[Oneshoot] I Hate Children

A Fanfiction by otherwiseM

|| Jo Kwangmin and Jo Youngmin (Boyfriend), Lee Dongjae (OC) || Crime, Thriller, Brothership || PG-15 || Oneshoot ||

WARNING! FULL OF BLOOD

Don’t bash, please!

Kenapa menangis, bocah malang?


Kejenuhan memenuhi segenap hati Kwang Min. PSP putih di tangannya, ia pandang dengan tatapan datar. Tak biasanya. Mengingat ia selalu berteriak saat memainkan salah satu game ‘anak kecil’ di sana.

“Dong Jae, bagaimana jika main robot?” Sesosok pemuda tampan mengulas senyum tatkala ia mengacungkan robot plastik di tangannya.

Merasa tertarik, anak laki-laki berusia 4 tahun yang notabene adalah keponakan Young Min itu segera merampasnya.

Kekesalah Kwang Min sudah mencapai puncaknya saat sang Hyung mengelus lembut puncak kepala Dong Jae. Seolah ada ribuan bara api menghanguskan hatinya, lelaki berperawakan jangkung itu menyambar mantel hitamnya kemudian melangkah menuju pintu.

Saat lengan Kwang Min terulur untuk meraih kenop pintu, suara lembut Young Min terdengar, “Kwang Min-ah, kau mau pergi ke mana?”

“Membeli minuman. Hyung mau?”

“Tidak. Berhati-hatilah!”

Sebelum sosoknya menghilanh, Kwang Min menganggukan kecil kepalanya.

Emosi Kwang Min tak kunjung reda. Sepanjang jalan, celotehan demi celotehan keluar dari mulutnya. Bahkan sesekali ia menendang beberapa benda yang tepat mengenai orang lain. Bukannya meminta maaf, Kwang Min justru balik memaki orang yang jelas-jelas adalah korban tersebut.

*****

“Dong Jae, apa kau lapar?”

Anak manis berambut cepak itu mengangguk cepat. Ia sangat menggemaskan dengan helaian rambut yang bergerak seiring anggukan bertempo cepatnya.

Young Min menarik ujung bibirnya, tangannya terulur mengelus puncak kepala Dong Jae. “Tunggu sebentar ya, Hyung akan membuat ramyeon.”

“Baiklah, Hyung!” sahut Dong Jae semangat. Sesaat setelah sosok tinggi itu menghilang di balik pintu dapur, Dong Jae kembali disibukkan dengan berbagai mainan di hadapannya.

Lama-kelamaan, rasa bosan muncul. Ternyata bermain sendirian sangat tidak mengasyikkan. Bibir mungilnya ia kercutkan, manik coklatnya menjurus pada pintu utama yang setengah terbuka.

Fokusnya teralih saat sebuah suara muncul dari balik jendela. Matanya mengerjap pelan, berusaha memperjelas penglihatannya tentang sosok penghasil suara mengganggu tersebut.

Saat rasa penasaran menguasainya, Dong Jae segera melangkahkan kedua kaki mungilnya.

Seseorang membekap mulutnya tatkala ia sudah sampai di depan pintu. Lelaki bermantel itu menarik paksa sang anak menuju halaman belakang. Tepatnya ke dalam sebuah gudang. Gudang yang berisikan berbagai perabot tak terpakai.

Dengan sorot tajam, ia menyeringai. Mata dan wajahnya memerah. Seolah kehilangan kontrol.

“K-Kwang Min Hyung. . . .” Melihat pemandangan seperti itu, Dong Jae mulai menangis tanpa suara. Berdoa dalam hati dan memanggil sang ibu. Berharap seseorang bisa membawanya pergi dari sini.

Kwang Min berjongkok. Meraih dagu Dong Jae. “Kenapa menangis, bocah malang?” Lantas menghempaskannya begitu saja. Membuat anak itu terjatuh tepat di atas puluhan paku yang semula telah disiapkannya.

Dong Jae meronta kesakitan. Darah segar mengalir deras dari kepalanya. Mungkin kepalanya bocor akibat tusukan paku, mengingat suara keras yang ditimbulkan saat benturan antara kepala dan paku itu terjadi. Tapi Kwang Min tak peduli. Ia merasa bersyukur karena berhasil mendengar rintihan pilu tersebut.

Kwang Min melepas mantelnya. Membiarkan tubuh kekarnya diterpa angin musim dingin. Tak perlu waktu lama, Kwang Min segera menggendong kemudian melempar Dong Jae kasar ke dalam sebuah tong berisi barang bekas yang notabene terbuat dari besi yang sudah berkarat.

Air mata dan teriakan memilukan tak mampu membuat Kwang Min iba. Ia meneruskan aksinya dengan mencekik leher Dong Jae hingga remuk. Saat merasa sudah tak ada kehidupan lagi, Kwang Min mencolok ganas kedua bola mata bocah tersebut hingga darah segar memenuhi jemari lentiknya.

Tak sampai di sini, saat sudut matanya menangkap serpihan kaca di sudut gudang, ia segera mengambilnya. Dengan sekali tarikan, pakaian yang digunakan Dong Jae sudah robek. Tampaklah perut mulus Dong Jae.

Seringaian itu kembali muncul saat ujung runcing kaca menembus perut mungil tersebut. Ada secuil penyesalan di hati Kwang Min. Seandainya tadi ia tak membunuh anak ini secepat itu, mungkin ia akan merasa lebih puas. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah berubah menjadi bubur. Mau tak mau, Kwang Min harus menikmatinya.

Lelaki itu sedikit mendengus. Tangannya menarik usus Dong Jae hingga terlepas dari tempatnya semula, menarik-nariknya seperti tali, lantas melilitkannya di leher Dong Jae. Memperparah kondisi tulang anak malang tersebut.

“Beruntung kukuku tak panjang,” ujarnya diselingi senyum. Beralih ke hati. Ia tak ingin memindahkannya dari posisi semula. Hanya menusuk-nusuknya dengan serpihan kaca hingga tak berbentuk.

Sejujurnya Kwang Min ingin menghancurkan tulang rusuk Dong Jae. Tapi sayang, kondisi sedang tak bersahabat. Matanya menyapu selurun gudang dengan harapan mendapat alat bantu hingga ekor matanya menangkap sebuah besi berbentuk balok.

Ia tersenyum. Tak sampai setengah menit, kini Kwang Min sudah kembali berada di hadapan Dong Jae. Ia pukul tulang rusuk sang anak seolah ia sedang bermain baseball. Menghancurkannya hanya dengan 5 pukulan.

“Ah, tidak! Paru-parunya hancur!” umpat Kwang Min kecewa.

Saat merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, Kwang Min mengakhiri permainannya dengan melayangkan tiga tinjuan super keras pada wajah sang anak, membuat tulang pipi serta hidungnya remuk seketika, bahkan wajahnya sudah tak berbentuk. Darah segar tak kunjung henti mengalir dari sekujur tubuhnya.

“Aku tak membiarkanmu merasa sakit. Aku orang baik, bukan?”

Berakhir sudah. Emosi Kwang Min sudah stabil. Lelaki berambut kelam tersebut cepat-cepat mengambil sapu tangan, membersihkan kedua tangannya dari bercak darah. Ia lantas menutupi pemandangan mengerikan tersebut dengan sehelai kain.

“Inilah alasan kenapa aku suka melakukannya pada anak kecil. Tubuh mereka terlalu mudah untuk dihancurkan.”

Kwang Min memakai kembali mantelnya. Ia melangkah keluar dengan wajah datar. Seolah tak pernah terjadi apa pun. Namun, ia dikejutkan dengan sosok Young Min yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya setelah ia menutup pintu gudang. Beruntung, Kwang Min terlalu pandai bersandiwara. Ia mengulum senyum meyakinkan.

“Tadi aku meninggalkan Dong Jae bermain di ruang tamu untuk membuat ramyeon. Tapi sekarang ia menghilang entah ke mana. Apa kau melihatnya?” tanya Young Min cemas.

“Aku tidak tahu, Hyung.”

“Sungguh?”

“Jadi kau tidak percaya dengan dongsaeng 6 menitmu ini?” Kwang Min mengercutkan bibir dengan kedua lengan yang terlipat di dada.

“Tentu saja aku memercayaimu!” potong Young Min cepat.

“Ya sudah kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam! Mungkin Dong Jae sedang bersembunyi.” Kwang Min sudah menjadi Kwang Min yang dulu. Dengan senyum merekah, ia rangkul pundak Young Min.

–End–

Flat, feel kurang -.-

Juga kurang sadis T.T

Itu yang aku rasain saat ngedit T.T

Maaf kalo mengecewakan, terutama sama Putri Eonni yang udah Title : I Hate Children

Author : Melanda Utari

Facebook : www.facebook.com/imel.chann

Casts :

Jo Kwang Min (Boyfriend)

Lee Dong Jae (OC)

Jo Young Min (Boyfriend)

Lenght : Oneshot

Genre : Crime

Rate : PG

Disclaimer : Kwangmin dan Youngmin Oppa milik Tuhan, Agensi dan fans mereka. Author hanya meminjam namanya sedangkan untuk alur, plot dan si kecil Dong Jae adalah milik author.

WARNING!! : TOLONG JANGAN BASH JO TWINS, BASH SAJA AUTHOR. JIKA READERS TIDAK KUAT, SILAHKAN LAMBAIKAN TANGAN KE LAYAR PC #PLAK XD

Annyeong!! Aduh, lama banget aku ga share ff -.-

Huwaa~ sempat galau karena merasa kemampuan menulisku menurun T.T dan aku yakin ini karena kurang banyak latihan T.T

Ini request-an Putri Eonni . . . Maaf baru share sekarang >.< berapa minggu aku nunggak nih ff? ๐Ÿ˜€ maaf eonni >.

Sebenarnya ff ini udah lama nyempil di draf, tapi modem ga bersahabat T.T bermasalah mulu . . .

Jadi aku share-nya dari hp T.T

Maaf kata asingnya ga aku italic, jadi aku meminimaliskan kata asing ๐Ÿ˜€

Oh iya, curhat dikit, ff ini terinspirasi dari kekesalan tingkat akhirku sama yang namanya anak kecil -.-

Selucu apa pun mereka, aku tetep benci!! Jadi seolah ff ini adalah pelampiasan gitu hahaha xD

Happy reading!! ^.^

.

.

Kejenuhan memenuhi segenap hati Kwang Min. PSP putih di tangannya, ia pandang dengan tatapan datar. Tak biasanya. Mengingat ia selalu berteriak saat memainkan salah satu game ‘anak kecil’ di sana.

“Dong Jae, bagaimana jika main robot?” Sesosok pemuda tampan mengulas senyum tatkala ia mengacungkan robot plastik di tangannya.

Merasa tertarik, anak laki-laki berusia 4 tahun yang notabene adalah keponakan Young Min itu segera merampasnya.

Kekesalah Kwang Min sudah mencapai puncaknya saat sang Hyung mengelus lembut puncak kepala Dong Jae. Seolah ada ribuan bara api menghanguskan hatinya, lelaki berperawakan jangkung itu menyambar mantel hitamnya kemudian melangkah menuju pintu.

Saat lengan Kwang Min terulur untuk meraih kenop pintu, suara lembut Young Min terdengar, “Kwang Min-ah, kau mau pergi ke mana?”

“Membeli minuman. Hyung mau?”

“Tidak. Berhati-hatilah!”

Sebelum sosoknya menghilanh, Kwang Min menganggukan kecil kepalanya.

Emosi Kwang Min tak kunjung reda. Sepanjang jalan, celotehan demi celotehan keluar dari mulutnya. Bahkan sesekali ia menendang beberapa benda yang tepat mengenai orang lain. Bukannya meminta maaf, Kwang Min justru balik memaki orang yang jelas-jelas adalah korban tersebut.

*****

“Dong Jae, apa kau lapar?”

Anak manis berambut cepak itu mengangguk cepat. Ia sangat menggemaskan dengan helaian rambut yang bergerak seiring anggukan bertempo cepatnya.

Young Min menarik ujung bibirnya, tangannya terulur mengelus puncak kepala Dong Jae. “Tunggu sebentar ya, Hyung akan membuat ramyeon.”

“Baiklah, Hyung!” sahut Dong Jae semangat. Sesaat setelah sosok tinggi itu menghilang di balik pintu dapur, Dong Jae kembali disibukkan dengan berbagai mainan di hadapannya.

Lama-kelamaan, rasa bosan muncul. Ternyata bermain sendirian sangat tidak mengasyikkan. Bibir mungilnya ia kercutkan, manik coklatnya menjurus pada pintu utama yang setengah terbuka.

Fokusnya teralih saat sebuah suara muncul dari balik jendela. Matanya mengerjap pelan, berusaha memperjelas penglihatannya tentang sosok penghasil suara mengganggu tersebut.

Saat rasa penasaran menguasainya, Dong Jae segera melangkahkan kedua kaki mungilnya.

Seseorang membekap mulutnya tatkala ia sudah sampai di depan pintu. Lelaki bermantel itu menarik paksa sang anak menuju halaman belakang. Tepatnya ke dalam sebuah gudang. Gudang yang berisikan berbagai perabot tak terpakai.

Dengan sorot tajam, ia menyeringai. Mata dan wajahnya memerah. Seolah kehilangan kontrol.

“K-Kwang Min Hyung. . . .” Melihat pemandangan seperti itu, Dong Jae mulai menangis tanpa suara. Berdoa dalam hati dan memanggil sang ibu. Berharap seseorang bisa membawanya pergi dari sini.

Kwang Min berjongkok. Meraih dagu Dong Jae. “Kenapa menangis, bocah malang?” Lantas menghempaskannya begitu saja. Membuat anak itu terjatuh tepat di atas puluhan paku yang semula telah disiapkannya.

Dong Jae meronta kesakitan. Darah segar mengalir deras dari kepalanya. Mungkin kepalanya bocor akibat tusukan paku, mengingat suara keras yang ditimbulkan saat benturan antara kepala dan paku itu terjadi. Tapi Kwang Min tak peduli. Ia merasa bersyukur karena berhasil mendengar rintihan pilu tersebut.

Kwang Min melepas mantelnya. Membiarkan tubuh kekarnya diterpa angin musim dingin. Tak perlu waktu lama, Kwang Min segera menggendong kemudian melempar Dong Jae kasar ke dalam sebuah tong berisi barang bekas yang notabene terbuat dari besi yang sudah berkarat.

Air mata dan teriakan memilukan tak mampu membuat Kwang Min iba. Ia meneruskan aksinya dengan mencekik leher Dong Jae hingga remuk. Saat merasa sudah tak ada kehidupan lagi, Kwang Min mencolok ganas kedua bola mata bocah tersebut hingga darah segar memenuhi jemari lentiknya.

Tak sampai di sini, saat sudut matanya menangkap serpihan kaca di sudut gudang, ia segera mengambilnya. Dengan sekali tarikan, pakaian yang digunakan Dong Jae sudah robek. Tampaklah perut mulus Dong Jae.

Seringaian itu kembali muncul saat ujung runcing kaca menembus perut mungil tersebut. Ada secuil penyesalan di hati Kwang Min. Seandainya tadi ia tak membunuh anak ini secepat itu, mungkin ia akan merasa lebih puas. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah berubah menjadi bubur. Mau tak mau, Kwang Min harus menikmatinya.

Lelaki itu sedikit mendengus. Tangannya menarik usus Dong Jae hingga terlepas dari tempatnya semula, menarik-nariknya seperti tali, lantas melilitkannya di leher Dong Jae. Memperparah kondisi tulang anak malang tersebut.

“Beruntung kukuku tak panjang,” ujarnya diselingi senyum. Beralih ke hati. Ia tak ingin memindahkannya dari posisi semula. Hanya menusuk-nusuknya dengan serpihan kaca hingga tak berbentuk.

Sejujurnya Kwang Min ingin menghancurkan tulang rusuk Dong Jae. Tapi sayang, kondisi sedang tak bersahabat. Matanya menyapu selurun gudang dengan harapan mendapat alat bantu hingga ekor matanya menangkap sebuah besi berbentuk balok.

Ia tersenyum. Tak sampai setengah menit, kini Kwang Min sudah kembali berada di hadapan Dong Jae. Ia pukul tulang rusuk sang anak seolah ia sedang bermain baseball. Menghancurkannya hanya dengan 5 pukulan.

“Ah, tidak! Paru-parunya hancur!” umpat Kwang Min kecewa.

Saat merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, Kwang Min mengakhiri permainannya dengan melayangkan tiga tinjuan super keras pada wajah sang anak, membuat tulang pipi serta hidungnya remuk seketika, bahkan wajahnya sudah tak berbentuk. Darah segar tak kunjung henti mengalir dari sekujur tubuhnya.

“Aku tak membiarkanmu merasa sakit. Aku orang baik, bukan?”

Berakhir sudah. Emosi Kwang Min sudah stabil. Lelaki berambut kelam tersebut cepat-cepat mengambil sapu tangan, membersihkan kedua tangannya dari bercak darah. Ia lantas menutupi pemandangan mengerikan tersebut dengan sehelai kain.

“Inilah alasan kenapa aku suka melakukannya pada anak kecil. Tubuh mereka terlalu mudah untuk dihancurkan.”

Kwang Min memakai kembali mantelnya. Ia melangkah keluar dengan wajah datar. Seolah tak pernah terjadi apa pun. Namun, ia dikejutkan dengan sosok Young Min yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya setelah ia menutup pintu gudang. Beruntung, Kwang Min terlalu pandai bersandiwara. Ia mengulum senyum meyakinkan.

“Tadi aku meninggalkan Dong Jae bermain di ruang tamu untuk membuat ramyeon. Tapi sekarang ia menghilang entah ke mana. Apa kau melihatnya?” tanya Young Min cemas.

“Aku tidak tahu, Hyung.”

“Sungguh?”

“Jadi kau tidak percaya dengan dongsaeng 6 menitmu ini?” Kwang Min mengercutkan bibir dengan kedua lengan yang terlipat di dada.

“Tentu saja aku memercayaimu!” potong Young Min cepat.

“Ya sudah kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam! Mungkin Dong Jae sedang bersembunyi.” Kwang Min sudah menjadi Kwang Min yang dulu. Dengan senyum merekah, ia rangkul pundak Young Min.

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s