[Ficlet] Stupid, Jo Kwang Min

1460248_612773582119910_681501003_n

A Fanfiction by otherwiseM

|| Jo Kwangmin (Boyfriend) and Lee Jieun (IU) || in the middle of Comedy and Sad /?, Romance || Ficlet (753 words) || PG-13 ||

“Gadis bodoh! Di mana kau?”-Jo Kwang Min.


“Ayo main layang-layang!” Kwang Min tiba-tiba saja menarik lengan Ji Eun. Banyak sekali anak-anak kecil yang memainkan layang-layang dengan berbagai bentuk. Memang cuaca sangat bersahabat kala itu. Dan parahnya, Ji Eun harus menjadi salah satu dari para ‘bocah’ itu karena lelaki yang notabene kini adalah ‘majikan’nya.

“Sebelum main, kita harus membuat perjanjian!”

Tanpa Kwang Min sadari, Ji Eun memutar bola matanya. “Apa?” tanyanya ketus.Mood-nya hari ini hancur karena Kwang Min mengajaknya bermain saat ia harus berada di depan komputer untuk membuat fanfiction atau mencari informasi terbaru tentang idolanya, JYM.

“Kalau layangan ini lepas, kau harus mengambilnya. Atau ….”

“Atau apa?”

“Aku akan menyebarkannya.”

“Huft, baiklah tuan muda Jo.”

Kwang Min samar-samar tersenyum, namun ekspresinya kembali dingin saat Ji Eun memandangnya. “Baiklah, ayo kita mulai!”

Entah datang dari mana semangat yang membuat Kwang Min lebih sering tertawa hari ini. Bahkan Ji Eun bergidik ngeri saat lelaki berambut hitam itu tertawa lalu memintanya mengambilkan layangan. Tak pernah Ji Eun lihat Kwang Min sebahagia ini. Dan entah bagaimana, ia bisa melupakan masalah fangirling-nya untuk sesaat. Ingat, hanya sesaat.

“Ah, layangannya lepas lagi!” Ji Eun dan Kwang Min bersamaan menatap benda berbentuk animasi burung yang melayang-layang tertiup angin. “Sepertinya melayang ke tempat yang jauh,” sambungnya. Senyum yang terukir indah itu lenyap saat ia menghembuskan napas.

“Aku akan mengambilkannya untukmu!”

Walau ia yakin ia tak melakukan kesalahan, Ji Eun tetap merasa bersalah. Melihatnya yang menampikkan sorot kecewa, hati Ji Eun terasa nyeri. Meski lelaki itu sungguh jahat padanya, tapi Ji Eun baru sadar jika kwang Min juga manusia –awalnya ia berpikir kwang Min adalah alien yang terperangkap di bumi untuk menyiksanya karena ia sering menyiksa bocah di bawah umur untuk kesenangan. Belum selesai Kwang Min mencegah niat Ji Eun, gadis itu sudah melesat menghilang, seperti angin.

“Ah, gadis itu. Padahal tidak usah mengambilnya,” tutur Kwang Min mengacak rambutnya.

Ji Eun terus berlari hingga kakinya terasa akan patah. Entah mengapa, Ji Eun takut senyum itu hilang. Senyum yang persis dimiliki idolanya. Pikiran Ji Eun terus berkecamuk hingga ia tak sadar layangan itu sudah membawanya jauh dari taman.

“Hah, lelahnya!” Ji Eun berhenti berlari lalu bertumpu pada lututnya dengan napas tersegal. Layangan itu masih melayang dan sepertinya akan terjatuh di tempat yang tinggi.

Saat mengingat wajah sedih Kwang Min tadi, ia kembali berlari. Tak memedulikan kakinya yang lecet atau apalah. Hingga balon itu tersangkut di atas pohon, Ji Eun masih berlari. Napasnya kian memburu. Betisnya yang mungil terasa membesar. Melelahkan sekali.  Ji Eun mendongkakkan kepalanya lalu membuang napas kasar. Mau tidak mau, ia harus memanjat pohon besar itu. Oke Lee Ji Eun, yang tadi hanya pemanasan! Inilah perjuangan yang sesungguhnya! Semangat!

Hari kian gelap saat Ji Eun berusaha memanjat pohon. 20 menit sudah Ji Eun berusaha memanjat dan akhirnya ia bisa mengambilnya. Lega rasanya saat layangan berwarna merah itu sudah berada di genggamannya. Ji Eun baru sadar, ia berlari terlalu jauh. Hingga ia tak tahu di mana ia berada saat ini. Matanya berkeliling, berusaha mengingat jalan mana yang telah ia lalui sebelumnya.

Kwang Min masih menyisir daerah sekitar taman dengan ransel kuning Ji Eun yang dengan tak sadar ia pakai. “Lee Ji Eun! Lee Ji Eun!”

Kwang Min berhenti saat rasa putus asa menghampirinya. Ia mengutuk gadis yang tak membawa ponselnya saat berlari tadi. Tapi siapa juga yang akan membawa ponsel dan tas saat berlari mencari layang-layang? Dasar Kwang Min.

“Gadis bodoh! Di mana kau?”

“Kwang Min-ssi!”

Sontak Kwang Min menoleh. Di ujung sana, tampak sesosok gadis dengan balutan dress kuning selutut yang tengah tersenyum mengacungkan layangan dengan bangga. Tak perlu berpikir, Kwang Min melangkah menghampiri Ji Eun. Kian lama langkahnya kian cepat hingga kini ia sudah menarik Ji Eun ke dalam dekapannya.

“Bodoh! Aku ‘kan tidak menyuruhmu mengambilnya!”

Ji Eun diam terpaku dengan mata membulat. Lagi-lagi perasaan aneh itu muncul. Jantungnya berdetak seperti saat ia berlari tadi. Bahkan sepertinya lebih cepat.Sebenarnya aku ini kenapa?

“Aku tidak menyuruhmu untuk mengambilnya! Kalau aku tidak menyuruhmu, kau tidak usah melakukannya! Kau tahu berapa lama aku mencarimu? Bahkan kau tidak membawa ponselmu! Aku hampir gila tadi!”

Bahagia. Entah muncul dari mana perasaan itu. Di tengah taman yang sepi, Ji Eun melepas pelukan Kwang Min dengan senyuman. “Aku hanya tak ingin melihatmu sedih. Sebelumnya aku tak pernah melihatmu sebahagia itu.”

“Tapi sebaiknya jangan buat aku khawatir!”

“Kenapa kau khawatir?”

                Ayolah! Katakan bahwa kau menyukaiku!

“Tentu saja karena jika kau hilang, tak akan ada lagi gados bodoh yang akan menemaniku.”

Hati Ji Eun hancur seperti bom waktu yang baru saja meledak. Tanpa sadar ia mengharapkan hal yang tidak-tidak. “Ayo kita pulang!”

Advertisements

One comment

  1. Pingback: Ficlet | OtherwiseM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s