#1

deNearós

#1. Orlin’s Problem

OtherwiseM presented

Code Name 6

|| [OC] Orlin x [Boyfriend] Minwoo as Twelve || AU! Fantasy, School-Life, Fluff || PG-15 ||

Teaser

.

.

Twelve itu menyebalkan dan Orlin tidak bisa berada dekat dengannya dalam jangka waktu yang lama. Kalau tidak, kepalanya pasti sudah mendidih. Jangan tanya bagaimana merahnya iris gadis itu. Api-api amarah senantiasa muncul dalam setiap hembusan napasnya. Pokoknya wajah Orlin yang cantik—kata ayah dan ibunya—berubah mengerikan layaknya nenek sihir jika Twelve berada di dekatnya.

.

.

.

 

Ini adalah pertama Orlin di Ottori.

 

Ia terus mencoba bersosialisasi, namun entah hanya perasaannya saja, atau semua orang di sini  memang menyebalkan. Orlin tidak ingin mengotori namanya lagi seperti yang selalu ia lakukan di sekolahnya dulu—ia sering menghanguskan sarana-prasarana sekolah dan dalam tingkatan paling parah, ia membakar seorang siswa yang tidak sengaja melempar bola ke kepalanya. Oh, Orlin begitu ingin melupakan wajah seram ayahnya saat itu.

 

Jadi, untuk menenangkan hatinya yang terus panas—juga mengembalikan iris hitamnya, Orlin memutuskan mencari tempat persembunyian sampai bel masuk selanjutnya berbunyi. Ya, Orlin pikir sih membolos dua jam di hari pertamanya tidak akan membawa petaka.

 

Namun Orlin salah besar, tentu saja.

 

Kaki gadis bersurai cokelat terang itu rasanya mau patah. Sekolah ini benar-benar luas! Bahkan nyaris menyerupai istana. Orlin penasaran, berapa banyak keping emas yang dihabiskan untuk membuat bangunan semegah ini.

 

Karena letaknya yang dekat pegunungan, Ottori memiliki keindahan yang berbeda dalam setiap musim. Saat pertama datang untuk tes, raja siang yang baru mengintip dari balik awan membuat siluet cahaya berpadu dengan bangunan tinggi Ottori. Menghasilkan bayangan yang tak kalah mengagumkan. Saat ia pulang dan rembulan berusaha merebut tempat sang surya, bias cahaya oranye menghiasi cakrawala. Padahal Orlin yakin cat sekolahnya itu putih. Namun karena rekayasa cahaya, bangunannya berubah warna jadi putih gading.

 

Ottori terdiri dari beberapa gedung dan menara penjaga. Gedung utama, digunakan untuk kelas, labolatorium, balai pertemuan, serta lapangan dalam ruangan yang biasa dipakai untuk olahraga, berlatih pedang dan beladiri. Sedang lapangan luar ruangan digunakan untuk latihan memanah, dan kegiatan yang membutuhkan ruang gerak luas; dihukum misalnya. Oke, abaikan yang terakhir.

 

Para siswa tinggal di asrama yang terletak di belakang bangunan utama. Ukurannya paling besar—tentu saja karena satu kamar diperuntukkan bagi seorang siswa. Ruangan seluas dua kali satu depa itu fasilitasnya cukup lengkap, omong-omong. Namun karena ujian ‘mengerikan’ yang melahap banyak nyawa para siswa, kamar-kamar kosong seringkali dirombak dan beralih fungsi.

 

Bagian dalam Ottori juga tak kalah mengagumkan. Ornamen emasnya dibuat begitu detail dengan ukiran mengagumkan di sepanjang dinding. Dekorasinya juga sederhana namun tetap mewah.

 

Orlin memang belum sempat menjelajahi seluruh sudut Ottori, namun ia telah menemukan satu ruangan kosong di lantai atas gedung utama!

 

Ruangan itu lumayan berdebu. Terdapat beberapa pasang meja dan kursi. Papan hitam serta podium mengisi bagian depan ruangan. Di bagian belakang terdapat lemari besar yang entah fungsinya untuk apa. Sepertinya bekas kelas. Orlin beberapa kali terbatuk saat partikel asing menerobos masuk hidungnya. Apa ia harus … membersihkannya?

 

Dua puluh menit dan ruangan itu bebas dari debu. Orlin duduk bersandar pada lemari. Mencoba mengembalikan energinya yang cukup terkuras. Sepertinya ia bisa menggunakan ruangan ini untuk bolos lagi nanti. Tidak sia-sia ia membersihkannya. Apa Orlin harus membawa bantal dan selimutnya jug?

 

Baru saja gadis itu memejamkan mata saat ia merasakan getaran aneh di belakangnya. Langsung saja Orlin bangkit. Mata hitamnya memindai pergerakan dari pintu lemari. Orlin sudah siap dengan percikan api di setiap ujung jemarinya saat pintu lemari tiba-tiba terbuka.

 

Uhuk, uhuk, hei, apa kau mau membunuhku? Uhuk, uhuk.”

 

Orlin bahkan lupa cara berkedip. Di hadapannya ini, duduk meringkuk seorang lelaki di dalam lemari. Surainya pirang, kontras dengan iris birunya. Setelah jas merah kotak-kotak serta topi bundarnya dipadu dengan jubah putih Ottori.

 

“K-kau … manusia?”

 

Si lelaki mendelik. Kelewat sebal karena tidurnya diganggu. “Menurutmu?”

 

Orlin baru saja akan bicara saat lelaki itu menarik kembali pintu lemari. Menyisakan sedikit celah agar oksigen bisa mengisi ruang sempit tersebut. Orlin menganga. Setelah membuatnya nyaris kehilangan jantung, sekarang ia malah mengabaikannya?

 

“Hei!”

 

Orlin menarik tangkai lemari. Lantaran kelewat kesal, ia malah membuat pintu tersebut lepas dari engselnya. Orlin menatap hasil kerjanya sejenak sebelum melemparnya ke sudut ruangan. Masa bodoh! Kepalanya sedang terbakar sekarang! Si lelaki yang ditodong tatapan mengerikan dari iris merah Orlin hanya mengangkat kepalanya.

 

“Tahu tata krama tidak?”

 

Mata Orlin membola. “A-apa …?!”

 

“Aku sedang tidur loh. Seharusnya kau tidak mengangguku.”

 

Orlin meremas jubahnya. “Aku sedang marah loh. Seharusnya kau segera minta maaf jika masih ingin hidup.”

 

Si lelaki mengorek kupingnya. “Bicara apa sih? Sudah salah bukannya minta maaf.”

 

Orlin baru saja akan menendangnya saat ia sekonyong-konyong bergerak secepat kilat dan berdiri tepat di belakangnya. Lucy memutar tubuh.

 

“Anak baru, ya? Tahan dirimu kalau tidak ingin dihukum.”

 

Orlin memejamkan mata. Mencoba mengontrol napasnya namun ia bersumpah, menahan amarah sama sekali bukan keahliannya. Lagipula kuasa apinya ini berperan besar membentuk pribadinya yang temperamental.

 

Ah, aku baru ingat! Kau bahkan tadi mengancam seniormu ini di hari pertama masuk sekolah.”

 

Orlin cepat-cepat membuka mata. Ini memang hari pertamanya masuk sekolah karena kemarin ia harus menjenguk ayahnya yang baru pulang dari misi di rumah sakit. Tahu dari mana lelaki itu? Bahkan mereka baru pertama kali bertemu.

 

Si lelaki terkekeh. Nampak puas dengan wajah bingung gadis di hadapannya. Ia edarkan pandangannya pada ruang kelas tua yang sudah hilang dari jangkauan debu. “Wow, kau membersihkan ruangan ini rupanya. Lumayan juga.”

 

Orlin ingin bicara, namun campuran rasa sebal dan bingung di kepalanya malah membuatnya kesulitan merangkai kata.

 

“Namaku Twelve. Aku tahu kau sejak tadi ingin bicara banyak. Tapi rasa sebal dan bingung di kepalamu itu membuatmu sulit merangkai kata. Wah, sepertinya wajahku yang tampan ini berpotensi besar membuat kuasa apimu meledak-ledak.”

 

Netra Orlin melebar.

 

“Sepertinya kau harus belajar mengendalikan temperamen burukmu itu. Karena kita akan sering bertemu, Orlin.”

 

Satu seringai dan hidup Orlin langsung berubah panas seperti di neraka.

 

—end—

 

Miyane~ T.T harusnya aku publish kemaren T.T

Part selanjutnya mungkin di-update hari jumat/sabtu

Fict ini bakal aku update seminggu dua kali 😀 untuk jadwalnya, semoga bisa cepet nemu hari yang pas ^^

Menerima segala macam saran dan kritikan~ jan sungkan ya :3

 

See ya!

 

OtherwiseM

Advertisements