[Oneshoot] 인형

A Fanfiction by otherwiseM

|| No Minwoo (Boyfriend) and Yoo Ara (Hello Venus) || Horror, Gore, Friendship, Romance, Supernatural || Oneshoot (2000+ words) || PG-15 ||

Jeoneun Inna imnida. Eonni, ayo kita bermain!


Langkah kecil seorang gadis berambut panjang terdengar di salah satu sudut gang jalan. Ia menatap kembali arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 7 malam, lantas memasukkan kedua tangannya ke saku blazzer seragam sekolahannya. Rasa heran mulai berkelabut dalam pikirannya saat menyadari suasana yang sangat sepi ini.

Annyeonghaseyo ….” Sebuah suara nyaring khas yeoja kecil berumur 5 tahunan memenuhi telinga gadis berponi itu. Ia sontak menghentikkan langkahnya dengan mata yang membola hebat. Deru jantungnya terdengar sangat cepat.

Jeoneun Inna imnida. Eonni, ayo kita bermain!” Dengan bibir bergetar, gadis tersebut berbalik perlahan saat suara yang membuat merinding itu seolah mendekat.

Dilihatnya sebuah boneka berukuran lumayan besar yang sangat mengerikan. Sisi kanan dari boneka tersebut sangatlah bersih dan cantik. Namun, di sisi kirinya dipenuhi bercak darah segar.

Eonni mau main apa?” Perlahan boneka itu mengangkat tangan kanannya. Sebuah kapak mengkilat dengan sedikit noda darah di ujungnya berhasil ia pegang dengan sempurna. Membuat gadis di hadapannya terdiam membatu dengan tubuh yang bergemetar hebat. Ia hanya bisa membulatkan matanya sebelum pada akhirnya ia berteriak sekuat tenaga.

Kyaa!”

*****

Sesosok gadis cantik berambut panjang lurus sepinggang tampak melangkahkan kaki mungilnya memasuki kelas yang masih sepi. Hanya ada beberapa siswa di dalamnya. Sesekali gadis mungil itu menghembuskan nafasnya. Perasaannya tidak enak. Apa mungkin karena hal yang Eomma-nya bicarakan tadi? Tapi, ia merasa sedikit tenang mengingat kalung pemberian mendiang kakeknya yang saat ini dikenakannya.

Semua keturunan keluarga Yoo bukanlah manusia biasa. Mereka memiliki kemampuan khusus untuk merasakan dan melawan hal gaib yang sewaktu-waktu menyerangnya. Bahkan, Eomma Ara memiliki kemampuan lebih. Yaitu dapat muncul dan menghilang  kapan saja.

“Ara-ya!” pekik sesosok namja imut seraya berlari memasuki kelas dan terhenti tepat di hadapan Ara.

“Ada apa?” tanyanya cuek.

Namja itu menoleh ke kanan dan ke kiri. “Ayo ikut aku!” Tanpa persetujuan Ara, ia menarik tangannya begitu saja. Membuat Ara meronta kesakitan.

Minwoo menghentikan langkahnya tanpa berbalik menatap Ara. Ia perlahan melepaskan genggaman tangannya. “Ara-ya, apa aku boleh menyatakan sesuatu padamu?”

Tiba-tiba saja jantung Ara bertendum tak beraturan. Harapan-harapan mustahil mulai bermunculan di otaknya.

“A … aku,”-Minwoo cepat-cepat berbalik lantas menggenggam erat kedua tangan Ara-“aku menyukai Kwon Nara. Jebal, bantu aku agar bisa dekat dengannya!”

Serasa disambar petir, Ara hanya terdiam. Tanpa ia sadari, kepalanya terangguk kecil. Membuat Minwoo melepaskan genggamannya dan bersorak senang. Bersamaan dengan air mata Ara yang turun begitu saja dari tempatnya tanpa ada perlawanan.

*****

Ara terdiam di bangku  pojok perpustakaan. Ia masih memikirkan perasaannya dan perkataan Minwoo tadi pagi. Waktu istirahat yang biasa ia habiskan bersama Minwoo, kini ia gunakan untuk memikirkan perasaannya.

Sakit. Itulah hal pertama yang Ara rasakan. Tanpa disadari, air mata mulai berjatuhan dari pelupuk matanya. Untuk sejenak, Ara memejamkan mata lantas menangkupkan kepalanya di kedua lipatan tangannya.

Namun, ia buru-buru bangun dengan mata membola. Ara menatap ke kanan dan ke kiri. Perasaan itu … muncul lagi. Kali ini auranya sangat kuat.

Kyaa!” pekikkan para siswi mulai terdengar saat lampu tiba-tiba saja padam.

Tak lama, beberapa orang menyusul dengan menggedor pintu perpustakaan. Berharap siapa pun di luar sana dapat membukakannya. Namun keanehan terjadi. Suasana di luar masih sama seperti biasa. Bahkan satu pun siswa mau menatap pintu perpustakaan.

Annyeonghaseyo …,”-Suara anak berusia sekitar 5 tahunan mulai terdengar. Membuat semuanya terdiam tanpa suara-“jeoneun Inna imnida. Ayo bermain bersamaku!”

Hanya suara tersebut yang terdengar di balik kegelapan pekat. Tak seorang pun mau mengeluarkan suaranya walau hanya deruan nafas tak beraturan.

“Siapa yang mau bermain bersamaku?”

“Tolong nyalakan dulu lampunya!” pekik seseorang dengan suara berat. Membuat semua orang di sana membulatkan mata dengan jantung yang berdegup  cepat.

Lama sosok itu terdiam hingga suara nyaringnya kembali terdengar. “Kenapa harus dinyalakan? Akan lebih menyenangkan jika kita bermain dalam suasana seperti ini.”

“Aku tidak mau jika lampu masih belum dinyalakan!”

Semuanyakembali menegang. Mereka tak percaya dengan keberanian namjatersebut untuk membalas omongan sosok bernama Inna. Sosok yang menjadi berita utama di hampir semua koran, majalah dan saluran TV. Pembunuh berdarah dingin dengan suara yang menggemaskan.

“Banyak omong! Aku tahu kau bohong!”

Syut … bruk!!

Di balik kegelapan, sosok itu menebaskan kapaknya tepat ke kepala namja yang menentangnya. Kepalanya terguling beberapa meter hingga menabrak rak buku dan berakhir tragis di lantai.

“Ada yang ingin melawanku lagi? Aku bisa melihat kalian semua sekarang.” Suaranya yang tadi terdengar lembut, kini berubah menjadi sangat menyeramkan.

Ara yang berada di pojok perpustakaan hanya diam membatu. Walau ruangan ini sangat gelap, ia bisa merasakan hal yang tadi terjadi.

Sosok dengan tinggi sekitar 50 senti itu memutar kepalanya 360 derajat. Dengan gaun panjang dan kapak yang berlumuran darah segar, sosok tersebut perlahan mengangkat kapaknya dan menjitali darah yang tertinggal di sana.

“Darahnya pahit.”

Kyaa!” Spontan beberapa yeoja berteriak histeris. Mereka terduduk lesu di lantai dengan air mata yang tak hentinya mengalir.

“Berisik!”

Sosok itu bukanlah manusia. Ia boneka. Ya, ia adalah sebuah boneka. Boneka yang bisa membunuh siapa pun tanpa ampun. Ia melempar kapaknya dan dengan sempurna menebas seluruh kepala manusia yang dikehendakinya.

Bruk!!

Tubuh tanpa kepala mereka berjatuhan seperti nada kematian yang menyeramkan.

“10 kepala. Kurasa sudah cukup.”

Klik

Lampu kembali menyala menampakan 10 buah kepala yang berserakan di lantai dengan darah yang mengalir deras dari tubuh mereka.

Kyaa!!”

*****

Ara masih menenangkan dirinya. Setelah kejadian tersebut, ia langsung berlari ke kamar mandi dan mengurung diri hingga sekarang. Ara kembali memejamkan matanya dan bersandar di tembok.

Kliek

Suara pintu mulai terdengar oleh Ara. Membuatnya sedikit membuka pintu di hadapannya untuk mengetahui sosok yang baru saja masuk.

Namun tiba-tiba saja, sesosok yeoja berwajah hancur dengan matamenggantung dan daging busuk yang tampak jelas di pipinya muncul menutupi pandangan Ara terhadap orang tersebut. Ara buru-buru menutup pintunya kembali. Tetapi, ia merutuki dirinya karena suara yang ditimbulkan oleh aktivitasnya tadi.

“Ck, usir dia atau kau akan aku musnahkan!” gumam Ara kecil. Di detik berikutnya, mulailah terdengar teriakkan histeris dan bantingan pintu yang sangat keras.

*****

Hei, Ara-ya!”

Ara sontak mendongkakkan kepala saat seseorang meneriaki namanya dengan keras. Ia sedikit tersenyum saat mengetahui ia adalah Minwoo.

“Kau dari mana saja? Kenapa membolos?” tanyanya kesal. Namun ekspresi khawatirnya tak bisa hilang dari wajahnya.

“Tadi aku berjalan-jalan ke taman,” sanggah Ara asal.

Ck, aku dengar, ada seorang yeoja yang meminta satpam membuka gerbang sekolah dengan alasan tertidur di kamar mandi.”

Seketika Ara membulatka matanya lalu menatap Minwoo dengan tatapan, ‘Tahu dari mana kau?’.

“Aku mencemaskanmu!” seru Minwoo polos. Suasana canggung mulai menyelimuti mereka. Tanpa Minwoo sadari, wajah Ara sudah semerah tomat, “ah, kau menunggu bis, ya? Biar aku antar.”

“Tidak perlu,” sergah Ara gugup, “aku … bisa pulang sendiri.”

“Kau mau menunggu bis sampai jam berapa? Ini sudah hampir tengah malam, Ara-ya.”

Ara lagi-lagi memamerkan cengiran bodohnya. “Baiklah.” Ia segera berjalan menghampiri Minwoo dan naik ke motor sport merahnya.

“Pegangan yang erat! Kau tidak membawa mantel lagi. Apa kau tidak tahu musim apa ini?”

“Ini musim semi.”

Ya, dasar pabo!”

Pertengkaran yang hanya disebabkan mantel itu pun terjadi beberapa menit hingga Ara bungkam. Aura gelap kembali ia rasakan. Ara hanya menunduk seraya meremas jas Minwoo.

“Kenapa?”

“Ti … tidak apa-apa.”

Perasaan itu … perasaan yang berhasil membuat jantung Ara serasa berhenti berdetak. Ara seketika membulatkan matanya. Ia langsung memeluk pinggang Minwoo dengan sangat erat. “Tambah kecepatannya, kumohon!” pekiknya sekuat tenaga.

Minwoo yang mendapatkan perlakuan aneh dari sahabatnya tersebut hanya mengerutkan alis lalu menuruti perintah Ara. “Pegangan yang erat!”

Beberapa menit setelah Ara melonggarkan pelukannya, Minwoo menghentikan laju motornya. Membuat Ara menatapnya kebingungan.

“Aku akan membeli minum. Apa kau mau?” tanyanya seraya melepaskan helm.

“Ti … tidak.” Ara turun dari motor yang langsung disusul Minwoo

Untuk sepersekian detik, Minwoo menatap paras Ara yang sangat pucat. “Kau kenapa? Apa kau sakit? Wajahmu sangat pucat.”

Ara tersenyum tipis. “Aku tidak apa-apa.”

Minwoo lagi-lagi mengerutkan alisnya bingung. ”Tunggulah sebentar,” timpalnya lantas berjalan meninggalkan Ara yang berusaha mengatur deru nafasnya.

Ara Ialu mengambil sebuah kalung yang ada di saku blazzer-nya. Ditatapnya setiap lekuk kalung tersebut hingga ia kembali mendongkak dengan mata membola.

Sosok itu … sosok kecil yang baru saja membunuh 10 siswa di perpustakaan. Sosok bergaun panjang dipenuhi darah. Rambut coklat lurusnya berhasil menutup setengah wajahnya. Perlahan ia mendongkakkan kepala dengan kapak yang terangkat. Bersama cahaya rembulan yang menghiasinya dengan sempurna. “AnnyeonghaseyoEonni.”

Tubuh Ara bergetar hebat. Bahkan untuk bergerak satu inchi pun rasanya sulit. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Ara mengangkat kedua tangannya yang lalu mengulurkan kalung yang tadi ditatapnya. “Jangan ganggu aku, Inyeong! Carilah arwah lain!”

Angin besar tiba-tiba muncul mengelilingi mereka. Membawa sosok mengerikan itu pergi bersamanya. Rasa tegang yang Ara rasakan berangsur hilang. Ia memasukkan kembali kalungnya lantas berbalik dan mendapati sosok Minwoo yang menatapnya tak percaya.

“Mi … Minwoo-ya, i … ini tidak se– ”

“Ayo kita pulang!”

*****

Drap … drap … drap …

Ara melangkahkan kakinya di sepanjang koridor. Ia masih memikirkan Minwoo dan juga sikap yang akan ditunjukkannya nanti. Langkahnya terhenti saat ia melihat namja yang duduk di samping bangkunya. Ia menghela nafas panjang lalu mengepalkan kedua tangannya di udara. “Fighting!”

Ara cepat-cepat duduk di bangkunya lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia sangat gugup dan takut sekarang. “Minwoo-ya … tolong maafkan aku tentang kejadian semalam. Aku … hanya tidak ingin membuatku bersikap beda dan menjauhiku jadi aku–”

“Ara-ya, gwaenchanayo?”-Minwoo memeluk Ara dengan sangat erat-“huwa, maaf. Aku benar-benar kaget juga khawatir, jadi aku bersikap dingin padamu semalam.”

Eh?”

“Bahkan semalaman aku tidak tidur karena memikirkanmu. Mianhae, Ara-ya!”

Ara hanya terdiam dengan mulut yang menganga, “Jadi—“

“Kumohon maafkan aku!”

Pabo!” Ara menjitak keras kepala Minwoo. Membuatnya sontak melepaskan pelukan tersebut.

Ya, kenapa menjitakku?” tampik Minwoo tak terima.

“Kau sangat bodoh! Tahukah kau betapa khawatirnya aku semalaman? Kukira kau marah dan tak mau berteman lagi denganku. Kenapa kau bersikap sedingin itu, hah?” bentak Ara emosi dengan pundak yang naik-turun.

Minwoo hanya melongo tak mengerti. Ya, sepertinya sikap polosnya itu yang menjadi biang masalah ini.

*****

Teng … teng … teng …

Bel pulang berbunyi. Membuat seluruh murid sontak membereskan alat tulisnya dan berlari keluar kelas.

“Dasar pabo!” tukas Ara dengan nada kesal yang dibuat-buat.

“Aku juga mengira kau marah karena sikapku,” timpal Minwoo.

Hei, aku lebih menderita! Lihat kantung mataku!” Ara dengan kesal menunjuk matanya.

Ck, dasar yeoja. Oh iya, ngomong-ngomong kalung semalam ….” Minwoo menggantungkan kalimatnya tanpa ada niat melanjutkannya lagi.

Sudah lama mereka membicarakan masalah ini tapi Minwoo baru saja menanyakan kalung tersebut sekarang. Dia memang benar-benar polos. “Sebenarnya keluargaku memiliki kemampuan khusus. Dan soal kalung itu … mendiang Harabeoji yang memberikannya padaku sebelum ia meninggal.”

Oh, maaf.”

Gwaenchana,”-Ara kembali tersenyum-“ah, hari ini, bisakah kau mengantarku ke Rumah Sakit?”

*****

Langkah kaki sepasang remaja itu mulai terdengar menggema di sepanjang koridor Rumah Sakit.

Mianhaeyo, Minwoo-ya. Karna Eomma memaksamu makan, kita harus pulang dari Rumah Sakit semalam ini.” Ara menundukkan kepalanya malu.

Hei, ini masih jam 7!” bantah Minwoo cepat, “oh iya, keadaan Halmeoni … sepertinya membaik.”

“Iya.”

Ara menghentikan langkahnya saat ia menangkap sebuah kamar dengan papan105. Ara berbalik menatap Minwoo yang tengah memandangnya.

“Kenapa?”

“Ada aura aneh dari ruangan ini.” Ara menunjuk kamar di depannya. Entah hal apa yang mendorong Ara untuk melakukannya. Ia raih kenop pintu lantas memutarnya perlahan. Dentuman jantung mereka sudah dapat dipastikan sama-sama cepat.

Tampaklah sebuah kamar Rumah Sakit yang sangat tidak terawat. Dimulai dari ranjang yang berantakan, laba-laba dan pecahan gelas. Semula mereka -Ara dan Minwoo-hanya saling pandang hingga sudut mata mereka tak sengaja menangkap tetesan darah di sudut ruangan. Berbarengan dengan erangan memilukan seseorang.

“Ara, dalam hitungan ketiga, kita keluar dari ruangan ini,” bisik Minwoo pelan dengan langkah mundur, diikuti Ara.

“Aku—“

“Satu … dua … tiga!”

Brak!!

Baru saja Ara berbalik, pintu sudah tertutup rapat. Cepat-cepat ia membukanya namun nihil. “Minwoo-ya! Minwoo-ya!” teriaknya sekuat tenaga. Aura Inyeong mulai Ara rasakan. Membuatnya ketakutan.

“Annyeonghaseyo, Eonni-ya ….”

Ara sontak menghentikan aktivitasnya dengan mata membola.

“Eonni … bogoshipda.”

Ara menelan saliva-nya. Perlahan ia berbalik. Menatap sosok dengan kapak yang dinodai darah segar. Wajah cantiknya menampakan sebuah senyum polos.

Eonni kenapa tidak bicara? Apa Eonni sudah melupakanku?” Tiba-tiba saja, matanya yang semula berwarna biru berubah menjadi merah.

“A … aku tidak ….”

Sreet

Sebuah tali tak terlihat mulai bergerak lalu melilit leher Ara dan mengangkatnya.

“Aku tahu Eonni sudah melupakanku. Karena aku memang manusia yang paling tidak dibutuhkan di bumi yang kejam ini.”

Brak!!

Ara terlempar ke dinding dengan darah segar yang keluar dari mulutnya. Ia terus saja meronta kesakitan seraya memegangi lehernya.

Eonni tenang saja. Aku tidak akan membunuhmu, karena kau adalah … seseorang yang penting untukku.”

*****

“Yoo Ara!” Dengan sepenuh tenaga, Minwoo mendobrak pintu di depannya. Ia benar-benar khawatir. Pasalnya, ia sama sekali tak mendengar suara Ara sejak tadi. “Yoo Ara, kumohon! Jawab aku!” pekiknya sekuat tenaga.

“Anak muda.”

Minwoo sontak menghentikan aktivitasnya saat sebuah suara lemah tertangkap oleh indra pendengarannya. Perlahan ia membalikkan tubuhnya dan menatap sosok tua yang tengah menatapnya.

*****

“Terlahir dari keluarga kaya raya yang tidak mempedulikanku. Memiliki teman yang memanfaatkan kekayaan orang tuaku. Kehilangan satu-satunya orang yang menyayangiku dalam sebuah kecelakaan. Hidupku sangat tragis, ‘kan? Apa kau sudah ingat?”-dengan tatapan tajam, sosok itu berjalan mendekati Ara yang menatapnya miris-“aku hanya ingin kau mengingatku.”

Ara perlahan menundukkan kepalanya hingga sebuah silet mengiris pipi mulusnya. Membuat daging mengerikan itu terlihat. “Akh.”

“Aku sudah cukup bermain. Sekarang ….”

Sontak Ara membulatkan matanya. Bukan karena takut, namun karena ia mengingat sesuatu, Permen! batinnya lantas merogoh isi sakunya.

“Inna-ya ….” Ara dengan cepat membuka bungkus permen tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut boneka tersebut.

Sesosok yeoja cantik berambut panjang lurus tampak berjalan di sekitar taman Rumah Sakit. Langkahnya terhenti saat ia menatap sosok kecil yang duduk di bawah pohon. Merasa penasaran, yeoja bernama Yoo Ara itu pun menghampirinya.

  

          “Gadis kecil, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya seraya berjongkok.

  

          “Siapa kau?” tanya yeoja itu dingin.  

  

          Ara mengulurkan tangannya ramah. “Yoo Ara imnida. Ireumi mwoeyo?” 

  

          “Kau hanya menginginkan harta orang tuaku, ‘kan? Pergi kau!” bentaknya kasar lantas berlari meninggalkan Ara yang terus menatap punggungnya yang mengecil.

  

—– 

  

          “Ara-ya, tolong simpan ini di ruangan Harabeoji. Ada barang Eomma yang tertinggal di mobil.” 

  

          Ara hanya mengangguk. Setelah memastikan yeoja yang sangat disayanginya berada jauh, Ara kembali melangkah. 

  

          “Hiks … hiks ….”

  

          Langkahnya terhenti saat ia tak sengaja mendengar tangisan seseorang. Dengan cepat Ara menengok ke kanan dan ke kiri. Mencari sosok yang membuatnya penasaraan tersebut hingga ia melihat sosok yang membentaknya kemarin. Dengan langkah pasti Ara berjalan menghampirinya.

  

          “Uljimma.” Ara mengulurkan sebuah permen. Membuatnya sedikit mendongkak sebelum akhirnya membuang muka. 

  

          Ara sedikit berdesis lantas berjongkok di depan yeoja itu. “Kumohon, jangan seperti ini. Aku memang tidak tahu siapa kau, tapi … aku benar-benar tidak bisa melihat seseorang menangis. Ambillah.” Ara memberikan senyuman terbaiknya. 

  

          Perlahan yeoja itu menatap permen dan paras Ara bergantian. “Apa kau benar-benar tidak tahu siapa aku?”

  

          “Kau ini,”-Ara memanyunkan bibirnya pura-pura kesal namun malah terlihat lucu bagi anak di depannya-“kita buat perjanjian saja. Kita tidak boleh saling mengetahui nama masing-masing hingga waktunya tepat. Bagaimana?”

  

—– 

  

          “Eonni!” panggil seseorang dari kejauhan. Membuat sosok yang dimaksud segera berbalik dan mendapatkan pelukan hangat di kakinya. 

  

          “Gadis kecil, bukankah ini sudah malam? Kenapa tidak tidur?” tanya Ara lembut.

  

          “Ini masih jam 8, Eonni.” 

  

          “Tapi ‘kan ini sudah malam,” sergahnya masih dengan nada lembut.

  

          “Aku dengar besok pagi Eonni akan pergi. Aku takut saat aku bangun nanti, Eonnisudah tidak ada lagi di sini,” ucap yeoja itu dengan suara tertahan, “Eonni, tolong jangan lupakan aku!”  

  

          Ara mengusap lembut puncak kepala yeoja itu dengan senyum miris. “Walau punEonni memiliki ingatan yang buruk, Eonni akan berusaha mengingatmu, gadis kecil.” 

Brezz!!

Perlahan sosok tersebut berubah menjadi yeoja kecil berambut sebahu dengan boneka di tangannya

“Ga … dis kecil.”

Eonni … aku sangat menderita setelah Eonni pergi meninggalkanku. Hari itu … sehari setelah Eonni pergi, aku berjalan di sekitar taman dan menemukan boneka ini. Aku menganggapnya seperti Eonni bahkan mendandaninya agar mirip denganmu. Aku benar-benar kesepian karna Eonni tidak ada di sisiku. Tapi … aku baru sadar bahwa boneka ini perlahan menghisap nyawaku.”

Boneka cantik tanpa noda darah di tangan yeoja itu mulai terangkat dan lepas dari genggamannya. Ia mengambil kembali kapaknya tanpa Ara sadari.

“Aku yang  sudah tahu, hanya bersikap tidak peduli. Seminggu setelah itu, saat tengah malam … aku merasa dadaku sangat sesak hingga aku tak bisa bernafas. Dan saat aku membuka mataku, aku sudah berada di sebuah tempat gelap. Hidupku sejak itu hanya ditemani layar yang mempertontonkan adegan pembunuhan tragis atas namaku. Sesungguhnya, aku benar-benar tak menginginkan hal ini, Eonni. Tolong jangan membenciku.”

“Gadis kecil!” teriak Ara sekuat tenaga saat sosok di belakangnya menebas habis kepala yeoja itu.

“Ara-ya!”

Beberapa detik setelah hal tersebut terjadi, pintu terbuka dan tampaklah sosok Minwoo yang berlari menghampiri Ara.

“Hidup memang benar-benar tragis.” Inyeong tersenyum licik. Di detik berikutnya, ekspresi inyeong berubah seketika. Membuat Ara cepat-cepat merogoh sakunya namun tubuhnya melemas seketika saat menyadari benda penting yang menghilang begitu saja dari tempatnya.

Minwoo segera berlari menghampiri Ara dan menggenggam tangannya erat. Ia mengulurkan sebuah kalung ke hadapan inyeong yang mulai membolakan matanya.

“Kembalilah ke alammu!”

Braz ….

Sosok inyeong menghilang begitu saja. Diiringi kabut hitam yang muncul dari tubuhnya.

*****

“Aku tidak menyangka Inna rela mengorbankan nyawanya,” gumam Ara kecil di hadapan dua buah pusara.

“Jadi … selama ini ia hanya terjebak di dalam tubuh inyeong?”

Ara mengangguk lemas. “Dia anak baik tapi memiliki kehidupan tragis.”

“Aku juga tidak mengangka, Kakek tua yang saat itu memberiku kalung adalah kakekmu.” Sontak Ara menatap Minwoo kaget. “Saat aku berusaha membuka pintu, kakekmu datang dan memberiku kalung itu. Aku baru tahu jika dia adalah kakekmu saat kau menunjukkan fotonya.”

“Jadi ….”

Minwoo mengangguk kecil.

“Minwoo-ya, maaf … karena aku … kau tidak jadi menyatakn perasaanmu pada Nara.”

Gwaenchana, lagipula dia sudah memiliki namjachingu.”

Mworago?” pekik Ara kaget.

“Aku melihatnya berpelukan dengan seorang namja kemarin. Sepertinya …  aku hanya menggemarinya.” Minwoo sedikit terkekeh akan kebodohannya.

Oh,”-Ara menundukkan kepalanya. Mencoba menstabilkan detak jantungnya-“um … Minwoo-ya, aku ….”

“Aku apa?” tanya Minwoo polos.

“Sebenarnya aku … menyukaimu.”

Minwoo sontak menatap manik Ara dalam. Berusaha mencari kebohongan di dalam sana namun nihil.

Ara kembali tertunduk. “Mianhae, kau bisa melupakan kata-kataku ta—“

Belum selesai dengan kata-katanya, Minwoo sudah memeluk Ara dengan erat. “Kenapa kau tidak bilang lebih awal? Aku juga menyukaimu! Sangat suka!”

FIN

Advertisements

One comment

  1. Pingback: Ficlet | OtherwiseM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s