[Ficlet Series] So Cheesy, Lee Jeongmin

1781862_656414724422462_1170575634_n

A Fanfiction by otherwiseM

|| Lee Jeongmin (Boyfriend) and You || Fluff || Ficlet || PG-13 ||

Lantas kenapa kecantikanmu terkikis oleh wajah cemberut?


Ah, kembang gulanya manis! Tapi, lebih manis gadis yang duduk di sampingku.”

Aku hampir saja tersedak lolipop berbentuk hati yang beberapa detik lalu menyapa lidahku. Kulirik horor Jeongmin, lelaki menyebalkan dengan garis indah di bibirnya itu memandangku lekat. Seolah aku ini adalah lukisan bernilai seni tinggi. Begitu intens, hingga rasanya ingin kucolok saja mata sipit itu dengan gantungan ponselku.

Ya!”

“Walaupun marah dan berteriak seperti itu, kenapa kau tetap cantik ya? Wah, bagaimana ini?! Jantungku berdebar kencang!” Jeongmin mengucapkannya dengan selingan tawa yang terdengar seperti ejekan untukku.

Aku muak. Maka dari itu, kedua bola mata ini berputar kesal. Kupandang taburan kerlap-kerlip di langit. Indah memang, namun semuanya tak berarti jika Jeong Min terus-menerus bersikap seperti ini.

Ratusan kata-kata manisnya—yang buatku terbang setiap saat, adalah hama bagiku. Begitu mengganggu dan merugikan. Jeongmin selalu mengatakannya. Tak peduli itu pagi, siang, sore, atau malam. Tak peduli aku sedang senang, sedih, marah, kacau. Dan saat menyadari rona merah hiasi wajahku, ia akan tergelak hebat hingga berguling-guling di rumput.

Jeong Min tampan. Jeong Min manis. Jeong Min membantuku saat kesusahan. Jeong Min selalu menemaniku.

Namun aku benci.

Tak suka.

Karena semua itu … kebaikan yang seharusnya hanya ditunjukkan pada orang yang spesial itu … tak berarti untuknya. Melihatku salah tingkah adalah candu baginya.

Saat Jeongmin tersenyum, saat Jeongmin tertawa, saat Jeongmin menggodaku, saat lengannya bertengger di bahuku. Bohong jika kubilang aku tak merasakan hal aneh dalam tubuhku. Karena pada kenyataan, aku senang setengah mati saat Jeongmin melontarkan satu dari sekian ratus kalimat manisnya.

Namun kini, rasa itu lenyap bersama aliran Sungai Han yang merusuh kala hujan mengguyur. Tak ada lagi semburat merah di wajahku, tak ada lagi senyum kecil yang menunjukkan kesalahtingkahanku.

Yang ada hanya rasa tidak suka. Karena aku tak dapat kendalikan perasaanku. Karena aku tak dapat menepis opini ‘Jeongmin melakukan semua ini karena dia menyukaiku’.

“Hei, kau marah ya? Biasanya kau senang.”

                Itu dulu, Jeongmin.

“Tidak kok, aku tidak marah.”

“Lantas kenapa kecantikanmu terkikis oleh wajah cemberut?”

Kutahan kepalaku yang terasa seratus kali lebih berat dari biasanya dengan kepalan tangan yang melemas saban detik. “Aku hanya … sedang banyak pikiran, Jeongmin. Maaf sudah membentakmu.” Dengan amat terpaksa, kutolehkan kepala. Menatap paras cemasnya dengan senyum tipis.

“Kau sakit?” Jantungku bergoncang hebat saat tangan halusnya sentuh dahiku.Tuh ‘kan, mulai lagi! Hei, aku sudah muak nih!

“Kalau ada masalah, ceritakan saja padaku. Aku akan selalu mendengarkanmu, manis. Karena senyummu, adalah sinar kehidupan bagiku.”

Oke, harus kuakui kata-katanya ini manjur. Berhasil mengembalikan rona merah pipiku yang menggantung di tepi, memporak-porandakan hatiku yang kacau. Kau hebat, Lee Jeongmin!

Kuhembuskan napas berat, singkirkan tangannya yang masih menempel setia di dahiku. “Jeongmin, bisakah aku minta satu hal?”

“Apa itu?”

“Tolong berhenti ucapkan kata semacam itu. Aku merasa kurang nyaman dengannya.”

Jeong Min berdiam diri sesaat. Garis lurus bingkai manis wajahnya setelah perkataanku tercerna baik oleh saraf pusatnya. Jeong Min menggeleng kecil. “Kau bisa meminta apapun dariku. Tapi tidak untuk—“

                Aku benar-benar muak! Sungguh.

“Kenapa, Jeongmin? Kita bahkan tidak memiliki hubungan yang jelas! Kenapa sih kau ini suka sekali membuat orang lain salah paham?! Kau pikir aku senang kau seperti ini? Kau benar-benar mengaduk isi hatiku! Membuatku kebingungan setengah mati!”

Jeong Min bangkit meniru tingkahku. Namun kedua tangannya menahan bahuku, buat mata ini terkunci padanya. “Kau ingin sesuatu yang jelas?”

Dengan cepat, aku mengangguk. Hasilkan senyum yang kian lebar di bibirnya.

“Aku hanya akan mengatakannya sekali, jadi dengarkan dengan baik. Pertama-tama, aku minta maaf karena selalu bersikap seperti ini padamu. Maaf jika kau merasa tak nyaman. Aku hanya ingin selalu berada di sisimu tanpa kau sadari perasaanku. Aku egois ya? Awalnya, aku yang pecundang ini, mencoba untuk membohongi perasaanku sendiri. Menjadikan perasaanmu sebagai korbannya. Jujur saja, aku sangat sangat senang melihat responmu yang seperti itu. Semakin membuatku yakin bahwa kau juga menyukaiku. Dan karena alasan itu, aku terus-menerus melakukannya—“

Jeong Min tampak mengambil napas banyak-banyak sebelum melanjutkan, “—karena kau ingin kejelasan, biar kuperjelas semuanya. Aku menyukai—ah, bukan! Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi seseorang yang lebih manis daripada setumpuk gula di supermarket untukku?”

FIN

Advertisements

3 comments

  1. SiMbulett · May 12, 2015

    kereeen (y)

    Like

  2. Pingback: Ficlet | OtherwiseM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s