[Vignette] Keyhole

images

A Fanfiction by otherwiseM

Inspired by an Urban Legend, Keyhole

|| Lee Jeongmin (Boyfriend) || Horror, Thriller || Vignette || PG-15 || 

Tuan, apa pun yang terjadi, tolong jangan hiraukan kamar paling ujung yang tidak memiliki nomor.


Yeoboseyo.”

          “Yeoboseyo, Jeong Min-ssi, kamu masih di mana?”

“Jalan menuju Seoul. Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa …,”-suara di seberang sana terdengar memelan, kedua mata sipitku memicing tatkala cahaya yang cukup terang menerpa indera penglihatanku-“istirahatlah! Aku tidak ingin kau kelelahan dan sakit saat sampai Seoul nanti!”

Sambungan terputus seketika. Aku berdecak geram lantas melepas headset putih yang semula menggantung di telingaku dengan tangan kiri sedangkan tangan kananku masih setia memegang stir. Yoo Ara. Gadis yang bekerja di perusahaan yang sama denganku. Dia gadis yang baik dan perhatian. Tapi wajahnya selalu memerah setiap kali berbicara denganku. Mungkin dia menyukaiku, hahaha.

Dengan cepat mataku mengerjap. Memang benar kata Ara, aku benar-benar kelelahan karena harus mondar-mandir seharian di Busan hanya untuk mengantarkan proposal secara langsung kepada presdir perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahan tempatku bekerja.

“Ah!” Aku memekik geram seraya memukul stir mobil dengan kesal saat mobilku berhenti begitu saja di tengah jalan. Mogok. Oke, ini adalah cerita lama yang selalu terjadi dalam hampir semua cerita horor. Andai saja mobil sialan ini berhenti tepat di sekitar areal pemakaman, aku pasti sudah gantung diri sekarang juga.

Udara dingin seketika menyeruak masuk ke dalam mobil saat aku membuka kaca jendela dan memerhatikan keadaan di sekelilingku. Benar-benae sepi. Aku pikir hanya ada aku di sini terkecuali pepohonan rindang dan suara binatang-binatang malam. Tatapanku terhenti saat sekelebat cahaya yang tidak bisa dibilang cukup terang tertangkap olehku. Gedung cukup besar yang berdiri kokoh tak jauh dari sini.

Dengan perasaan tak menentu, pada akhirnya aku memilih untuk meninggalkan mobil untuk mencari bantuan. Aku harap ada seseorang yang rela membantuku di dalam gedung sana walau aku sempat berpikir dua kali apa aku perlu ke sana atau tidak karena suasananya yang sangat tidak meyakinkan.

Gedung yang memiliki sekitar 5 lantai dengan cat yang cukup memudar tersebut, ternyata adalah sebuah penginapan. Cukup menyeramkan memang, tapi mau bagaimana lagi? Jika aku menunggu di dalam mobil dengan pemandangan luar jendela yang sangat tak mendukung seperti itu juga ‘kan tidak baik.

Beberapa detik, aku sempat terdiam di depan pintu,  hingga pada akhirnya, aku mendorong perlahan pintu kaca tersebut. Ternyata tidak seperti di bagian luar, bagian dalamnya cukup mendukung. Dekorasinya menarik, cukup banyak barang antik dan ada pula beberapa lukisan pemandangan yang bertengger di dinding berwarna oranyenya. Tapi aku hanya sedikit heran, kenapa bagian luarnya tidak diperbagus juga seperti bagian dalamnya? Oke, Lee Jeong Min, ini bukan saatnya untuk memikirkan hal semacam itu!

Kedua kakiku membawaku melangkah menuju meja resepsionis. Berharap ada seseorang pegawai penginapan yang menghampiriku. Namun nihil, ruangan ini benar-benar sepi dan kosong. Bahkan aku pikir hanya akulah makhluk hidup di sini. Arloji hitam yang melingkar di lenganku sudah menunjukkan pukul 02.00 AM KST, pantas saja.

“Maaf Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?” Suara lembut menyeruak masuk ke dalam telingaku. Sontak aku berbalik dan mendapati sesosok gadis dengan pakaian formal khas seorang resepsionis yang tengah menampakkan senyum menawannya padaku. Rambutnya yang terikat rapi, semakin menambah kecantikannya.

“Um, itu … mobilku mogok di depan, rencananya aku ingin meminta. Tapi sepertinya hanya ada kau di sini.”

Gadis itu kembali tersenyum. “Mungkin Anda bisa menunggu hingga fajar. Kebanyakan pegawai di sini mulai bekerja di pagi hari kecuali pegawai yang bekerja di malam hari.”

Ah, baiklah. Terima kasih,” sahutku membalas senyumnya, “apa masih ada kamar kosong?”

“Tunggu sebentar.” Derap kakinya yang terbalut heels berwarna hitam, terdengar memenuhi gendang telingaku. Suasananya terlalu sepi hingga hembusan napasku saja dapat terdengar dengan jelas.

“Masih ada satu kamar yang kosong lagi, Tuan. Di lantai tiga, kamar nomor 66.”

*****

Langkah kaki yang terkesan lambat, menggema memenuhi sudut koridor penginapan. Mataku menjelajah mencari sebuah pintu dengan angka 66 yang tergantung di atasnya. Selang beberapa menit, kamar yang kumaksud berhasil kutemukan.

Tanganku tergerak sendiri untuk memasukkan kunci ke dalam lubangnya, memutarnya, lalu membuka pintu hingga sebuah suara berhasil terdengar olehku. Seperti suara bisikan lirih yang tak terlalu jelas. Bulu romaku berdiri seketika, jantungku berdegup cepat dan keringat dingin mengucur perlahan dari pelipisku. Ayolah, Lee Jeong Min! Mungkin ini hanya halusinasimu karena terlalu lelah!

Aku meneguk lidah sebelum akhirnya memasuki kamar dan menutup rapat pintunya. Buru-buru aku melepas sepatuku dan merebahkan diri ke atas ranjang king size dengan balutan bed cover berwarna cream serta selimut senada.

Namun, keanehan lagi-lagi terjadi. Suara air yang menetes perlahan terdengar tiba-tiba. Jantungku yang baru saja berdetak normal, kembali berdegup kencang. Ah, mungkin berasal dari kamar sebelah.

Aku memaksakan mataku untuk terpejam, akan tetapi suara itu kembali menyeruak. Bisikan yang kini mulai terdengar jelas di telingaku.

“Tolong … aku ….”

Bulu romaku berdiri lagi, mataku melirik ke kiri. Suara itu terdengar sangat jelas dari sana. Tanpa pikir panjang, aku segera berlari keluar menuju kamar di sampingku. Kamar tanpa nomor.

“Tuan, apa pun yang terjadi, tolong jangan hiraukan kamar paling ujung yang tidak memiliki nomor.”

Ucapan resepsionis itu terngiang dengan jelas di telingaku. Aku menggeleng kuat lantas mengangkat tanganku, berniat untuk mengetuk pintu namun kuurungkan.

Entah setan macam apa yang merasuki tubuhku sekarang hingga aku mencondongkan badan untuk mengintip dari lubang pintu. Aku tahu ini memang sangat-sangat tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur penasaran dengan kamar ini. Memang benar kata orang, rasa penasaran beribu-ribu lebih besar daripada rasa takut yang teramat.

Yang berhasil kulihat hanyalah warna merah. Merah pekat seperti warna darah. Namun ada satu titik hitam yang tak terlalu besar juga tak terlalu kecil di tengahnya. Titik itu perlahan bergerak memutar 360 derajat.

“Tolong … aku ….”

Tanpa pikir panjang, aku segera berlari memasuki kamar. Melepas kembali sepatu, berbaring di ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhku, lalu berusaha untuk tidur. Demi apa pun, tubuhku bergemetar hebat. Suara itu lagi-lagi terngiang jelas di telingaku hingga akhirnya seberkas cahaya merembes masuk dari jendela.

*****

Mataku menghitam, tubuhku lemas, wajahku pucat. Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju meja resepionin. Bagaimana bisa aku pulang ke Seoul dengan keadaan seperti ini? Mana bisa aku menyetir, bahkan untuk melangkahkan kaki saja rasanya sulit.

Aku meletakkan sebuah kunci dengan angka 66 yang menggantung di ujungnya lantas tersenyum kecut. “Ada apa dengan penginapan ini? Aku mendengar suara yang terus mengusikku hingga aku tidak bisa istirahat sama sekali!”

Gadis di depanku tampak sangat terkejut. Sorot ngeri terpancar jelas dari kedua maniknya. “Maaf Tuan. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya.”

Tsk, lalu bagaimana denganku? Bagaimana bisa aku menyetir sampai Seoul dengan keadaan seperti ini? Lihat kantung mataku!”

Gadis di hadapanku menunduk. “Maaf, jika boleh, bagaimana jika salah satu pegawai di sini mengantarkan Anda sampai Seoul?”

Emosi yang semula melandaku, mereda seketika. Dengan cepat kurapikan kemeja serta dasiku, masih dengan ekspresi kesal. Sebenarnya memang hal ini jugalah yang kuharakan sehingga aku bersikap seketus itu. “Baiklah.” Ia kembali tersenyum lalu mengangkat gagang telepon. Selang beberapa menit, ia mematikannya lalu menatapku takut.

“Ada apa?”

“Maaf Tuan, apa mobil berwarna hitam yang terparkir sembarang di jalan adalah mobil Anda?” Gadis itu berujar dengan nada lembut. Namun masih terdengar bergetar bagiku. Dia seperti … ketakutan?

“Maaf jika itu mengganggu. Kau sendiri tahu ‘kan jika itu sebuah kebetulan?”

“Bukan maksud saya seperti itu …. Maaf jika saya lancang, tapi pegawai yang akan mengantar Anda, mengatakan bahwa ada sebuah tulisan berwarna merah pekat di kaca mobil Anda.”

Aku segera menatapnya dengan alis terangkat dan mata terbelalak. “Maksudmu?”

“Um … apa terjadi … hal yang … ganjal?”

“Aku mendengar suara seorang wanita meminta tolong. Kupikir ini hanyalah halusinasiku karena terlalu lelah. Tapi semuanya terdengar sangat nyata bagiku.”

Ia kembali terperanjat kaget. Terlihat jelas dari matanya yang membola dan napasnya yang terhenti. Persis seperti yang ia lakukan beberapa menit lalu.Kenapa dia? Sebenarnya ada apa?

“Apa Anda … mengintip dari lubang pintu kamar yang saya beri tahu kemarin?”

Aku mengangguk perlahan. Ekspresi yang sulit diterangkan tergambar begitu saja seiring dengan hembusan napas panjangnya.

“Sebenarnya, beberapa tahun yang lalu, di kamar tanpa nomor, ada sepasang suami-istri yang menginap di sini. Aku tidak tahu bagaimana cerita jelasnya, tapi dari yang kudengar, suaminya memiliki gangguan jiwa sehingga ia membunuh istrinya dengan melilitkan selang di kamar mandi ke leher sang istri hingga ia meninggal dunia.”

Aku yang semula tercengang, kembali menampilkan ekspresi biasa sembari sedikit tertawa. Lebih tepatnya mengejeknya. Aku bergegas pergi karena kesal. Bagaimana bisa dia menakut-nakuti pengunjung penginapan dengan cerita gila seperti itu?

“Perlu Anda tahu, sebenarnya yang menginap di lantai dua hanyalan Anda seorang.”

Aku berbalik. Menatap maniknya dalam. Sorot menuntut serta terkejut kutujukan padanya.

“Aku melihatmu, kau melihatku dan kau mendengar suaraku, tapi kenapa kau tidak menolongku? Sekarang, kau akan mati bersamaku. Itu adalah kata yang tertulis di kaca mobil Anda. Maaf jika saya terlalu lancang. Tapi, wanita itu memiliki mata semerah darah.”

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s