[Oneshoot/Sequel] Could We Together? … forever?

1509186_632106586853276_1833239750_n

A Fanfiction by otherwiseM

|| Lee Ji Eun (IU), Jo Kwangmin (Boyfriend), and Shim Hyunseong (Boyfriend) || Romance, Angst, Family || Oneshoot (4741 words) || PG-13 ||

Read First


Ji Eun bingung dengan bermacam-macam benda di sekitarnya. Mulai dari semerbak lavender yang terhirup tatkala ia membuka mata, setumpuk boneka pikachu yang berderet rapi di jendela, serta lelaki yang terlelap damai di sampingnya. Oh, ya! Kini gadis berambut panjang tersebut dapat mengingatnya.

Saat seorang lelaki yang-ia-tak-ketahui-namanya mengulurkan tangan dengan seulas senyum di bibirnya. Ji Eun tanpa sadar melangkah, menggenggam tangannya erat menyalurkan kecemasan di hati. Ji Eun masih mengingat dengan baik seberapa cepat jantungnya beroperasi pada saat kedua tangan mungilnya tergerak membelitkan tali di lehernya.

Dan Ji Eun dapat mengingat saat dirinya terpeleset dan otomatis tak dapat menginjakkan kaki ke permukaan. Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, Ji Eun sempat mendengar teriakan histeris seorang lelaki. Lalu semua gelap. Lelaki inilah pelakunya. Lelaki yang telah menyelamatkan hidupnya yang malang. Lelaki yang menarik gadis jahat sepertinya dari lingkarang hitam yang membelenggu hidupnya. Mengingatnya, air mata Ji Eun mengalir turun.

Gadis itu perlahan mengangkat tangannya, berusaha meraih puncak kepala si lelaki. Mengelusnya lembut. Mengutarakan rasa terima kasih yang tak dapat terangkai dalam kata-kata.

Gadis itu tak bisa berhenti, bahkan setelah lelaki di sampingnya membuka mata. “Eung …. Ah, kau sudah bangun, Ji Eun!”

Deg! Senyum itu lagi. Jantung Ji Eun berdesir begitu cepat, melebihi kecepatan ombak tsunami yang biasa memakan ribuan korban jiwa. Tak ada sepatah kata pun yang dapat Ji Eun keluarkan. Hanya saliva yang berulang kali ia telan dengan gugup yang terdengar.

“Kau haus? Biar aku ambilkan minum ya!” Lelaki itu berujar dengan begitu lembut. Setelah mengacak kecil puncak kepala Ji Eun, ia berjalan keluar dengan penuh semangat. Namanya Jo Kwang Min. Seorang lelaki yang masih tetap dapat tersenyum meski dunia menentang keberadaannya.

Kwang Min berlarian kecil menuruni tangga. Ia tersenyum saat dua buah gelas air putih berada di genggamannya. Tak ada lagi tatapan pilu tatkala Kwang Min menatap meja makan yang dipenuhi hidangan menggairahkan tanpa seorang pun duduk di sana. Yang ada hanya secercah senyum ceria yang menambahkan kekuatan cahaya sang raja siang.

“Hei, kau kenapa tidak tidur saja dan menungguku?” Kwang Min bertanya sambil mengulurkan segelas air putih saat sosok gadis mungil itu berdiri di ambang pintu kamarnya, melongok ke kanan dan kiri dengan sorot bingung.

“Apa ini rumahmu?” Alih-alih menjawab, Ji Eun malah melontarkan pertanyaan yang ditanggapi kekehan kecil Kwang Min. Gadis itu mengambil alih salah satu gelas di tangan Kwang Min, meneguknya perlahan. Membiarkan tenggorokannya terbasahi.

“Tentu saja. Memang rumah siapa lagi?”

“Terima kasih.”

“Oh ya, apa kau sudah … merasa baikan? Um, maksudku yang kemarin itu ….” Sungguh, tak ada yang dapat Kwang Min katakan lagi saat ini. Kosakata seolah lenyap dengan mudah dari otaknya. Kwang Min takut perkataannya menyinggung hati Ji Eun. Mengingat cerita memilukan yang baru dia dengar semalam. Sebenarnya ragu juga bertanya, namun apa daya jika dirinya diselubungi rasa penasaran?

“Aku merasa lebih baik. Terima kasih.” Seolah mengerti dengan ekspresi gugup Kwang Min, Ji Eun menimpalinya dengan datar. Bahkan suaranya masih dingin seperti pertama mereka bertemu.

Kwang Min bukanlah seseorang yang bisa menciptakan suasana menyenangkan untuk dirinya dan orang lain. Maka dari itu, ia mengajak Ji Eun sarapan bersama. Setidaknya untuk hari ini, Kwang Min tak merasa kesepian saat sarapan untuk pertama kali.

*****

“Kau tidak sekolah?” tanya Ji Eun saat keduanya melangkahkan kaki menyusuri kebun di belakang rumah Kwang Min.

Yang ditanya hanya menggeleng pelan. Lantas memandang paras Ji Eun. “Aku bangun terlambat hari ini. Lagipula … aku juga malas jika harus disuruh memerhatikan deretan huruf di papan tulis.”

Ji Eun menundukkan kepalanya. “Maaf, ini pasti karenaku.”

Ah, tidak! Lagipula aku memang sedang tidak bersemangat saja kok! Ji Eun tidak perlu merasa bersalah!” Dengan gesit Kwang Min membantah.

Ji Eun tersenyum kecil. Menatap Kwang Min dengan sorot kosong, lalu berpindah pada salah bunga cantik yang tumbuh di sudut taman.

“Oh iya, kita belum berkenalan secara resmi. Namaku Jo Kwang Min.” Kwang Min mengulurkan tangannya, masih dengan kedua sudut bibir yang terangkat menghasilkan senyum sempurna yang tampan juga menawan.

“A-aku … Lee Ji Eun.” Ji Eun menjabat tangan Kwang Min, gadis itu masih menunduk meski tangannya bertautan dengan milik Kwang Min.

Hening tercipta. Semilir angin muncul tiba-tiba menerpa tubuh kedua remaja sebaya tersebut. Kwang Min masih tak rela melepas jabatan tangannya, ia memilih memandang paras Ji Eun lekat-lekat. Seolah tengah merekamnya untuk dokumenter.

“M-maaf, K-Kwang Min-ssi ….” Ji Eun yang merasa agak tak nyaman, menarik tangannya perlahan dengan semburat merah muda yang menjalar di kedua pipinya. Lelaki itu langsung menggaruk tengkuknya.

“Ji Eun, bisa tidak kita terus bersama dan saling memberi semangat satu sama lain?”

Rasanya seperti terkena serangan jantung mendadak, atau ada ratusan volt listrik yang menerpa tubuhnya sekaligus hingga Ji Eun hanya bisa membatu kala sorot teduh itu memandangnya lekat-lekat. Keraguan menyelimutinya. Namun Ji Eun tetap saja menganggukkan kepala.

*****

Hari-hari di antara mereka berlalu dengan begitu menyenangkan. Meski berbeda sekolah, Ji Eun dan Kwang Min selalu bersama setelah bel pulang berbunyi. Menunggu satu sama lain saat salah satu dari keduanya masih harus menyelesaikan tugas sekolah.Ji Eun yang diusir oleh ibunya, dipaksa Kwang Min untuk tinggal di appaterment mewah miliknya. Meski awalnya menolak, namun pada akhirnya hati gadis itu menurut juga saat Kwang Min mengancamnya dengan seribu ancaman ampuh milik Jo Kwang Min

Dan sorot kosong yang selalu membingkai wajah gadis itu, tergantikan tatapan teduh yang sama dengan milik Kwang Min. Keduanya jadi lebih sering tersenyum dan tertawa. Dan jangan lupakan hal terpenting, mereka saling mencintai.

Lambat laun kecurigaan mulai merasuki pikiran kedua orang tua Kwang Min–terutama sang ayah. Mereka heran dengan anaknya yang lebih sering pulang malam (bahkan tak jarang tidak pulang sama sekali), kembali ke rumah dengan senyum merekah. Bukannya tidak ingin anak mereka senang, hanya merasa aneh saja. Mengingat sikap Kwang Min yang super dingin saat menginjakkan kaki ke rumah.

Sedangkan ibu Ji Eun, kewalahan mencari sang anak yang tak pernah menampakkan dirinya lagi sejak bulan lalu. Dan dengan kekuasaannya, ibu Ji Eun memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mencari sang anak.

Di hari yang cerah, saat matahari perlahan menampakkan tubuhnya di awal musin semi, Ji Eun berjalan dengan dua buah kantung besar di tangannya. Ternyata tak seperti yang ia pikirkan, sulit juga membawa beban sebanyak itu. Setelah memasuki appaterment, Ji Eun dikejutkan dengan ketukan kasar dari balik pintu. Gadis itu berdesis kesal.

Ya! Jangan kasar seperti itu, Kwang Mi–”

Senyum cerah yang membingkai indah wajahnya lenyap begitu saja, tergantikan dengan sepasang sorot penuh luka. Hati Ji Eun seperti dikoyak puluhan pisau dengan berbagai bentuk, begitu perih hingga gadis itu hanya bisa mematung menatap sosok wanita berambut pendek di depannya.

Luka yang semula mulai mengering, kembali membanjiri hatinya saat sebuah tamparan keras mestditerima Ji Eun di pipi kirinya. Gadis itu bahkan sudah lupa bagaimana caranya menangis. Bagaimana rasanya cairan hangat itu membelah kedua pipinya. Hingga pada akhirnya ia hanya terdiam dengan jutaan luka di hati.

“Anak bodoh! Ke mana saja kau selama ini, hah? Merayu lelaki lagi hingga diberiappaterment semewah ini?” bentak wanita itu dengan sorot menyala. Kerutan di wajahnya tampak jelas menunjukkan usianya yang sudah tak lagi muda.

“Kenapa Ibu ke mari?! Bukankah Ibu yang mengusirku? Apa sebenarnya yang Ibu inginkan?!”

Lagi-lagi tamparan keras itu memotong perkataan yang meluncur keluar dari mulut Ji Eun. Memerahlah pipi gadis itu. Dan sakitnya melebihi luka yang disirami air cuka, begitu perih hingga menusuk tulang. Tubuh mungilnya bergetar seiring air mata yang kembali berjatuhan. Kedua tangan mungilnya meremas pintu untuk menyalurkan rasa sakit yang kian menjalar tak terkendali.

“Pulanglah. Dan menikah dengan Shim Hyun Seong.” Hanya kata itu yang terdengar memenuhi kepala Ji Eun saat sosok sang ibu perlahan membalikkan tubuhnya.

“Untuk apa? Melancarkan bisnis kecil Ibu lagi? Kenapa Ibu begitu menyukai uang, sih?!”

Wanita itu menghentikan langkahnya. Ia tersenyum menyeringai sebelum akhirnya menjawab dengan nada menusuk, “Jika tidak datang lusa, mungkin kau tak dapat melihat wajah kekasihmu lagi … selamanya. Keputusan ada di tanganmu, Sayang.” Lantas kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

Ji Eun jatuh bersimpuh di lantai. Air matanya tak dapat ia tahan hingga keluar dengan begitu deras. Kwang Min. Kwang Min. Kwang Min. Berulang kali nama itulah yang terlontar pilu dari kedua belah bibirnya. Ji Eun menundukkan kepala hingga sebatas pundak, menekan-nekan dadanya yang terasa semakin sakit. Penderitaan batin, seribu kali lebih menyakitkan dibanding siksaan fisik. Dan penderitaan itu mesti Ji Eun tanggung seorang diri. Ah, tidak! Kali ini sepertinya Kwang Min juga akan terlibat. Dan Ji Eun sungguh menyesal karenanya.

“Maafkan aku … Kwang Min-ah.”

******

Inilah hal yang paling Kwang Min benci. Ia harus mengambil beberapa pasang pakaian dan buku di rumahnya. Sangat malas melihat raut wajah dingin ayahnya, ataupun ibunya yang mencoba berbagai pakaian, make up, serta perhiasan yang berkilau. Sebelum memutuskan untuk masuk, lelaki itu menghela napas panjang. Memandang mewahnya rumah itu dari beranda, lalu melangkah masuk.

Kwang Min merasa cukup tenang, setidaknya rumah ini benar-benar sepi seperti biasanya. Kwang Min mengeluarkan beberapa pasang baju kotor dari ranselnya dan mengganti dengan baju yang terlipat rapi di lemari. Lelaki itu dengan cakap memasukkan pakaian kotornya ke mesin cuci. Setelahnya, matanya bertemu pandang dengan tumpukan boneka pikachu di jendela. Sebuah senyum terhias indah di wajahnya.

Kwang Min melangkah menuju jendela, membuka tirai dan membiarkan cahaya mentari menyeruak masuk ke dalam kamarnya. Dari sini, Kwang Min dapat melihat dengan jelas hamparan bunga warna-warni yang menyapanya dengan hangat. Sehangat sinar matahari yang menerpa wajahnya.

Kwang Min jadi memikirkan Ji Eun. Mereka pertama kali mengikat janji di tengah-tengah bunga yang bermekaran itu. Kwang Min jadi ingin tahu apa yang sedang dilakukan gadis itu sekarang. Apa dia sudah makan? Apa dia sedang menonton TV? Atau bermain game? Atau mungkin bermain gitar?

Kwang Min merogoh saku, mengeluarkan ponsel dari dalam sana. Lantas mengirimi Ji Eun pesan singkat. Setelah memastikan pesannya terkirim, Kwang Min meletakkan ponselnya di meja dan kembali memasukkan beberapa barang ke dalam ransel. Telepati. Kata itulah yang muncul sekilas dalam benak Kwang Min hingga ia mengemasi barangnya dalam waktu singkat. Entah firasat atau apa, lelaki itu ingin buru-buru menemui Ji Eun dan mengajaknya jalan-jalan.

Kwang Min meraih ponselnya setelah ransel besar itu ia sampirkan di punggung. Ia menyerngit saat tak melihat balasan Ji Eun di sana. Ah, mungkin dia sedang tidur. Hihi, jadi ingin menjahilinya, pikirnya sembari terkikik.

Kwang Min membuka pintu kamar, menyembulkan kepalanya untuk memastikan keadaan. Saat dirasa benar-benar aman, lelaki itu segera menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.

            Sial!, umpat Kwang Min dalam hati saat ia berpapasan dengan sorot tajam sang Ayah. Tanpa sadar lelaki itu menghela napas panjang, dan melangkah melewati ayahnya tanpa sepatah kata yang terucap.

“Mau ke mana? Menjadi gelandangan?” Suara ayahnya yang begitu berat dan ketus, membuat Kwang Min berhenti melangkah. Bahkan tangannya yang semula terulur menggenggam gangang pintu, terlepas dengan begitu lemas. Energinya lenyap begitu saja saat Kwang Min merasakan langkah sang ayah yang mendekat.

“Ayah tak perlu cemas, aku masih bersekolah dan prestasiku pun tak turun.” Setelah berusaha membuat suaranya tak terdengar bergetar, Kwang Min membuka pintu dan lagi-lagi langkah dihentikan dengan perkataan sang ayah.

“Belajarlah di luar negeri.”

Perkataan yang begitu singkat itu, berhasil membekukan hati Kwang Min yang mulai meluluh semenjak Ji Eun berdiri di sampingnya. Kedua tangannya terkepal kuat. Cairan bening memenuhi ruang di dalam pelupuk matanya. Tapi Kwang Min tak menginginkan benda itu jatuh sekarang. Ia tak mau tampak lemah lagi. Ia tak mau kembali menjadi Kwang Min yang dulu.

“Maaf, aku ….”

“Pergi minggu depan. Ayah sudah pesankan tiket,” hardik sang Ayah sembari melangkah memasuki kamarnya.

Kwang Min membisu dengan sorot kosong. Ponselnya meluncur begitu saja dari genggaman tangannya. Kwang Min tak dapat lagi menahan air matanya. Ternyata berpura-pura kuat itu sangat melelahkan dan menyakitkan. Tapi dengan bodoh, lelaki itu tetap saja bersikap tegar di balik rasa sakitnya.

Ji Eun, tiba-tiba senyum gadis itu terbayang jelas bagaikan film dalam otaknya. Kenangan indah mereka yang terukir begitu singkat dalam satu bulan ini. Kebersamaan mereka dan pelukan hangat Ji Eun. Terpatri jelas dalam otaknya.

Kwang Min menangis, menangis, dan lagi-lagi menangis.

*****

Ji Eun memandang hamparan bintang di langit. Musim semi tiba, namun udara di sekitarnya masih terasa dingin. Terlebih hatinya. Gadis itu mengeratkan mantelnya, meniup-niupi kedua tangannya. Bangku yang biasa ia duduki bersama Kwang Min, terasa begitu dingin menusuk hati mengingat kenyataan yang harus diterimanya. Dia dan Kwang Min akan dan harus berpisah.

Kehampaan di hati Ji Eun kian menjadi saat dilihatnya sepasang kekasih yang tengah berjalan berdampingan dengan tangan saling bertautan. Seolah tak dapat dipisahkan oleh apapun. Senyum indah terukir di wajah masing-masing. Ji Eun tersenyum perih. Jujur, di lubuk hatinya yang terdalam, ia ingin seperti itu. Memiliki kehidupan normal bersama keluarga yang selalu menyayanginya dan lelaki yang dicintainya. Berpegangan tangan menyusuri jalanan setapak dengan canda tawa.

Atau setidaknya, jika permintaan Ji Eun begitu egois, biarkan ia bersama Kwang Min. Meski dunia begitu membencinya, melaknatnya dan memakinya, Ji Eun rela jika Kwang berdiri mendampinginya. Ji Eun jadi memikirkan lelaki itu. Kebodohannya yang di atas rata-rata, sikap kekanak-kanakannya, dan candaannya yang membuat Ji Eun mengerutkan dahi.

Ji Eun mengingat Kwang Min yang terpikal-pikal karena lelucon tentang ikan. Dan Ji Eun hanya memandangnya aneh lagi-lagi dengan dahi berkerut. Ji Eun tertawa sendiri mengingatnya. Namun setelahnya, ia kembali murung. Napasnya ia buang panjang-panjang.

Gadis itu kembali mendongkak. Berharap ada satu bintang yang jatuh malam ini agar ia dapat membuat permohonan. Memang konyol, tapi ia kecanduan melakukannya saat Kwang Min mengajak melakukan hal itu minggu lalu.

Dari kejauhan, Kwang Min memandang Ji Eun yang masih menatap langit gelap dengan sorot perih. Separuh jiwa gadis itu seperti lenyap terbawa angin. Kwang Min tak tahu apa yang menyebabkan Ji Eun begitu tampak sedih, namun mengingat dirinya yang akan pergi, hati Kwang Min semakin sakit.

Ini terlalu cepat, bahkan mereka baru saja mengikat janji bersama.

            “Ji Eun-ah, lihat deh bintang yang paling bersinar itu!” Kwang Min berseru sembari menunjuk salah satu bintang yang tergantung indah di langit.

            Ji Eun yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu Kwang Min, mengangguk ringan. Membiarkan surai rambutnya bergerak semaunya.

            “Bintang itu adalah kau. Kau adalah sinar paling terang di hatiku. Juga paling indah.” Kwang Min memang tak pandai merangkai kata-kata manis. Terlebih merayu seorang gadis. Namun ketulusannya, berhasil membuat gadis berambut panjang itu merasakan kegembiran yang tiada tara.

            “Tapi bukankah yang paling terang itu matahari?”

            Kwang Min menggeleng. “Matahari terlalu menyilaukan. Lagipula, matahari tidak ada di malam hari. Sedangkan bintang selalu ada, baik malam maupun siang.”

            Ji Eun mengangguk mengerti.

            “Ah, ayo kita buat perjanjian!” timpal Kwang Min girang, “berjanjilah kita akan selalu bersama sampai akhir!”

            Ji Eun tersenyum, lalu mengaitkan kelingkingnya di milik Kwang Min. Sejurus kemudian, ia kembali memandang hamparan bintang bersama Kwang Min dengan kepala yang tersandar di bahunya.

Kwang Min menghela napas. Lelaki itu masih memandangi Ji Eun dari jarak sejauh ini. Berdiri di balik pohon seperti orang bodoh.

*****

Saat itu, lingkaran sempurna menggantung indah di langit. Namun sayang, bintang tak menemaninya. Membuat sang ratu malam terpaksa menyinari bumi seorang diri. Ji Eun menggapai ponselnya yang bergetar di meja. Sebuah telepon dari nomor tak dikenal. Meski sempat ragu, pada akhirnya Ji Eun tetap menjawabnya.

“Halo.”

“Jika besok tidak pulang, jangan harap bisa melihat kembali kekasihmu.” Suara di seberang sana terdengar dingin sedingin es di kutub utara. Es yang tak akan pernah dapat mencair meski Ji Eun menaburi segumpal darahnya.

Ji Eun kesal, marah, dan frustasi. Sejak kemarin, Kwang Min sama sekali tak menemuinya. Menghubungi pun tidak. Hanya sebuah pesan singkat yang tak kunjung dibalas gadis itu.

Entah hal apa yang dilakukan Kwang Min hingga gadis ini begitu tergila-gila padanya. Sangat mencintainya hingga hasrat ingin mengakhiri hidup kembali muncul jika Kwang Min tak berada di sisinya. Selama ini, hanya Kwang Min-lah penerang hidupnya yang begitu pekat akan penderitaan. Hanya Kwang Min yang merelakan otot-otot wajahnya membentuk sebuah lengkungan indah yang mampu membuat jantung Ji Eun berpacu dengan cepat. Hanya Kwang Min-lah, alasan Ji Eun bertahan hingga saat ini.

            “Namanya Jo Kwang Min. Bersekolah di SOPA, berada di tingkat akhir dan berusia 19 tahun. Berambut hitam, tinggi–“

“CUKUP!” Ji Eun mengepalkan tangannya sekuat yang ia bisa. Hingga kuku-kukunya menembus epidermis. “Aku akan pulang malam ini juga!” Ji Eun memutuskan sambungan. Melempar ponselnya dan kembali menangis sembari memeluk lutut.

Di seberang sana, seorang wanita paruh baya tersenyum puas. Mengangkat kerutan di wajahnya hingga tampak tak begitu jelas. Setelahnya, ia menempelkan kembali ponselnya di telinga.

“Halo, Tuan Shim. Ji Eun sudah menerimanya. Tentang tempat yang Anda maksud … bisakah saya ke sana besok?”

“Oh, tentu Nyonya Lee! Saya sangat senang dengan kabar ini. Dia memang cocok sekali dengan Hyun Seong. Saya harap saya akan mendapatkan cucu secantik Ji Eun. Ya, tentu. Anda bisa ke sana kapan pun, sesuai perjanjian.”

*****

Massa Kwang Min turun drastis. Jelas saja, terhitung 5 mangkuk bubur yang ia habiskan setengahnya selama 6 hari ini. Selebihnya, waktu yang ia miliki digunakan untuk menangis. Menghasilkan alunan nada yang mencabik hati siapa pun yang mendengarnya–terkecuali ayahnya, pasti.

Kwang Min benar-benar membutuhkan gadis itu sekarang. Ia membutuhkan senyum manis Ji Eun agar setidaknya dapat melalui hari demi hari dengan sekepal semangat. Ia ingin memeluk gadis itu, menyalurkan kerinduan di hati. Namun kenyataannya, Kwang Min hanya bisa menangis. Memeluk boneka pikachunya yang sudah dipenuhi air mata dan kepedihan.

Besok, ia tak akan tersenyum pada matahari dari balik jendelanya. Besok, tak akan ada boneka pikachu sebanyak yang ia miliki di kamarnya. Besok, ia tak akan bisa menghirup udara kota Seoul. Dan besok, Kwang Min akan meninggalkan gadis itu. Jahatkah ia jika pergi begitu saja tanpa kabar? Egoiskah jika meninggalkan gadis itu sendirian di kota sebesar ini? Kwang Min berniat menulis surat saat terdengar ketukan dari balik pintu kamar. Ketukan lemah itu tak berhasil membuat Kwang Min bersingut dari balik selimutnya. Ia hanya berujar dengan nada lemah, “Masuklah. Tak dikunci.”

Tubuh seorang lelaki gemuk muncul dari balik pintu. Ayah Kwang Min menghela napas sebelum akhirnya mengahampiri Kwang Min dengan sorot sedih. “Berhentilah hidup seperti ini, Ayah mohon.”

Ini kali pertamanya Kwang Min tak mendengar nada tinggi dalam deret kata-katanya. Kali pertamanya ia tak melihat sorot penuh kebencian. Yang Kwang Min temukan adalah ketulusan seorang ayah yang tak pernah ia rasakan sebekumnya. Kwang Min dapat melihat dengan jelas tangan ayahnya yang terulur hendak mengelus kepala Kwang Min dari kaca. Namun lelaki itu mengurungkan niatnya. Gengsi? Mungkin saja.

Air mata Kwang Min menggenang.

“Ayah tak usah peduli padaku, yang penting aku akan pergi ke sana dan belajar dengan baik. Lalu, melanjutkan bisnis Ayah. Sesuai yang Ayah harap dan inginkan, bukan?”

Sang ayah pada akhirnya memutuskan duduk di tepi ranjang. Menghela napas panjang, membuang semua ketamakannya. Berusaha bersikap lembut, untuk pertama kalinya. “Maafkan Ayah yang tak bisa menjadi ayah yang baik untukmu.”

Tubuh Kwang Min melemas. Matanya membulat dan air mata berjatuhan membasahi bantal. Ia tidak salah dengar, ‘kan? Ini bukan salah satu dari jutaan fantasi gilanya, ‘kan?

“Ayah sungguh menyesal, sikap Ayah selama ini begitu kejam padamu. Ayah terlalu keras dan kasar padamu. Ayah … sungguh menyesal. Ayah benar-benar tidak tahu bagaimana memperlakulan orang dengan baik. Kau tahu sifat kakek dan nenekmu, ‘kan? Tolong maafkan Ayah, ya?”

Kwang Min perlahan membenahi posisinya hingga kini duduk menghadap sang Ayah setelah tangan kekar itu mengelus lembut puncak kepalanya. Kwang Min berusaha menerka-nerka tipu muslihat yang sedang dimainkan sang ayah. Namun nihil, lagi-lagi ketulusan yang Kwang Min dapatkan dari sepasang iris coklat itu.

“Ibumu pergi ke luar negeri meninggalkan kita. Ini salah Ayah, maafkan Ayah.” Lelaki itu menundukkan kepalanya. “Tolong jangan tinggalkan Ayah juga. Tolong jangan tinggalkan Ayah seperti kakek, nenek dan ibumu.”

Kwang Min mendekap erat tubuh ayahnya. Menangis sekencang mungkin, mengeluarkan segala beban di hatinya. Rasa senang bertambah saat sepasang tangan ayahnya mengelus punggung Kwang Min. Ini pertama kalinya, pertama kali dalam hidup seorang Jo Kwang Min, sang ayah rela ia peluk sedemikian erat. Jika ini mimpi, Kwang Min hanya berharap bahwa Tuhan tak akan membangunkannya. Selamanya.

“K-Kwang Min juga minta maaf … telah bersikap kasar … pada Ayah.”

Sang ayah tersenyum lantas mengangguk kecil. “Tidak apa-apa.”

Hening setelahnya. Yang terdengar hanya isakan sepasang ayah dan anak yang sama-sama menyesali sikapnya di masa lalu. Kini, keduanya akan membenahi diri. Menghancurkan borgol ketamakan dalam diri masing-masing. Dan memulai hidup baru bersama cahaya cerah yang menerangi carawala.

“Gadis itu … kau menyukainya?”

Kwang Min buru-buru melepaskan pelukannya. Menatap sang ayah dengan mata sembab.”Maksud Ayah … Ji Eun? Ayah mengenalnya?”

Ayah Kwang Min tersenyum, kembali mengelus kepala anaknya. “Dia gadis baik. Menikahlah dengannya setelah menyelesaikan sekolahmu di Amerika.”

“A-apa? A-ayah merestuiku?!”

“Pergilah, temui dia sebelum kau pergi besok.”

*****

Kwang Min berlari begitu kencang. Hingga di rasa otot-otot kakinya akan terlepas. Meski ia sempat menabrak beberapa orang, Kwang Min tak peduli. Meski beberapa orang memakinya dengan penuh emosi, lelaki itu tetap tersenyum. Seolah bunga sakura bermekaran di dalam tubuhnya. Kwang Min begitu senang hingga napasnya yang terputus-putus, tak membuatnya berniat menghentikan langkah.

Meski sempat ragu Ji Eun membencinya dan tak ingin menemuinya lagi, namun ternyata praduga Kwang Min salah besar. Gadis itu menerima ajakannya untuk bertemu di taman dengan senang hati. Meski dengan begitu jelas terdengar helaan napas tertahan dari gadis tersebut.

“Ji Eun!!” Kwang Min memekik pada sesosok gadis dengan balutan dress selutut, stocking hitam serta mantel buludru kuning yang duduk di salah bangku. Bangku yang spesial untuk keduanya.

“Kwang Min-ah ….” Ji Eun tersenyum lemah. Air matanya hendak turun saat Kwang Min berlari memeluknya begitu erat hingga oksigen yang terpasok olehnya menipis. Lama keduanya dengan posisi itu, hingga Ji Eun memutuskan melepaskan diri.

“Aku merindukanmu,” Kwang Min berkata sambil tersenyum.

Aku juga merindukanmu! Sangat rindu!, sorak Ji Eun dalam hati.

“Ji Eun-ah, pertama-tama aku ingin meminta maaf karena tak menemuimu seminggu ini. Aku … benar-benar kacau. Ayahku memaksaku belajar di luar negeri, dan aku mau tidak mau harus menerimanya. Kau tahu tidak bagaimana menderitanya aku karena tak bertemu denganmu? Tahu tidak rasanya merindukanmu? Uh, rasanya aku ingin mati saja. Aku benar-benar ingin melihat senyummu! Aku ingin berjalan-jalan dan memandang bintang denganmu. Sayang–”

“Kwang Min ….” Ji Eun memotong ocehan tanpa jeda Kwang Min. Jantungnya berdegup begitu kencang. Tak satu pun perkataan Kwang Min yang menempel di otaknya. Semuanya luntur bersama cairan yang menggenang di pelupuk mata.

Haruskah Ji Eun mengatakannya?

“… aku akan … menikah.”

*****

Ji Eun menghela napas. Sorotnya tak kunjung lepas dari sesosok lelaki yang tengah berjalan sempoyongan menuju halte. Tak habis pikir, pertemuan yang diniatkan untuk melepas kerinduan di hati masing-masing, harus berakhir dengan penuturan lemah dari Ji Eun. Pernyataan yang menyayat hari keduanya. Menghasilnya air mata yang berjatuhan tertelan rerumputan yang mereka pijak.

Ji Eun hanya berharap, Kwang Min bisa hidup dengan baik setelahnya. Berharap Kwang Min tak melakukan hal gila untuk mengakhiri hidupnya atau membuka situs kematian itu (dan mungkin bertemu gadis lain sebangsanya). Oh, tidak! Ji Eun tak ingin Kwang Min menyukai gadis yang akan menghasutnya untuk mati bersama (seperti yang di lakukannya). Ji Eun ingin Kwang Min bertemu dengan gadis baik yang akan membuatnya lebih dewasa. Juga gadis yang tak akan meninggalkannya dan menikah dengan orang lain (seperti dirinya).

Namun saat ia mulai berimajinasi tentang ‘Kwang Min yang bertemu gadis lain’, yang selalu muncul dalam benaknya adalah ia dan Kwan Min yang menyusuri taman penuh bunga. Manusia memang egois, ‘kan? Begitu pula dengan Ji Eun.

*****

Tubuh Kwang Min seperti dicabik-cabik puluhan serigala liar di hutan, tenggorokannya serasa dicekik petinju kelas dunia. Begitu menyakitkan hingga tubuh kurus itu terkapar begitu lemah di sofa. Pandangan Kwang Min menerawang jauh, mengingat-ingat wajah gadis itu. Tak ada senyum perpisahan, tak ada sambutan hangat. Hanya air mata yang tak kunjung henti mengalir.

“Tuan muda, tadi ada teman Tuan Muda yang berkunjung ke mari. Tapi karena Tuan Muda tidak ada, dia menyuruh Tuan Muda menelpon ke nomor ini.” Seorang wanita paruh baya meletakkan secarik kertas di meja. Kwang Min mengangguk malas.

“Katanya Tuan Muda harus cepat-cepat menghubunginya,” timpal wanita itu yang lagi-lagi disahut anggukan malas Kwang Min.

“Ya, aku akan menghubunginya jika suasana hatiku membaik.”

Bohong. Jelas-jelas hati lelaki itu hancur lebur. Begitu sulit menempelkan serpihan hatinya yang terbanting berulang kali, dan saat sedang dikumpulkan, angin berhembus begitu kencang menerbangkannya ke mana-mana. Termasuk ke tempat jauh yang tak dapat Kwang Min jangkau.

Entahlah, setelah ini apakah ia akan dapat mencintai gadis lain lagi, mengingat wajah Ji Eun-lah yang menghantuinya setiap malam. Ji Eun-lah yang menjadi pemeran utama dalam setiap cerita yang dibuatnya di alam mimpi.

*****

            5 tahun kemudian

Ji Eun menghela napas. Dengan secarik kertas di genggamannya, gadis itu membiarkan terik matahari di musim panas menusuk kulitnya. Surat perceraian yang baru disetujui pihak pengadilan membuat Ji Eun benar-benar tak mengerti dengan pola pikir lelaki bermarga Shim itu. Sejak awal, memang tak ada cinta yang menyertai mereka hingga saat ini. Mereka memang berstatus suami-istri, namun bersikap seperti teman serumah yang bersandiwara di hadapan orang tua masing-masing.

Namun Ji Eun bersyukur. Cintanya masih utuh untuk Kwang Min. Meski lelaki itu menghilang tanpa kabar setelah percakapan singkat lima tahun silam. Sejak saat itu pun, Ji Eun tak terlalu tersiksa hidup bersama Hyun Seong. Dia lelaki yang baik, perhatian, dan sangat pemalu. Hyun Seong juga sering memasakannya makanan enak, atau mengajak Ji Eun berjalan-jalan.

Dan Ji Eun menyayangi Hyun Seong. Lelaki itu tampil sebagai sosok kakak dalam hidupnya, dan Ji Eun merasa senang. Hanya saja keputusan yang baru diambil Hyun Seong minggu lalu ini, membuat Ji Eun pusing bukan main. Namun meski begitu, Hyun Seong tetaplah bersikap biasa terhadapnya. Dan Ji Eun berharap, Hyun Seong menemukan gadis baik untuk pendamping hidupnya kelak.

Ji Eun jadi memikirkan Kwang Min. Lelaki itu sedang apa ya? Apa masih bersekolah dan berada di luar negeri? Apa dia belajar dengan baik? Apa selera humornya tetap payah? Dan … apakah ia telah menemukan gadis lain?

Hah, aneh. Kenapa nona secantik kau rela duduk di sini saat sedang panas-panasnya?” tutur seorang lelaki yang tiba-tiba duduk di samping Ji Eun dengan es krim coklat di genggamannya.

Ji Eun yang masih memerhatikan surat di genggamannya hanya tersenyum tipis. “Apa pedulimu?”

“Uh, cuek sekali!”

Ya Tuhan, rasanya Ji Eun ingin melempar lelaki ini ke dalam truk es krim. Atau minimal, memolesi wajahnya dengan es krim. Huh, dasar sok peduli! Dan saat Ji Eun hendak mengomel, matanya langsung terdiam dalam satu objek. Bola matanya membesar dan Ji Eun dapat merasakan segumpal air mata mengisi pelupuk matanya.

Lelaki itu tertawa kecil. “Nona, ada apa? Reaksimu aneh sekali, ingin es krim ya?”

Tanpa basa-basi, Ji Eun merengkuh lelaki itu seerat yang ia bisa. Jantungnya berdetak kencang dan air mata akhirnya membasahi pipinya dalam satu kedipan. Ji Eun mengeluarkan isakan tertahan. Bahkan gadis itu tak menyadari noda es krim yang menghiasi dress kuningnya.

Lelaki itu tersenyum, mengangkat tangan kirinya untuk mengelus puncak kepala Ji Eun.

“Kau … pergi ke … mana? Kenapa … tak memberi … kabar? Aku … merindukanmu!”

Ya, lelaki itu adalah Kwang Min. Virus terbesar yang tak permah lepas dari pikiran Ji Eun. Sosok menyebalkan yang menghantui Ji Eun dalam setiap mimpinya. Orang bodoh yang berhasil membuat Ji Eun jatuh cinta hingga saat ini. Dan Ji Eun tak percaya jika ini benar-benar Kwang Min si penggila piakchu.

Setelah merasa puas melepas kerinduan masing-masing, Ji Eun melepas pelukannya. Menghapus air mata dengan punggung tangan lalu menatap Kwang Min. “Lho, ke mana es krimmu?”

“Aku tak bisa memeluk ‘gadis jutek’ ini jika masih memegang es krim. Jadi kubuang,” jawab Kwang Min dengan tawa ringannya. Sesekali lelaki itu memeragakan bagaimana cueknya Ji Eun tadi, dan mereka pun tertawa lepas bersama.

“Aku sangat merindukanmu.”

“Aku juga.” Kwang Min tersenyum, meraih tangan Ji Eun dan menggenggamnya erat.

Ah, sebenarnya kau belajar di mana?! Aku tetap kesal karena kau sama sekali tak mengabariku!” Tiba-tiba Ji Eun berubah menjadi bibi-bibi yang menjadi korban pencurian ikan oleh kucing. Ia menarik tangannya dari Kwang Min dan menatap lelaki itu garang.

Kwang Min sontak tertawa melihat betapa lucunya wajah Ji Eun. “Tidak ada aku, kau jadi ganas seperti ini ya? Hahaha!”

“Tentu saja! Kau pergi dan datang semaumu! Kau tidak memikirkan perasaanku! Dasar menyebalkan!”

“Maaf.” Kwang Min berhenti tertawa, menatap Ji Eun dengan sorot teduh yang teramat Ji Eun rindukan. Rasanya baru kemarin ia memimpikan Kwang Min yang menatapnya seperti itu dan tersenyum manis padanya. “Oh iya, bagaimana dengan ‘suami’-mu?”

Ji Eun menghela napas. “Dasar orang jahat! Karena kau, aku hidup seperti berada di balik bayanganmu. Terus memikirkanmu hingga rasanya rambutku rontok semua!”

“Ais, kenapa malah mengoceh?” Kwang Min jadi ingin tertawa. Mengingat dirinya yang mengoceh seperti ini dalam kondisi seperti ini dan di tempat ini ia melakukan hal yang sama dengan Ji Eun. Hanya saja Ji Eun tak secerewet dirinya, tentu.

Seringai jahil muncul tiba-tiba menghiasi wajah Kwang Min. Lelaki itu terbatuk kecil sebelum mengatakan, “Kira-kira, Ji Eun marah tidak ya kalau aku mengatakan bahwa aku dan Hyun Seong Hyung adalah teman kecil? Ji Eun marah tidak ya jika selama ini aku menyuruh Hyun Seong Hyung menjaganya? Ji Eun marah tidak ya jika aku menyuruh Hyun Seong Hyung menceraikannya setelah aku tiba di Korea? Dan Ji Eun marah tidak ya jika aku melamarnya sekarang?”

“A-apa? Ja-jadi—”

Kwang Min mengangguk, menahan tawanya mati-matian.

YA, JO KWANG MIN! KAU INGIN MATI, HAH?! BERANINYA KAU MEMBOHONGIKU DAN BERNIAT MELAMARKU SEKARANG! DASAR MENYEBALKAN! IDIOT, BODOH!”

FIN

Advertisements

3 comments

  1. Listia Arisa · February 4, 2015

    That’s nice fanfict ^_^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s