[RECTO-VERSO Challenge] Carnefice

121

Carnefice

OtherwiseM present

 

|| [Boyfriend] Lee Jeongmin x [Juniel] Choi Junhee || Fluff, Dark, Romance || Ficlet (900+ words) || PG-15 ||

for Jung Sangneul’s RECTO-VERSO CHALLENGE

 

cr pict. Google

 

“Oh iya, Junhee, apa kau punya sesuatu yang kausesali?”

.

.

.

 

Lee jeongmin. 17 tahun. Lelaki ceria yang cinta mati pada musik. Hanya hidup berdua dengan Ibu setelah mengalami kecelakaan.

 

Ya, itulah aku.

 

Walau duka masih melekat kuat dalam hati, tapi aku sedikit bersyukur karena Ibu tidak harus hidup sendirian. Setidaknya aku bisa memeluk erat Ibu kala tangisnya pecah sepanjang malam jika teringat akan Ayah dan kakakku.

 

Yah, aku memang sudah seharusnya bersyukur, ‘kan?

 

“Jeongmin, apa kau sibuk hari ini?”

 

Namanya Choi Junhee. Gadis tembam bersurai cokelat sepinggang ini adalah teman satu klubku. Suaranya mengalun lembut saat bicara (jangan tanya bagaimana saat ia menyanyi!). Wajah dihiasi senyum adalah ciri khasnya. Kemampuan bermain gitarnya juga tidak bisa diremehkan. Bisa dibilang, dia gadis yang lumayan sempurna. Minus tingkah kelewat gilanya yang sering membuat kepalaku pusing.

 

“Umm … sepertinya tidak ada.”

 

Binar di kedua matanya langsung muncul. “Kalau begitu, bisa temani aku ambil Panini?”

 

Tersenyum, aku mengangguk. Membiarkannya menyejajarkan langkah kami seraya bertukar senda gurau. Tak jarang ia merengek saat aku menjahilinya. Oh, biar aku beri tahu satu rahasia.

 

Aku menyukai Junhee.

 

****

 

“Panini! Akhirnya kau kembali! Aku sangat merindukamu!”

 

Ini kali kelimanya Junhee menyerukan kalimat tersebut sambil mendekap penuh cinta gitar akustik kesayangannya. Ekspresinya seperti tengah menonton konser. Dilengkapi pekikan gemas yang senantiasa keluar dari kedua belah bibirnya. Huh, apa semua gadis seperti ini?

 

“Hei, berhenti berteriak! Semua orang memerhatikan kita, tahu!”

 

Junhee tersenyum kikuk. “Habisnya aku senang sekali! Seminggu ditinggal Panini, rasanya hidupku hampa.”

 

Aku terkikik. Memang spesies aneh betulan. Bagaimana bisa aku suka orang seperti ini?

 

“Oh iya, Junhee, apa kau punya sesuatu yang kausesali?”

 

Saat menoleh, sosok Junhee yang menatap lurus ke depanlah yang kudapat. Binar di matanya perlahan redup. Apa terjadi sesuatu?

 

“Ada banyak sih. Intinya, aku menyesal tidak bersikap lebih dewasa.” Ia tersenyum kecil, namun lama-kelamaan malah berubah jadi seringaian. “Juga kenapa aku harus ketemu orang aneh sepertimu?”

 

“Aish!” Kuacak puncak kepalanya dengan brutal. Sambil sesekali mengapit lehernya dengan lenganku. “Dasar anak ini!”

 

Ya, Lee Jeongmin! Hentikan!”

 

Alih-alih menurut, aku malah mencubiti pipi tembamnya. Memutar kepalanya ke kanan dan kiri sebelum menjepit hidungnya gemas-gemas.

 

YA! LEE JEONGMIN!”

 

Oh, sepertinya Junhee akan mengamuk. Aku harus pergi sekarang.

 

YA! KEMBALI KAU LEE JEONGMIN PENDEK!”

 

*****

 

Untaian nada dari alat musik berdawai dengan leher panjangnya terdengar memenuhi kamarku yang sepi. Baru saja aku hendak menyanyi saat ponselku berdering keras. Mendengus, malas-malas aku meletakkan gitar di ranjang dan meraih benda persegi panjang tersebut. Saat kubuka, sebuah pesan dari nomor tak dikenal menyapa netraku.

 

Alisku meliuk. Rasa penasaran itu berubah jadi helaan napas saat kalimat terakhir rampung kubaca. Hah, padahal aku berniat membuat lagu malam ini. Orang itu selalu saja menghubungi di saat yang tidak tepat. Membuat mood-ku jelek saja.

 

Meraih mantel di gantungan dekat pintu, aku harus memberi banyak alasan agar Ibu mengijinkanku. Yah, alasan menolong teman yang kecelakaan memang cukup ampuh.

 

Setelah memakai helm, aku bergegas melajukan motorku melintasi pekatnya malam. Sedikit-sedikit berpikir apa yang harus dan akan kulakukan nanti. Apa akan merepotkanku atau tidak, juga apa aku bisa menepati janji Ibuku untuk pulang tidak lebih dari jam sepuluh.

 

Saat sudah sampai, sambutan ‘hangat’ kuterima dari para lelaki berjas hitam. Kalau tidak niat menyapa sebaiknya diam. Membuatku kesal saja. Melangkah dongkol, aku berusaha meredam emosiku. Kalau meledak bisa-bisa aku diomeli lagi. Hah, semuanya selalu saja merepotkan. Pintu besar di hadapanku menimbulkan decitan ngilu saat kubuka. Ruang eksekusi memang selalu begini.

 

“Datang lebih awal, seperti biasa.”

 

Suara Donghyun menyapa rungu. Aku menoleh dan mendapati senior berwajah mulus bak porselen itu sudah selesai mengenakan jubahnya. “Berapa orang?”

 

“Katanya satu. Ditembak mati. Kau mau melakukannya?”

 

Aku menghela napas. Menunggu sampai kontak mata terjalin di antara kami lantas berujar, “Serahkan saja padaku. Kau nampak tidak ingin melakukannya.”

 

Donghyun tertawa keras. “Baik, baik! Kau memang selalu mengerti aku.”

 

Tak lama, pintu diketuk.

 

“Sepertinya tamu kita sudah datang.”

 

Donghyun membuka pintu. Memersilahkan seorang petugas masuk bersama seorang lelaki berpakaian tahanan dengan borgol mengikat kedua tangannya. Rasa putus asa menyelip di antara garis wajahnya yang berkerut-kerut.

 

Donghyun meraih lembaran kertas di meja selagi sang petugas memerintahkannya duduk di bangku eksekusi. Aku memerhatikan tanpa minat. Kembali bersikap apatis. Menyingkirkan segala rasa iba yang nyaris bersarang di hati. Ya, dia orang jahat. Kenapa aku harus mengasihaninya?

 

“Usia 57 tahun. Pengusaha minuman keras yang merupakan bandar narkoba terbesar di Asia. Wah, akhirnya dieksekusi mati juga.”

 

Aku tertawa sarkasme—menemani Donghyun yang sudah lebih dulu melakukannya. Meraih pistol di laci, aku berjalan menghampiri si tahanan yang matanya terpaku pada jubin.

 

“Ada kata-kata terakhir?” tanyaku seraya menodongkan pistol tepat ke kepalanya.

 

Lelaki itu membisu. Berbutir-butir air keluar menuruni pipi yang kemudian terjun bebas membasahi pakaiannya.

 

“Tolong beritahu anakku, kalau aku begitu menyayanginya dan menyesal.”

 

Aku menghela napas. “Hanya itu saja?”

 

Ia mengangguk.

 

“Baiklah.” Secepat aku berbicara, secepat itu pula aku menarik pelatuk. Letusan peluru terdengar disusul ambruknya tubuh sang tahanan.

 

“Oh, seorang Ayah yang menyesal rupanya. Harusnya dia tidak melakukan kejahatan sebesar ini kalau tidak ingin dihukum mati. Manusia memang spesies paling aneh.” Donghyun menggerundel.

 

“Berhenti berbicara seolah kau ini bukan manusia.” Aku mengeluarkan isi peluru sebelum meletakkannya kembali di dalam laci.

 

“Tapi anaknya bersekolah di sekolah yang sama denganmu, omong-omong.”

 

Dahiku mengernyit. Leherku berputar ke arah Donghyun. Menatapnya dengan kilat penasaran. Mengabaikan si petugas yang sibuk mengurusi mayat tahanannya.

 

“Mungkin saja kau mengenalnya.”

 

“Siapa?”

 

.

.

.

 

“Choi Junhee.”

 

Oh.

 

Seketika tubuhku lemas. Aku jatuh terduduk di lantai dengan tremor melanda seluruh tubuh. Napasku berangsur berantakan.

 

Hal ini terulang lagi.

 

Ada kalanya, aku lelah menjadi seorang “aku”.

 

.

.

.

 

“Jeongmin, sebenarnya yang kusesali adalah saat aku menolak permintaan Ayahku untuk makan malam. Aku terlalu muak dengan sikapnya selama ini, padahal Ayah berusaha keras memerbaiki hubungan kami. Tapi Ayah harus dijatuhi hukuman mati.”

 

“Junhee, sebenarnya hal yang paling kusesali adalah pekerjaan sampinganku. Pekerjaan ini memang sangat membantuku secara finansial, tapi juga menghancurkan hidupku saat ‘kecelakaan’ mengharuskanku mengeksekusi mati Ayah dan Kakakku yang merupakan ketua kelompok teroris terbesar di Korea.”

 

—end—

Advertisements

14 comments

  1. Milleny · March 12, 2016

    Annyeong haseyo bebnim (?)

    Seperti biasa tulisannya kayak giginya Peceye, rapi tanpa jebret-jebret gitu, aku suka #apasihyangenggakbuateneng
    Dan, ingat pp kamu aku jadi ingat member twice lagi… ah yang keknya calon biasku itu… #pikundadakan
    Oh ya kembali ke FF, tadi aku nemu kata tidak baku, “memersilahkan”, itu harusnya “silakan” bukan “silahkan”, setau aku sih cuma itu, overall kece kok, terus juga enak dibacanya sambil minum tehbotol (?)

    GFT ya, ditunggu karya yang lain^^

    Like

    • kimminjung00 · March 12, 2016

      annyeonghaseyoh beibeh~~
      peceye yang tiang itu ? :” hihi makasih beb :*
      bhaks XD duh sampe pp-ku diinget-inget hahaha XD jyuni eonni emang canteek kok~~ kek kembarannya di sini :3 *tunjuk diri sendiri*
      owalaah~~ harusnya silakan toh daku baru tahu x3 makasih banyak beibeh :* lup yuhh~~~
      yap ^^ kamu juga ya 😛 cepet balik ke dunia epep :” kangen ngebom di penpikmu hahahah XD

      Liked by 1 person

  2. Hana · March 13, 2016

    Minjungie~ First, thanks ya udah tag. Aduh, disini Jungmin ko ngenes ya?

    Hihihi, ff kamu keren seperti biasanya! Bikin shock! Daebak!

    Liked by 1 person

    • kimminjung00 · March 15, 2016

      eonni~ :3 hihi iya nih :” si mister lawak nan cabe malah aku giniin hahaha XD
      makasih eonni ^^

      Like

  3. jungsangneul · March 13, 2016

    SIANG, IMEEEEEL! Siang-siang gini, disuguhin cerita macem gini membuatku harus memutar otak. Hff, syukurlah nggak dark-dark banget, aku bisa puyeng anemia nanti (alay maafkeun). Langsung aja ke penilaiannya ya dek xD

    1. Kesesuaian cerita dengan prompt dan konsep rectoverso
    – . Meskipun ini naskah paling bontot yang seharusnya nggak diterima, tapi aku nggak nyesel nerima naskah ini, haha. Prompt-nya juga masuk banget ke inti cerita plus disebutin pula. Poinnya dobel 🙂 Hmm, tapi untuk konsep rectoverso-nya, yaampun aku baru paham kamu ngerectoverso-in satu tokoh doang, ya. tapi okelah nggak papa, aku juga nggak kasih batasan harus ngerectoversoin yang mana. Cuma kekurangannya jadi ada di karakterisasi.

    2. Karakterisasi
    Aku… dibuat terkejut dengan karakter Jeongmin yang tiba-tiba. Tapi pekat banget kamu menceritakan karakter Jeongmin dibanding Junhee. Mungkin karena bagian sudut pandang Junhee lebih pendek dibanding Jeongmin. Jadi, yang lebih terasa adalah karakter Jeongmin. Junhee-nya kayak peran sampingan doang heuheu, soalnya dia cuma muncul sebagai pendamping Jeongmin gitu._.

    dan aku baru nyadar, gimana nasib hubungan mereka heh? Kenapa pembahasannya jadi melenceng begini hadududu, kamu kurang konsisten, dek. padahal udah oke lo topik yang diangkat.

    3. Eyd
    Nah, ada beberapa kesalahan, sebagai berikut:
    a. Kata asing seperti “aish” seharusnya di-italic
    b. Kata nggak baku seperti “huh”, “hah”, “yah”, mestinya italic
    c. Kata “ayah” jika tidak sebagai penyebutan ke orangnya tidak perlu dikapital a-nya.
    d. Lee jeongmin -> j-nya kapital, ya, soalnya satu paket.

    Sudah deh, itu saja. Aku suka idenya, cuma menyayangkan banget ending-nya kurang spesifik. Tapi, yaudah lah nggak papa, you do a great job. Semangat untuk karya-karya selanjutnya, ya.

    warm hug,

    Niswa ^^

    Liked by 1 person

    • kimminjung00 · March 15, 2016

      malem menjelang dini hari /?/ kak nis 😀
      aduh anemia XD aku malah awalnya baca amnesia /nahloh/
      iya nih kak duh :” maapkeun diriku hahah xD padahal kaknis udah unduirin deadline, eh si imel mah masih aja ngaret =.= emang ngaret nama tengahku sih kak jadi yang sabar aja ya :” jan kapok buat event dan harus nemu peserta macem hayati ini :”
      owalah~ iya ya junhee-nya kurang keperhatiin xD aku malah fokus sama jeongminnya /?/ jadilah … maapkeun diriku mbak juniel xD
      aku masih bingung sama yang penggunaan ayah gitu kak :” jadi kalo diawali kapital itu kalo lagi nyebut /?/ gitu ya? hoho~ aku mulai mengerti 😀

      makasih banyak loh kaknis ripiyunya :3 ini sangat membantu banget sekalih ihing x3
      *peyuk peyuk*
      kak nis juga semangat yaa~~~ ^.^

      Liked by 1 person

  4. @andditaa · March 14, 2016

    Meeeel~ haloo masih ingat denganku tidak? (slaps) yosh lupain aja tp ini duh kamu bisa aja bikin jeongmin yg selalu bertingkah tanpa dosa jd berdosa beneran(?) hahaha bagus imeell!! Endingnya gakpikiran loh habis jeongmin ini jaraaaang pke banget klo dijadiin dark dark gini hueehuee daku ijin share ini ff ya imel thankyou kkk

    Keep it up mel… :*

    Liked by 1 person

    • kimminjung00 · March 15, 2016

      halo kak ditaa~~~
      inget dong pasti xD tulisan kakak kece badai gitu hihi x3 duuhh aku terharu deh kakak mau berkunjung ke sini :” *peyuk*
      iya hahaha XD dia itu terlalu lawak untuk dijadikan berdosa :” /?/
      heheh xD iya, aku juga biasanya kalo buat penpik cast jeongmin suka dibully XD entah ternistakan atau apalah /?/ dia emang rada nganu /?/ kalo di-dark-in /?/ *apaan sih mel XD
      hahahah xD makasih banyak loh kak ^.^ hihi :*

      Liked by 1 person

  5. Mur · March 17, 2016

    G tau mau komen apa..
    Ini.. aduh ini apaaa.. aaaa
    Endingnya bener2 g bisa ku tebak.. ah…kamu yg trbaik dek.. hehe

    GFT ^^

    Liked by 1 person

    • kimminjung00 · March 19, 2016

      eonni~~ hehe sama-sama 😀 makasih juga ya eonni udah mau baca ^^

      Like

  6. jungsangneul · March 25, 2016

    Reblogged this on Sayap-Sayap Senja and commented:
    Juara 4 dengan nuansa gelapnya ^^

    Like

  7. lianadewintasari · March 25, 2016

    halo imel, hiyaaa kita bertemu di luar syber hehe
    ini wth sekali endingnya, maksudku lha ternyata si jeongmin ini eksekutor? yg dibunuh bapaknya junhee pula. bunuh camer/? sendiri rasanya tuh kyk apa aku penasaran.
    anyway, ini nipu banget ffnya, soalnya pertamanya kyk lucu2 fluffy gitu interaksi jeong-niel nya *dan iya begini2 aku tau soal panini kemarin habis searching2 faktanya anak aoa, si juniel gitu banget sampe namain gitarnya XD mana si jimin (klo ga salah) ngikut lagi namain gitarnya banana* lah tapi begitu akhir
    APAAN INI KOK TEMBAK2AN
    suka plot twistnya! tapi aku sendiri agak susah membayangkan profesi eksekutor yg rada2 ga resmi begini disandang seorang anak sekolah… okelah ini ff, mari tdk membawa dunia nyata ke dalamnya.
    keep writing!
    tombol likenya kok ga muncul2 sih…

    Liked by 1 person

    • kimminjung00 · April 2, 2016

      KAK LIANA~ iya nih XD hahaha jadi terharu deh :”
      aku juga penasaran :” tapi keknya jeongmin gaakan beneran bunuh kalo dia tau itu bapak mertua deh /?/ waks XD
      waks XD iya tuh juniel keknya sayang banget deh sama gitarnya XD owalah mbak jimin ._. emang gitar sama pisang itu mirip ya? aku baru tahu _ _”
      hihihi x3 aku juga ngerasanya ga logis sih kak :” yah~ idenya lagi mentok dan jadilah seperti ini wakakak XD

      makasih banyak loh kak udah mau baca ^^ hihi~~

      Like

  8. Pingback: Ficlet | OtherwiseM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s