c46c88fbeb5eff0a83c3b1365302e530

WARAS

OtherwiseM present

 

[Boyfriend] Jo Kwangmin and a girl || Fluff, failed! Comedy || Ficlet (400+ words) || PG-15 ||

Katakan saja aku gila, karena di dunia ini tidak semua cinta itu waras, ‘kan?

 

.

.

.

 

Semua orang punya cerita cintanya masing-masing, ‘kan? Dan kupikir aku punya satu kisah yang menarik untuk diceritakan.

 

Ini bukan kisah cinta klasik antara seorang pangeran dan gadis biasa dalam cerita dongeng. Bukan juga kisah cinta si kodok yang berubah jadi pangeran tampan karena kecupan seorang puteri. Ini bukan dongeng seperti yang sering—terpaksa—kubacakan untuk keponakan kecil-manis-menyebalkan-ku saat ia berkunjung ke rumah.

 

Ini juga bukan cerita cinta antara si kaya dan si miskin. Si sempurna dan itik buruk rupa. Bukan cerita cinta manis ala drama yang setiap hari jadi asupan rutin adik perempuanku.

 

Oh, ayolah. Aku ini laki-laki dan paling anti dengan hal hiperbolis macam itu. Tapi cerita cintaku agaknya memang lumayan unik—bisa kubilang begitu.

 

Dia seorang gadis (tentu saja! Aku masih normal) pemilik iris gelap yang menawan. Tingkahnya teramat menggemaskan sampai aku ingin menggigit kedua kupingnya sekaligus. Dia suka sekali makan dan super cuek soal segalanya—ngomong-ngomong gadis apatis di mataku itu nampak ratusan kali lebih menarik.

 

Hari ini hari minggu, hari di mana aku bisa mengunjunginya setelah genap enam hari disibukkan dengan segunung tugas dari si dosen botak terkutuk.

 

Lejitan bersemangat di wajahku makin naik saat aku berdiri tepat di depan rumahnya. Dia sangat cantik seperti biasa. Aku suka saat ia berdiri di antara rerumputan, di bawah bias mentari. Wow, gadisku nampak begitu bersinar!

 

Mengambil ponsel di saku celana, aku menatap pantulan wajahku di sana. Menyisir rambut ke belakang dengan jemari lantas merapikan kemeja. Sesekali memastikan parfum hasil curian milik ayahku masih melekat di sana.

 

Ah, Jo Kwangmin sudah nampak sempurna sekarang.

 

“Halo!”

 

Aku menyapa riang. Satu deheman keren dan kedua tungkaiku terayun mendekatinya yang tengah menyantap kudapan kesukaannya. Agak kecewa juga sih karena ternyata Ayah sudah lebih dulu membawakan makanan favoritnya, tapi tak apa lah. Lagipula masa aku seminggu sekali berkunjung ke rumahnya tak bawa apa-apa?

 

“Bagaimana kabarmu? Seminggu ini aku sibuk sekali dan rasanya kepalaku mau pecah. Si cebol itu benar-benar ingin kubotaki.”

 

Dia tak menyahut. Mungkin kegiatan mengunyah makanan lebih menarik ketimbang memandang si tampan Kwangmin. Agak kecewa sih, tapi tak apalah. Dia kan memang begitu. Si gadis cuek yang tidak merespon segala ‘kisah-kasih di kampus’-ku yang jadi topik utama konversasi sampai mulutku berbusa.

 

Tidak apalah meski dia mengabaikanku dan beberapa kali beranjak pergi meninggalkanku.

 

Tak apalah meski dia masih saja acuh tak acuh akan eksistensiku.

 

Tak apalah meski dia tidak akan membalas perasaanku.

 

Karena aku benar-benar jatuh cinta padanya.

 

Katakan saja aku gila, karena di dunia ini tidak semua cinta itu waras, ‘kan? Karena cinta bisa kuberikan pada siapa saja, ‘kan?

 

.

.

.

 

Termasuk kerbau ternak Ayahku, ‘kan?

 

—end—

 

 

Advertisements