sorridere

Sorridere

OtherwiseM presented

 

|| [Boyfriend] Jeongmin and You || Angst, Romance, Semi-Marriage-Life || Ficlet || PG-15 ||

 

Based from prompt

Anyelir merah muda cantik, kamu juga cantik.

 

.

.

.

 

 

Kamu tersenyum. Cantik.

 

Seperti anyelir merah muda yang jadi favoritmu. Satu perkara sederhana yang membuat gumpalan air di kedua soket mataku berlomba keluar. Hari ini akhirnya datang juga. Hari di mana kita akan saling terikat untuk selamanya.

 

Seperti impianmu, gaun indah yang telah kau rancang sejak lama itu akhirnya melekat sempurna di tubuhmu. Membuatmu nampak begitu menawan dengan polesan sederhana di romamu. Rambut panjangmu dibiarkan tergerai, bermahkotakan bunga anyelir merah muda.

 

Kamu benar-benar cantik hari ini, dan aku tidak bisa berhenti menggenggam erat tanganmu. Pelan-pelan, kutarik kedua sudut bibir ke atas.

 

Aku juga terlihat tampan kok. Orang-orang bilang begitu manakala setelah jas hitam rancanganmu ini membungkus tubuhku. Rambutku ditata ke atas—katamu aku berlipat kali lebih tampan begini. Oh, bahkan aku bisa lihat tatapan kagum para gadis padaku. Kamu jelas akan cemburu kalau melihatnya.

 

Ya, andai kamu melihatnya.

 

“Bersabarlah. Dia pasti akan hidup tenang di sana.”

 

Suara dalam sang pendeta berjejal di telinga. Ia mengelus bahuku dengan iba yang bertengger jelas di maniknya. Aku hanya tersenyum kecut. Isak tangis Ibumu terselip di tengah cengkeraman sunyi.

 

Rasa sesak bergumul tanpa diundang. Lagi, dan lagi, likuid bening itu menyeruak keluar. Ayahku melepaskan tautan jemari kita. Kemudian papan kayu berpelitur itu menghalangi tubuhmu yang terbaring kaku dari jangkauan mataku.

 

Aku berontak. Aku mengamuk. Lagi untuk kesekian kalinya di hari ini. Orang-orang mengepungku, memaksaku diam. Sesekali mereka melayangkan tamparan keras dan beberapa frasa memuakkan. Seperti,

 

“Sadarlah, Jeongmin! Dia sudah mati! Jangan terus begini!”

 

Sialan! Berani sekali mereka bicara begitu! Rasanya ingin kucabik tubuh mereka satu-satu. Berteriak di depan kupingnya bahwa kamu tidak mati, tidak ada yang mati. Kendati begitu, satu-satunya yang kulakukan hanya memandang mereka penuh kebencian. Mau kembali berontak, mereka malah kian gencar menampar wajahku. Timbulkan luka lebam di pipi.

 

Oh iya, kamu tidak suka aku babak belur. Katamu, menyakitkan melihatku terluka. Tapi lebih menyakitkan lagi saat aku tidak bisa mendengar ocehanmu tentang “sayangi tubuhmu, Lee Jeongmin”.

 

“Lepaskan aku! Jangan bawa istriku!”

 

Aku memekik, tapi mereka tidak peduli. Memaksaku merelakanmu digotong pergi oleh para bajingan yang tak paham artinya kehilangan.

 

— End—

 

Advertisements