[Oneshoot] Finally …

A Fanfiction by otherwiseM

Req by Nidya Putri Martini

|| Lee Jeongmin (Boyfriend) and Hwang Minrin (OC) || Comedy, Romance, School Life, Fluff || Oneshoot || PG-13 ||

Lee Jeongmin, kau tahu tidak betapa aku membencimu selama ini?


“Minrinrin!”

Namanya Lee Jeongmin. Lelaki bersurai cepak kelam yang melambai bagaikan kain setiap berlari menghampiriku, mata sipit yang menghilang saat tersenyum terlebih tertawa, hidung mancung, serta tubuh tidak terlalu tinggi.

Namanya Lee Jeongmin. Lelaki lawak super tidak tahu malu yang tak kuketahui mengapa harus berada di kelas yang sama denganku tiga tahun ini–dia bahkan bilang jika mungkin kami berjodoh sehingga tak bisa terpisahkan. Sumpah, aku menahan muntah setengah pingsan mendengar celotehan melankonisnya.

Namanya Lee Jeongmin. Lelaki unik yang tidak bisa main sepak bola, makan lima mangkuk ramyeon setelah seharian mengikuti pelajaran tambahan, juga sangat menyukai musik.

“Berhenti memanggilku begitu. Aku tidak suka,” tandasku dingin ketika kedua belah bibir Jeongmin terbuka hendak meluncurkan omong kosongnya. Aku mengeluarkan headset putih dari saku, menyambungkannya pada smartphone-ku yang memutar lagu hiphop.

“Baiklah, untuk sementara kupanggil Minrinie saja ya sampai aku bisa menemukan nama kesayangan yang kau suka!” Lelaki menyebalkan ini melepas headset yang semula menyumpal telinga kiriku lantas memakainya tanpa izin. Hei–akh, sudahlah. Aku lelah jika harus mengomel. Terlebih ini perpustakaan, dan baru kusadari beberapa pasang mata pandangi kami risih.

Aku sudah terlanjur kesal. Emosi yang kian menumpuk kala melihat binar matanya yang bersirobok dengan milikku, buat tangan ini dengan kasar mencopot headset di telinganya dan melesat pergi tanpa sepatah kata perpisahan.

“Hei, Minrinie!”

*****

“Aku ini bukan besi dan kau bukan magnet! Berhenti mengikutiku dan menempeliku seharian seperti perekat sepatu!”

Dapat kukonklusikan bahea kata ‘letih’, tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Lee Jeongmin. Sepertinya dia akan mampu berlari 5 keliling lapangan setelah menaiki sejuta undakan tangga kuil. Dia juga sepertinya akan tetap tersenyum meski dituduh buang angin. Lee Jeongmin tampak akan cuek meski celananya robek di bagian bokong. Dia sungguh … asdfghjkl. Tak bisa kudeskripsikan dengan kata-kata.

Botol yang dipegangnya agak kisut setelah ia bawa berlari dari kanting ke lapangan yang jaraknya tak bisa dibilang dekat. Hal itu membuatku sedikit err … kasihan? Ah, tidak! Tidak boleh kasihan jika ia masih tersenyum seperti biasa setelah aku memebentak dan mengacuhkannya seperti sapu tangan buatannya minggu lalu.

Aku sadis?

Memang sih, aku juga berpikir begitu. Tapi memangnya kalian tidak akan melakukan hal ini jika dalam posisiku?

“Ayolah, Minrinie! Nanti kau dehidrasi! Ayo diminum!” Jeongmin mengerling genit padaku, dan jika bukan karena aku tidak ingin berada di bui, sudah kupastikan mata itu terganyung di dinding kelas. Eh, aku hanya bercanda. (Tentu saja!)

“Aku punya minuman sendiri! Buatmu sajalah.”

Jeongmin berkedip tiga kali sebelum menatap bergantian aku dan botol di tangannya. “Minrinie, apa ini sungguhan? Ini bukan mimpi, ‘kan?” Jeongmin mencubit kedua pipinya yang tiba-tiba bersemu merah. “Barusah kau berkata ‘buatmu sajalah’ padaku, ‘kan? Kya, Minrinie ternyata perhatian! Hei! Hwang Minrin sekarang perhatian padaku! Akhirnya, ternyata perjuanganku tidak sia-sia!”

Jeongmin berlari sambil sesekali melompat girang. Mengenaskannya, tali sepatu panjang Jeongmin lepas dan ia harus tersandung dengan wajah yang mendarat duluan (Oh, pasti menyakitkan!). Namun walau begitu, Jeongmin segera bangkit dan berteriak-teriak setengah waras.

Aku menepuk dahi. Menyesal dengan apa yang baru saja kukatakan. Padahal aku berkata dengan begitu dingin padanya. Kenapa dia masih saja senang dan menganggap segala sisi negatif yang berusaha kutunjukkan menjadi positif? Sungguh aneh.

*****

“Minrinie! Ayo kita pulang bersama. Nanti kutraktir es krim!” Jeongmin muncul seperti Jin dalam cerita Aladin sembari merangkul bahuku. Aku refleks memekik kaget. Ya ampun, jantungku rasanya akan copot hingga aku terus memeganginya seperti ini. Terlebih Jeongmin yang tampak tak terbebani meski aku menatapnya horor.

“Ya! Jangan merangkulku! Kenapa sih kau ini hobi sekali membuat orang lain salah paham?!”

Bukannya melepas rangkulannya, Jeongmin malah semakin mengeratkan tangannya, mencekik sepertinya kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikan ini. “Mereka tidak akan salah paham karena kita ini memang sepasang kekasih, ‘kan?”

Mataku dan mulutku membuka lebar dalam waktu bersamaan. Lelaki ini gila ya? Apa katanya? Sepasang kekasih? Sejak kapan? Ya, aku sudah muak!

“Lee Jeongmin!” Aku memisahkan dii dari zona berbahaya Lee Jeongmin. Membuat jarak dengan dasar kebencian yang membelenggu kuat diriku.

Jeongmin mengerutkan alis tebalnya, memiringkan sedikit kepala. Sepertinya Tuhan memberikan kesempatan yang bagus bagiku untuk menjelaskan sejuta perasaanku padanya dengan menempatkanku dan dirinya pada terminal bus yang sepi. Bertemankan sepoi angin serta gemerlap bintang, mata tajamku menyorot miliknya yang begitu kebingungan.

“Aku ingin menyampaikan beberapa hal padamu.”

“Minrinie–”

“Pertama, jangan panggil aku seperti itu! Aku tidak suka.” Sadis memang, aku memotong begitu saja ucapannya sehingga air mukanya berubah seratus delapan puluh derajat. Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Emosiku sudah tak dapat terkontrol lagi.

“Lee Jeongmin, kau tahu tidak betapa aku membencimu selama ini? Aku benci saat kau memanggilku, mengikutiku ke mana-mana, mengusik ketenangan hidupku, tak membiarkanku sendiri meski hanya semenit. Kau selalu muncul dengan sejuta tingkahmu yang begitu bodoh di mataku. Kau bilang kau bertingkah seperti itu karena ingin menghiburku, tapi yang kau lakukan sebaliknya! Kehadiranmu dalam hidupku, adalah salah satu hal yang paling tidak kuharapkan dan kubenci dalam hidupku. Bahkan aku selalu berharap kau menghilang dari hidupku. Karena kau begitu mengganggu, Lee Jeongmin.”

Napasku terengah-engah. Jeongmin hanya menunduk dalam diam. Angin yang menerpa wajahku terasa semakin dingin saat ia mengambil napas panjang-panjang. Kuatur napasku baik-baik agar dapat kembali normal sebelum pada akhirnya berkata–

“Aku harap kau mengerti, Lee Jeongmin.”

–lalu pergi meninggalkannya begitu saja.

*****

Lee Jeongmin menghilang.

Tepat satu hari setelah aku memaki, membentak dan meluapkan seluruh emosiku padanya.

Lee Jeongmin tidak datang pagi-pagi sekali untuk merapikan bangkuku dan tersenyum menyapa saat melihatku datang. Lee Jeongmin tidak berdalih tidak-mengerti-mata-pelajaran dan memaksaku untuk mengajarinya. Lee Jeongmin tidak muncul tiba-tiba di kantin, membawakan makanan manis-manis yang terpaksa kuterima. Lee Jeongmin tidak membawakan air mineral padaku saat olahraga, pun tertawa malu tatkala sepatunya lepas saat menendang bola dan sialnya mengenai kepala botak Pak Shin yang kebetulan lewat.

Mengingat betapa kasarnya aku kemarin, sebongkah perasaan bersalah mulai menjalari hatiku. Menembus hingga ke otak. Buatku tak bisa behenti menyalahkan diriku sendiri atas yang terjadi semalam. Hari ini, Junhee bilang aku banyak melamun. Juga menjadi pendiam.

Aku tidak mau mengatakannya tapi ….

Sepertinya aku merindukannya.

Aku merindukan Lee Jeongmin.

*****

Hari demi hari berlalu begitu saja. Tak ada hal menarik yang terjadi dalam hidupku setelah Lee Jeongmin menghilang seolah terbawa tornado.

Lee Jeongmin sama sekali tak memberi kabar pada pihak sekolah karena teman dekatnya, No Minwoo terlihat begitu cemas dan menggelengkan kepala saat aku tak sengaja mendengar seseorang menanyakan Lee Jeongmin padanya. Padahal jika ia sakit atau apalah itu, seharusnya Minwoo tahu apa yang terjadi. Masa iya Jeongmin tak memberinya kabar sama sekali?

Ah, benar-benar ….

Apa sih yang sudah dilakukan lelaki itu sehingga tanpa sadar aku selaly melamun saat pelajaran? Harus menerima benjolan yang tumbuh di kepala akibat benturan bola basket? Dihukum berulang kali karena tidak bisa menjawab pertanyaan guru? Memohon pada satpam agar dibukakan gerbang. Juga merasa malas melakukan apapun.

Aku tak pernah menyangka jikalau Lee Jeongmin adalah salah satu dari beberapa bocah ajaib yang tak tampak ajaib menurut fisiknya. Yang berhasil membuat seorang Hwang Minrin begitu kehilangan semangat hidupnya. Ah, sepertinya aku harus bertanya pada anak itu. Ah, aku ini konyol sekali–

“Kudengar Lee Jeongmin sakit.”

“Benarkah? Pantas saja aku tak melihatnya seminggu ini. Ah, sayang sekali. Padahal aku ingin menanyakan beberapa materi padanya.”

Apa? Sakit?

Aku berusaha menguping pembicaraan kedua siswi itu dengan menempelkan telinga di permukaan pintu. Aku tahu ini tidak sopan, tapi masalahnya ini Lee Jeongmin! Dan dia sakit!

Oke, sepertinya aku harus bertanya padanya nanti.

“Tapi kalau sakit, kenapa ia tidak memberi kabar? Membuat orang salah paham saja.”

Benar sekali! Lee Jeongmin itu menyebalkan! Selalu membuat orang lain salah paham. Tanpa sadar aku tersenyum.

“Tapi kira-kira Jeongmin sakit apa ya? Dia ‘kan tipikal orang yang jarang sakit. Biasanya juga ia akan memaksa sekolah meski kondisinya tidak baik-baik saja.”

“Aku juga tidak tahu. Mungkin karena Hwang Minrin. Kudengar sampai kini ia masih tak menghargai perjuangan Jeongmin. Ah, aku heran. Bagaimana bisa ia tak merespon sedikit pun lelaki yang begitu menyukainya setengah mati seperti itu? Padahal jarang ada lelaki seperti Lee Jeongmin.”

Aku terenyuh. Lamat-lamat menjauhkan diri dari pintu. Menatap kosong ke depan. Bayang-bayang tentang diriku yang selalu menunjukkam ketidaksukaanku terhadap kehadiran Jeongmin berputar-putar bak burung di pagi hari. Semuanya tergambar begitu jelas hingga berakhir pada saat aku membentaknya habis-habisan–tepat sehari sebelum ia benar-benar menghilang seperti ini.

“Kau benar. Wah, pasti sangat menyesal menjadi Hwang Minrin jika nanti Jeongmin menyerah.”

Aku sudah tidak kuat.

Tanpa sadar aku membuka pintu kamar mandi cukup keras, membuat kedua gadis itu menoleh kaget. Dengan wajah sedatar mungkin, aku berjalan cepat keluar. Bertepatan tanganku yang terangkat hendak meraih kenop, setitik air mata terjatuh tanpa dapat ku tolelir. Sebelum keluar, aku berbalik menatap mereka yang masih memandangku kaget. Oh, ternyata mereka si tukang gosip toilet?

Aku sedikit tersenyum. “Maaf, aku mendengar percakapan kalian.” Kemudian berlari menuju kelas untuk mengambil tas.

Aku sudah membuat keputusan.

Aku akan menemui Lee Jeongmin. Apapun resikonya.

*****

Aku pulang lebih awal dengan alibi tak enak badan dan menolak mentah-mentah tawaran Junhee untuk mengantarku pulang.

Untungnya, aku cukup hafal letak rumah Jeongmin sehingga setidaknya aku tidak akan tampak seperti anak itik yang tertukar di pasar.

Sebuah rumah terpatri jelas dengan deskripsi bertingkat dua, cat cream, serta halaman depan yang hampir penuh dihiasi tanaman. Aku menelan ludah dan jantungku mendadak berdetak tak normal.

Aku kehilangan kata-kata juga alasan mengapa aku mau bersusah payah pergi ke sini dalam kurun waktu satu sekon. Aku tidak tahu. Aku bingung. Dan kebingungan itu semakin menjadi saat sesosok lelaki di balkon tak sengaja tertangkap retinaku.

Surai gelapnya tampak elok dalam terpaan mentari yang hendak kembali ke peraduannya, juga hembusan angin yang meniup helaiannya pelan. Ia berpangku tangan menatap kosong ke langit. Dan tepat saat ia menunduk dan tanpa sadar menemui diriku yang juga sedang menatapnya, aku kehilangan ragaku.

“Minrinie–eh, HWANG MINRIN!” Suara yang kurindukan. Tanpa sadar aku menundukkan kepala dan menitikkan air mata untuk kedua kalinya hari ini. Sialnya ini semua karena si konyol Lee Jeongmin. Sepertinya aku benar-benar merindukannya. Sial!

“HWANG MINRIN! TUNGGU AKU! AKU AKAN SEGERA TURUN!” Jeongmin lagi-lagi berteriak dengan begitu semangat sampai aku tak lagi menemui sosoknya selang beberapa detik aku kembali menengadah.

Oh sial, tubuhku semakin tak bisa digerakkan! Terlebih ketika Jeongmin berlari dengan piyama pororonya yang terlihat begitu lucu. Kata konyol seolah terkunci rapat untuk mendefinisikan penampilannya kali ini.

Oh, ayolah! Jujur saja aku tak ingin mengakuinya tapi … ah! Aku tak bisa mengatakannya!

Dia tampan saat belari menghampiriku dan tersenyum seperti biasa–

YA! APA YANG TELAH KUKATAKAN??!!

“Minrinie!”

“Aku bilang jangan panggil aku dengan nama itu.” Karena merasa harga diriku jatuh sejatuh-jatuhnya di hadapan lelaki ini, kuputuskan untuk bersikap dingin meski dalam hati aku bersorak bahagia saat ia memanggilku begitu.

“Ah, maaf,” Jeongmin mengusap tengkuknya dan aku bersumpah, ia sangat asdfghjkl. Tuh ‘kan, tak dapat kudefinisikan lagi. “Lalu, apa yang membawamu ke sini? Mengkhawatirkanku ya? Wah, senangnya!”

Aku berdecak sambil menggeleng kecil. Ternyata ia masih percaya diri seperti biasa. “Kenapa kau tidak sekolah, huh?”

Selang beberapa detik, mata sipit Jeongmin melebar. “Dan sekarang kau merindukanku? Oh Tuhan, aku pasti bermimpi.” Jeongmin menepuk kedua pipinya.

“H-hei! Bertanya seperti itu bu-bukan berarti a-aku mencemaskanmu, ‘k-kan!” Sial, kenapa jadi tergagap begini?

Jeongmin tersenyum semakin lebar. Matanya menghilang dan dia sangat cute!–ya Tuhan, kurasa aku sudah gila. Berapa kali aku memujinya dalam hati hari ini?

Hening menggantung di udara. Aku memutuskan untuk menundukkan kepala menatap tanah yang terasa seolah mengejek, menginjak-injak harga diriku meski nyatanya akulah yang menginjak mereka. Sungguh, hari ini aku tampak begitu bodoh. Termasuk di hadapan benda mati.

“U-um, Minrinie–ah! Maksudku Hwang Minrin-ssi, apa kau mau masuk untuk minum teh hangat–”

Aku rasa aku sudah gila sekarang. Memotong ucapannya dengan memeluk erat tubuh kurus itu yang terasa empuk dalam balutan piyama tebal. Aku bisa merasakan detak jantung Jeongmin yang semakin kencamg saban detiknya.

Kupikir setelah ini aku akan menceburkan diri hidup-hidup di samudera atlantik, atau pergi ke negeri antah berantah, atau juga aku bisa menerjunkan diri dari Namsan Tower. Ini semua karena lelaki ini masih diam tak merespon! Kya, aku bersumpah akan gantung diri setelah ini.

Wajahku yang memerah sempurna, kusembunyikan dalam piyamanya, bahkan aku menggigit bibir bawahku hingga rasa anyir darah menyapa lidahku. Sungguh, aku ingin lenyap sekarang. Mana bisa ia terus-terusan berdiam diri seperti ini? Tak membalas pelukanku, pun mengatakan sepatah kata. Rasanya harga diriku yang sudah diinjak ribuan butir tanah, semakin diinjak benda mati termati di seluruh dunia. Memalukan.

15 menit berlalu.

“H-Hwang … Minrin-ssi ….”

“Bodoh.” Setidaknya kata itulah yang mewakili segala rasa malu setelah aku melepas pelukanku. “Kenapa kau tidak sekolah, huh? Membuat orang salah paham saja.”

Jeongmin terkekeh pelan. Wajahnya yang lebih merah dari ranselku, membuatku sangat ingin mencubitnya. “Kau benar-benar merindukanku ya sampai jauh-jauh ke sini, memelukku dan menangis seperti itu?” Jeongmin menangkup wajahku, menghapus bulir-bulir air mata yang-entah-sejak-kapan sudah membasahi pipiku. Wajahku yang berangsur normal, kembali berubah merah seperti Jeongmin saat manikku bersirobok dengan miliknya yang teduh di balik sumburat oranye di atas sana.

“Ish, menyebalkan!” Demi mengais serpihan harga diri yang beterbangan bersama angin sore, kutepis kedua tangannya dari wajahku. Namun tak lama setelahnya, si bodoh ini menangkup kembali wajahku.

“Pelukan tadi itu maksudnya apa, eoh?”

Sial! Apa di sekitar sini ada tali? Atau benda tajam juga boleh.

“Eh, um, ah, i-itu ….”

Jeongmin merespon dengan senyuman. “Ah, tak usah dijelaskan. Aku mengerti. Sepertinya perasaanku sudah terbalaskan ya!”

“Y-ya!”

Aku tidak sempat mengelak lagi ketika Jeongmin mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut keningku. “Selamat ulang tahun, Hwang Minrin-ssi yang manis.”

Aku mengerjap lama sekali sampai tidak menyadari perubahan ekspresi Jeongmin yang tampak mati-matian menahan tawa. Dan aku bersumpah demi galaknya mama Shincan, wajahnya sangat aneh!

“H-hei, ulang tahunku besok!”

“Aku tahu,” Jeongmin mengangguk tiga kali, “aku hanya ingin jadi orang pertama yang mengucapkannya.”

“Ck, kau ini.”

“Selamat ulang tahun, Hwang Minrin.” Jeongmin kembali berujar dengan nada yang lebih lembut. Dan sialnya, aku hanya bisa mematung dengan wajah merah karena ia masih menangkup wajahku!

“Hei, kau sudah mengatakannya dua kali!”

Jeongmin terkekeh kecil. “Selamat ulang tahun ya,” kemudian mengecup kembali keningku, “Hwang Minrin yang kucintai. Besok kau harus menerima hadiahku. Tidak boleh menolak, mengerti?”

*****

Aku penasaran setengah mati dengan ‘hadiah’ yang ia maksudkan tempo lalu. Begitu penasaran sampai aku tak bisa terelap semalaman, hasilkan kantung mata di dalam kantung mata di mataku. Semua rasa penasaran itu musnah ketika Junhee menyuruhku mengambil kertas liriknya yang tertinggal di atas piano.

Saat pintu terbuka, ruangan gelap itu berubah menjadi terang pada satu titik di mana seorang lelaki ber-tuxedo hitam, lengkap bersama jubah serta topeng berwarna senada memainkan piano dalam tempo lambat. Setelah ia selesai menghasilkan melodi indah dengan jemarinya yang lentik, ia menghampiriku dan memunculkan setangkai bunga mawar dari balik jubahnya.

Aku bahkan termanggu beberapa saat setelah ia merangkai kata manis sebelum akhirnya berlutut dengan bunga mawar yang tersodor padaku. Rasanya seperti mimpi setelah lelaki itu membuka topengnya dan mengulangi kata yang sama–

“Aku tak bisa melakukan hal yang lebih baik dari ini untuk menghiburmu di hari yang sangat spesial ini. Tapi maukah kau menerimaku sebagai lelaki yang akan selalu berada di sisimu untuk melakukan hal yang lebih baik kelak? Maukah kau menajadi julietku?”

–oh Tuhan, gadis mana yang tidak tahan dengan kata-kata semanis itu? Rasanya mustahil jika aku menolak. Aku juga tak bisa membohongi mataku yang bergetar menahan tangis haru, pun jantung yang serasa akan melesat pergi, ditambah tubuh yang kehilangan kendali dengan menolaknya. Karena,

Menolak = menjatuhkan bakteri di tumpukan jerami.

Yah, dan pada akhirnya aku mencintainya. Si bodoh Lee Jeongmin yang memiliki sejuta kata-kata manis di balik tindakan bodohnya yang terkadang kelewat batas.

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s