deliriland

Deliriland

OtherwiseM present

|| [OC] Lucy and [Boyfriend] Minwoo || Fantasy, Angst || PG-15 || Ficlet (500+ words) ||

Ya, setidaknya aku pernah sekali bermimpi indah. Sebelum akhrinya dihempaskan kembali ke realita.


.

.

.

Ditemani bulir dingin yang tercurah keluar dari arak-arak awan hitam di cakralawa, dinaungi kukuhnya pohon oak, dia memberondongiku dengan tatapan yang teramat kubenci. Bibirnya mulai membiru, namun dipaksa melontarkan pertanyaan—

“Bisa kau hentikan semua ini sekarang?”

—yang membuat zat tanduk tipis di ujung jemariku menekan dampal tangan kuat-kuat.

“Tidak.” Getir terselip dalam jawabanku. Menarik napas dalam-dalam, amunisi air di kelopak mata yang sejak tadi kutahan pada akhirnya menyeruak keluar juga. Bersatu padu basahi sejumput rumput yang jadi alas berpijak bersama tangisan langit .

“Aku mohon … hentikan semuanya sebelum—“

“Apa yang kulakukan ini salah?”

“Apa?”

Kuangkat kepala dan biarkan iris biruku bersitatap dengan iris cokelat miliknya. Sedetik, dua detik, berusaha menyelami kedua bola matanya. Berusaha menemukan kembali kebahagiaan. Berusaha mengarungi lagi mimpi indah bersamanya.

“Lucy, kumohon! Kau harus pergi sebelum nyawamu—“

“Kenapa aku harus jadi pihak yang salah? Kenapa aku tidak boleh melakukan ini? Kenapa Tuhan memberiku hidup yang sebegitu sengsara, membiarkan takdir bodoh memertemukanku denganmu, lantas menghempaskanku kembali ke dunia nyata setelah apa yang sudah terjadi? Kenapa? Kenapa Tuhan begitu tidak adil padaku?!”

“Lucy … cobalah terima kenyataan.”

Cukup! Jangan tatap aku seperti itu!

“Kau sendiri yang memberiku buku itu dan membiarkanku bersamamu di sini. Lalu kenapa kau tiba-tiba menyuruhku pergi? Aku … benar-benar menyukaimu. Bahkan walau kau tidak nyata, aku tidak peduli. Aku ingin selamanya bersamamu. Aku ingin menggenggam tanganmu. Aku ingin—“

Gerakannya yang tiba-tiba menarik tubuh ringkihku ke dalam dekapannya membuatku membulatkan mata. Menahan untaian kata di ujung lidah. “Maaf, ini semua salahku. Kau sudah jatuh terlalu dalam karenaku. Maaf.”

Wewangian bunga dari tubuhnya menelusup indra penciuman. Buat tangisku menjadi setiap sekonnya. Satu hal yang kusesali, aku benar-benar tak lagi bisa melepas tautan jemari kami. Menembus dinding tipis bernama kodrat memang hal mustahil yang bisa dilakukan manusia, namun aku terus melakukannya hingga pada akhirnya tenggelam dalam kubang ilusi. Aku dan Minwoo, sampai kapan pun tidak akan pernah bersama. Tapi bayang-bayang mimpi indah memaksaku menetap di sini. Melupakan sejenak siksa yang akan kuterima saat dilempar ke realita nantinya.

“Maafkan aku. Tapi kamu harus kembali. Ini bukan duniamu. Ini bukan dunia di mana kamu akan selamanya mendapat kebahagiaan. Ini hanya delusi yang sewaktu-waktu akan merebut jiwamu. Aku tidak ingin ada korban lagi, Lucy.”

Bibirku baru saja akan bersuara saat pendar cahaya putih kelilingi tubuhku. Dalam sejemang mereka menyilaukan, dalam sejemang mereka memisahkanku dengannya, dalam sejemang mereka membawaku ke dimensi lain.

Saat kelopak mataku pelan-pelan terbuka, cahaya remang menyapa penglihatan. Aku terbangun dari barak dan menilik segala hal yang singgahi netraku. Sarang laba-laba di langit-langit, sebuah obor tergantung di tepi barak, kayu reyot yang dilahap anai-anai serta merta mengelilingiku.

Aku sudah kembali, ke kamarku yang ‘mewah’. Dengan sebuah buku hitam setebal lima senti berangkaikan huruf dari serbuk emas—

“Lucy! Kenapa kau belum bersih-bersih?! Dasar anak tidak tahu diri! Ibu menyesal tidak mengusirmu setelah Ayahmu mati! Cepat bangun dasar pemalas! Kau tidak akan dapat jatah makan kalau rumah tidak bersih dalam tiga puluh menit!”

Hardik emosi Ibu tiriku yang disertai gedor keras membuatku cepat-cepat menyembunyikannya di kolong barak. “Iya Bu! Maafkan aku!”

—yang membentuk kata Deliriland.

Ya, setidaknya aku pernah sekali bermimpi indah. Sebelum akhrinya dihempaskan kembali ke realita.

—End—

deliriland

Advertisements