“Mau secangkir teh lagi?”

 

Mau! Tehnya sangat enak. Apalagi diminum bersama orang tampan.

 

Lillith bangkit. Membungkuk dalam pada si lelaki. “Tidak, terima kasih. Saya sepertinya harus pergi sekarang. Maaf dan terima kasih banyak, Tuan—”

 

“Locko.”

 

“Maaf?”

 

Ia tertawa, “Jangan terlalu formal begitu. Aku hanya semacam dokter magang di sini.”

 

Oh, dokter magang. Pantas saja Lillith baru pertama kali melihatnya.

 

“Dan juga, jangan ragu untuk datang jika ada sesuatu. Anak seusiamu pasti banyak masalah yang sulit diatasi karena kurang bimbingan orang dewasa. Aku akan mendengarkan dan membantu semampuku.”

 

Satu senyum dan Lillith merasa jantungnya mau meledak di dalam sana. Oh, kenapa udaranya panas sekali ya? Lillith tidak tahu sudah seberapa lama ia berdiri di sana sambil menikmati irama brutal dari jantungnya saat suara Locko menggetarkan kembali gendang telinganya.

 

“Ngomong-ngomong, bel sudah berbunyi sejak tadi. Apa kau tidak keberatan dihukum?”

 

“Sa-saya pamit pergi. Te-terima kasih, Tuan Locko!”

 

Oh, bahkan saking gugupnya, kaki Lillith harus berapa kali tersandung kaki meja pun kaki ranjang. Sepertinya wajah merahnya sebentar lagi akan meledak.

 

—end—

miyane T.T aku kena WB kemaren jadi baru sekarang bisa update huhuh T.T
semoga untuk selanjutnya aku bisa lebih disiplin untuk update fict ini >.<
karena baru sembuh dari WB, pasti ini banyak ganjil dan gajenya XD (termasuk hantu di Albero yang bisa hidup lagi dengan memakan jiwa manusia)
i need your review, guys!

see ya!

OtherwiseM

Advertisements

8 comments

  1. Hana · June 26, 2016

    Uwah! So lucky~ udah ditolong, dikasih teh… Jaman sekarang yang kaya gitu langka, btw.

    Liked by 1 person

  2. Youngrae · June 26, 2016

    eh knp lilith dibully yaaa. ..
    kirain hyunseong jd murid,
    ehhh ternyata malah jd dokter magang…
    lilith gugup gitu ditolong dokter tamvan 😁
    kya nya lilith polos bgt yaa..

    next chapter…
    keep writing 😃

    Liked by 1 person

    • kimminjung00 · July 3, 2016

      Soalnya lillith bisa dibilang murid paling payah, jadilah dianggap rendah sama murid lain x3
      Makasih udah baca ^^

      Like

  3. Laras_97 · June 30, 2016

    Eciee.. Bang seterong/? Jdi dokter :p eh DoGan deh Dokter Ganteng 😀
    Semangat buat next chap ya saeng ^^

    Like

    • kimminjung00 · June 30, 2016

      Iya nih si abang yang foto absnya dipake jualan onlen /?/ wkwkwk xD makasih eonni ^^

      Like

  4. Milleny · July 3, 2016

    APAAN INI AKU UDAH BACA BERHARI HARI YANG LALU TERNYATA BELUM MENINGGALKAN JEJAK KESYANTIKANKUH #huek-,-

    Apalah ya aku beneran udah baca ini, miyane beb waktu itu bacanya sambil tiduran jadi kadang baca beberapa paragraf ketiduram bentar bangun lagi ketiduran lagi #dan begitu terus ampek lupa tak meninggalkan jejak kesyan–plis-,-

    Hm… gimana ya XD aku sih selalu suka ama yang kamu buat, soalnya bisa ngeh gitu dibca xD dan aku juga suka banget ama Hyunseong #hoohinimahmphijugatau(?)

    Walaupun aku tetep ngarep kamu suatu hari bikin ff dengan main cast HS >< dasom #aku ngeship mereka :v

    Tapi nggak papa, ternyata kalau ditamatkan(?) Cheng xiao manis juga kayak aku (buang ke laut -_-) dan pantas untung abang seong :") walau hyunseong hanya milik jeongnin seorang~

    Dan selain itu aku emang hobi banget sama yang berbau fantasi fantasi, apalagi ada horornya gitu, kadang yang romance pun terlupakan(?)

    Jadi kesimpulannya, aku suka :v

    Ditunggu next seriesnya oke :v btw… apa mataku yang sedikit bermasalah, kok akhir-akhir ini si youngmin mempesona ye #ciyeeeee #dibunuhjokwmn

    Sekian. Sampai bertemu lagi :v

    Btw, apa kau uninstall BBM? Padahal aku berharap bisa chatingan selama liburan/?

    Btw /LAGI/ selamat bertemu denganku di wattpad :p

    Liked by 1 person

    • kimminjung00 · July 3, 2016

      Duh jejakmu emang paling canthek kok beb :”v selalu kukumpulin jejak demi jejaknya /lalu ditendang/
      Iya hyunseong belakangan menggoda banget btw :”v /lalu ambigu/
      Nahloh >< habis mereka keliatan akran banget gitu … jadilah ._. Sebelumnya sempet bingung mau pairingin hyunseong sama siapa, tetapi gegara foto bofi sama wjsn yang di mana hyunseong pegang kepala cheng xiao, jadilah aku ship mereka sajalah xD
      Jeongmim punyae mbak juniel titik :" /lalu dibakar/
      IYA EMANG YOUNGMIN RASANYA MAKIN … CANTIK /LALU DIBAKAR SUNGGUHAN/
      dadah milleny :* makasih bomnya hihihi x3

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s