tumblr_np3v28eBKJ1uwnk8go1_1280

Kelabu by OtherwiseM for BTContest

|| cast: Uchiha Sasuke & Haruno Sakura || rating: T || category:  SasuSaku AU for Fiction || Vignette ||
All character belong to Masashi Kishimoto. I Just own the storyline.

Based on prompt #21


Kita terlampau jauh berbeda. Segala polahmu selalu berhasil merubah hari kelabuku menjadi merah jambu. Sampai sebuah titik kelabu tiba  bersama derasnya rintik hujan.(S-Savers Contest: Banjir TomatCeri.)


.

.

.

Namanya Sakura.

Seorang gadis bersurai merah jambu sebahu dengan sepasang iris hijau yang menatap gembira segala sesuatu. Acap kali mengenakan gaun merah semata kaki serta jubah biru menjuntai berlambang lingkaran sebagai kebanggaannya. Suaranya mengalun nyaring seiring kedua sudut bibirnya tertarik secara cuma-cuma.

Sedang aku, seorang lelaki bersurai gelap dengan iris legam yang menatap datar segala sesuatu. Setelan jas hitam-biru serta jubah menjuntai berlambang kipas adalah busana favoritku. Berbeda dengan Sakura, kedua sudut bibirku enggan tertarik cuma-cuma. Semata-mata memerlengkap imej lelaki cuek yang kusandang sepanjang dua puluh tahun hidupku.

Namun siapa sangka kini kami tengah berdampingan di dekat bibir sungai? Ditaburi deru napas teratur, gerimis, serta sesekali gemercik akibat ulah Sakura yang melempar sembarang kerikil ke sungai, kecanggungan membungkus apik kami berdua. Sesekali, aku melirik Sakura yang berjongkok sembari memegang payung. Gadis itu tak memberi banyak atensi kepada ujung gaunnya yang mulai basah disiram rintik hujan dan bergesekan dengan rumput basah.

Sejujurnya, agak menjengkelkan juga sih. Sakura nampak acuh tak acuh dengan presensiku yang berdiri tegap di sampingnya, menggenggam sebuah payung serupa dengan miliknya. Biasanya di saat seperti ini Sakura akan memulai konversasi cuai dan tertawa sendiri layaknya orang gila—walau tak ada yang lucu sedikit pun. Atau menggodaku sedemikian rupa hingga irisku berubah merah dan hardikanku mengusir burung yang hinggap di dahan pohon.

Ya, Sakura orang yang seperti itu. Akan tetapi, khusus hari ini, ia berbeda dari yang selalu tertangkap netraku. Sakura memang masih sama secara fisik, namun hal tersebut tak kunjung melenyapkan resah yang berkubang di hati. Gadis itu cenderung menghindari kemungkinan untuk bicara dan memilih melempar tatap kosong ke riak berbagai ukuran yang muncul tanpa henti di permukaan sungai.

Lama-kelamaan, bibirku gatal juga untuk berujar satu-dua patah kata. Bagaimana pun juga, aku harus mengusir atmosfer canggung yang menyebalkan ini. Namun bukan Uchiha Sasuke namanya kalau memulai pembicaraan konyol dengan orang semacam Sakura. Kendati begitu, berdiam diri dan mencuri pandang ke arahnya juga bukan solusi dari perkara cukup pelik ini.

“Sasuke-kun.”

Suaranya mengalun samar. Membuatku—yang sudah sejak lama menunggu hal ini terjadi—kontan menoleh dan mengangkat alis.

Gadis itu tak balik menatapku seperti biasa. Manik kosongnya masih menatap batu yang lamat-lamat tenggelam tertelan air. “Aku sedang kebingungan, jadi maaf kalau kau merasa tidak nyaman dengan sikap diamku.”

Aku mengangguk paham.

Sakura meringis pelan, “Aku ingin menjadi air.”

Mengerutkan kening dengan sorot bingung, aku menuntut penjelasan tanpa bercakap. Ya, meski kurioritas nyaris melahapku bulat-bulat untuk mengajukan sebuah pertanyaan, namun aku memilih bungkam. Toh Sakura juga paham betul perangaiku yang tak banyak berkata. Gadis itu pasti akan terus bicara, mengutarakan hal yang melintas dalam benaknya. Seperti itulah kami selama ini.

“Aku sangat iri dengan air. Sebesar apapun batu yang dimasukkan, pasti mereka akan menenggelamkannya sampai ke dasar. Tak peduli berapa lama waktu yang diperlukan, dan seberapa besar air yang akan tumpah melewati wadah nantinya. Benar-benar mengagumkan, ‘kan?” Sakura memutar lehernya dan memamerkan satu senyum lebar yang sanggup membuat degup jantungku tak beraturan. Sial!

Menanggapi dengan anggukan singkat, aku membuang muka dan memilih hamparan air sebagai objek penglihatan.

Sakura menarik napas panjang, “Mereka melakukan hal itu tanpa terbebani kemungkinan untuk gagal. Aku benar-benar ingin menjadi seperti mereka.”

“Kenapa?”

Sakura menoleh cepat dengan mata membelalak. Oh, mulutku terkadang memang sulit diajak kompromi. “Wah, Sasuke-kun tumben sekali bertanya!”

Ya, mungkin yang kulakukan ini tidak sepenuhnya salah. Setidaknya binar yang semula redup di kedua manik Sakura dapat bersinar terang kembali.

Gadis itu mengulum senyum lagi, “Saat aku harus menghadapi suatu persoalan, rasa takut akan gagal terus saja menghampiriku dan membuatku enggan mencoba mengatasinya. Aku sering kesal dengan diriku sendiri, semudah itu menyerah padahal aku bisa mengatasinya dengan mudah. Coba kalau jadi air, pasti aku tidak akan pernah menyerah dan menyesali keputusanku seperti ini.”

“Memangnya apa yang kau sesali?”

Sakura tersenyum semakin lebar. Aku penasaran kenapa bibirnya tidak sobek padahal senyumnya lebar begitu. “Sasuke-kun, aku senang sekali kau bertanya terus!”

Aku malah sebal sekali karena kurioritas ini merajamku tanpa ampun.

“Sebenarnya aku tidak semenyesal itu juga sih. Karena sekarang aku akan kembali mencoba tanpa takut gagal.”

Sakura memang kerap kali membuatku berpikir sampai kepalaku berasap dengan perkataan di luar nalarnya. Hal tersebut membuatku sebal

“Kali ini, aku pasti bisa melakukannya. Ya kan, Sasuke-kun?”

***

Semenjak hari itu, sosok Sakura raib tanpa bekas.

Klan Haruno kelabakan mencari gadis itu ke segala penjuru negeri. Hilangnya putri tunggal Haruno tersebut tidak hanya membuat resah seluruh anggota klan, tetapi juga aku yang tengah berdiri tegap memandang riak sungai dengan sayu.

Jika menarik napas seratus kali dapat mengembalikan sosok riang itu dalam sekejap, aku pasti sudah melakukannya jutaan kali seperti orang sesak napas. Tak peduli tanggapan orang soal satu-satunya keturunan Uchiha yang lebih nampak seperti orang gila ketimbang lelaki cuek yang digandrungi para gadis. Kalau membuat Sakura kembali harus dengan melakukan hal konyol yang membuat perutku mual, akan tetap kulakukan.

Sayangnya, realita tidak pernah menjadi semudah membalikkan telapak tangan. Dan aku teramat mengutuk fakta tersebut.

Berbagai asumsi silih berganti memasuki kepalaku manakala kubaringkan tubuh ini ke hamparan rumput yang kemarin kami jadikan alas berpijak. Membiarkan bulir dingin yang menelusup melalui celah pepohonan mengguyurku yang terpejam.

Aku dan Sakura terlalu berbeda.

Dalam sekali tatap pun semua orang dapat memahaminya. Sikapku yang cuek dan sikap Sakura yang riang bukanlah perpaduan bagus. Sakura selalu bersabar menghadapi segala sikap negatifku seorang diri tanpa niatan dariku untuk memerlakukannya lebih baik.

Aku bukan lelaki baik, aku tahu betul hal itu tanpa orang-orang perlu berkasak-kusuk saat langkah kami beriringan di pinggiran kota. Biar begitu, tamak yang berkuasa memaksaku percaya bahwa Sakura tidak akan begitu saja meninggalkanku dan menautkan jemari dengan milik lelaki lain. Aku tahu Sakura bukan gadis seperti itu jadi kucoba untuk belajar memercayainya meski luka masa lalu masih membelenggu.

Aku bukan lelaki baik, aku tahu betul hal itu tanpa perlu melompat ke masa lalu untuk mengingat apa yang telah terjadi di masa lampau. Saat Sakura duduk memagut lutut, menutupi paras jelitanya dengan helai rambut yang menjuntai saat ia menunduk dalam-dalam. Bahu mungilnya bergetar selagi bibir yang selalu tersenyum itu beralih fungsi mengeluarkan isak tangis pilu. Hanya berjongkok di hadapannya dan menodongkan tatapan datar tanpa bicara sama sekali bukan hal yang sepatutnya dilakukan seorang lelaki sejati. Namun untuk ukuran Uchiha yang ditinggal tewas seluruh keluarganya dalam tragedi kelam, mungkin itu adalah hal terbaik yang dapat kulakukan.

Membiarkan gadis baik sepertinya memikul satu tanggul penuh seorang diri selagi aku melangkah cuek di depannya. Aku tahu aku lelaki seperti itu.

Lantas baru sekaranglah titik-titik penyesalan menelusup relung hatiku yang dipenuhi debu.

Mungkin Sakura lelah menghadapi egoku yang teramat membabi-buta?

Mungkin Sakura membenci lelaki bodoh yang tak pernah memedulikannya?

Atau … mungkin Sakura menyerah untuk menggapai tanganku?

Tidak! Sakura tidak boleh seperti itu!

Bangkit dengan terburu-buru, tekad sekepal sudah terlanjur menjadi sekeras batu. Oleh karena itu, aku akan ikut mencarinya. Ke mana pun dan sampai kapan pun.

***

Tetes air terus mengguyur Konohagakure tanpa henti. Seakan turut bersedih kehilangan sosok manis Sakura sejak minggu lalu.

Tak memberi perhatian pada suhu rendah yang terasa menusuk tulang, kedua tungkaiku terayun silih berganti menyusuri jalanan setapak menuju rumah selagi orang-orang memilih bernaung di bawah kanopi toko pun halte. Sesekali merutuki hujan yang memaksa mereka berdiam diri hingga larut begini.

Berjuang sekeras apapun, satu kabar tentang Sakura tidak berhasil kudapat. Nampaknya perkara hilangnya Sakura tertelan perkara hilangnya gulungan berharga dari Sunagakure. Menyebalkan sekali, bukan? Rasanya seperti berlari di dalam lumpur hisap. Diberi tenaga sekuat apapun, tubuhku tidak akan berhasil melewati garis finish.

Mendorong pintu dan melepas sepatu serta jubah yang basah, tubuhku bergeming sesaat setelah suatu bunyi terdengar dari arah dapur. Menuruti ratusan pertanyaan di kepala, kulangkahkan kakiku cepat-cepat dan saat pintu itu terbuka secara kasar, aku tidak dapat merasakan degup jantungku.

Tubuhku lemas. Bahkan jika tanganku tidak berhasil menggapai dinding, pasti aku sudah ambruk mencium lantai. Mataku menyalang selebar yang kubisa selagi bulir bening mulai mengisinya dan berjatuhan membasahi wajah yang terlanjur kuyup oleh air hujan. Sesak di dada sekonyong-konyong menyerangku hingga nyaris tewas kekurangan oksigen.

“Oh, Sasuke kau sudah pulang?”

Punggung itu ….

Senyum itu ….

Suara itu ….

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Kakak.”

***

“Sakura bodoh! Sakura idiot!”

Sementara bibirku merapalkan makian yang tak layak didengar, kedua dampal kakiku beradu dengan lembapnya tanah tanpa memedulikan perih akibat goresan kerikil kecil yang hasilkan cairan pekat di setiap langkahku.

Tak peduli teriakan Kak Itachi yang lambat-laun tertelan ganasnya suara hujan. Tak peduli sumpah serapah penduduk saat tubuh kami beradu begitu keras. Tak peduli likuid bening dari kedua mata yang bersatu padu dengan tetes air yang mengguyur tubuh. Perkataan Kak Itachi barusan masih terngiang di kepalaku.

“Ada seorang gadis yang menghidupkanku kembali dengan jutsu terlarang dari Sunagakure.”

Pergerakanku terhenti seluruhnya saat siluet gadis yang berbaring di dekat bibir sungai tertangkap buram netraku. Kugigit bibir keras-keras, mengutarakan racikan bengis perasaan yang membuncah.

Sakura masih sama seperti yang ada dalam ingatanku. Surai merah muda sebahu yang dibiarkan bergesekan dengan rumput. Senyum lebar yang terpatri indah di wajah pucatnya. Gaun merah yang dikuyupkan derasnya hujan.

“Sakura!” Tubuhku bergerak cepat menggapainya. Memangku kepala Sakura dengan panik.

“Ah, Sasuke-kun! Lama tidak bertemu. Apa yang kau lakukan di sini?”

“Dasar menyebalkan! Harusnya aku yang tanya, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau menghidupkan kembali Kakakku?”

Sakura terkekeh pelan, “Wah, aku senang sekali Sasuke-kun jadi banyak bicara sekarang.”

Bodoh! Masih saja bisa tertawa di saat seperti ini!

“Sasuke-kun, sekarang aku tidak merasakan penyesalan itu lagi. Aku sudah bisa melakukannya seperti air yang menenggelamkan batu. Ya, meski masih sedikit menyesal karena tidak bisa mengembalikan seluruh anggota klan Uchiha. Maafkan aku ya, Sasuke-kun.”

“Bodoh! Memangnya siapa yang menyuruhmu melakukan hal ini?!”

“Sasuke-kun, aku benar-benar lelah. Jadi tolong biarkan aku istirahat sebentar ya.”

“TIDAK! SAKURA!”

.

.

.

Hari itu berubah menjadi kelabu setelah sekian lama kebersamaan kita merubah hariku menjadi merah jambu. Bundar rembulan yang terhalangi segumpal awan hitam serta rintik air, mengguyur wajahmu, menangis untukmu. Riang kelakarmu yang semula hasilkan tawa dan senyum, berubah jadi tangis tanpa henti saat segumpal tanah dengan ganas menelan tubuh mungilmu.

.

.

.

—End—

Advertisements