[Ficlet] 이 남자는…

1512493_638529256211009_469153054_n

A Fanfict by otherwiseM

|| No Minwoo (Boyfriend) and Juniel (Choi Jun Hee) || Romance, Friendship || Ficlet (887 words) || PG-13 ||

Ini mimpi? Mimpi, ‘kan? Atau mungkin imajinasiku kambuh lagi ya? Dia tidak sedang menyatakan perasaannya, ‘kan? Dia tidak sedang menyatakan perasaaannya di koridor yang cukup lenggang ini, ‘kan?


“Jun Hee-ya!”

Rasanya jantungku ingin terlepas saja saat seseorang tiba-tiba merangkul bahuku. Semerbak harumnya terkoar kala aku menarik napas. Huh, laki-laki ini lagi! Untung saja ponselku tidak jatuh.

“Ada apa sih, Min Woo? Berisik sekali!”

Min Woo—lelaki menyebalkan yang telah menghancurkan separuh hidupku akibat kehadirannya—terkekeh pelan. Lengannya masih merangkul bahuku. Uh, sial! Lagi-lagi jantungku berdetak sangat cepat. Lelaki bermarga No ini, yang memiliki segudang hobi aneh yang kekanak-kanakan, yang sering bermain game (dia hampir tak pernah menang) dan berteriak tak jelas, yang sering menggangguku (dan sialnya kami sesekolah, untung saja tidak sekelas), yang memiliki virus mematikan berupa lengkungan manis yang terlukis kala kedua sudut bibirnya ia tarik, dan yang selalu mengikutiku ke mana-mana ini sangat menyebalkan!

Huh, jujur saja aku menyesal sudah menolongnya bersembunyi dari kejaran paman-paman berjas dan kacamata hitam yang semuanya memiliki kepala plontos serta tubuh gemuk (awalnya kukira mereka kembar, ternyata hanya tuntutan dari satu agensi yang menaungi mereka. Um, ayah Min Woo maksudnya). Dan ternyata ternyata ternyata … dia menganggapku pahlawannya karena mengajaknya bersembunyi di toilet wanita!

Huwa, jangan tanya betapa malunya aku saat itu. Terlebih, toilet sedang penuh-penuhnya dengan siswi yang berganti pakaian sehabis olahraga. Ya otomatis, mereka keluar semua dengan teriakan heboh menggemparkan sekolah, biasa lah perempuan. Dan yang lebih parahnya lagi, dia memaksa menginap di rumahku! Lelaki yang sama sekali tak kukenal itu menumpang selama 3 hari. DAN AKU MAU MENERIMANYA UNTUK SEMANGKUK ES KRIM! Dan lagi sepertinya Dewi Fortuna begitu menudukungnya hingga kebetulan yang luar biasa menggemparkan terjadi. Orang tuaku pergi ke luar kota, tersisalah aku dan adikku di rumah. Sialnya lagi, ADIKKU MENGIJINKAN LELAKI INI MENGINAP! Katanya kasihan lah, agar memiliki teman lah, agar diajari menari lah. Cih, aku membenci adikku setelahnya (meski aku memang tak bisa benci sepenuhnya, toh dia tetap adikku). Protesku terhadap adiku berlangsung dengan tidak memasakinya sarapan, tidak menyapanya, tidak membantunya mengerjakan PR selama seminggu penuh. Eh, kenapa kita jadi membicarakan adikku ya?

Minggu lalu, ia baru mengaku jika sebenarnya saat itu ia harus pergi ke Tokyo. Katanya sih pindah sekolah. Karena setelah lulus, Min Woo akan berkuliah di sana untuk modal meneruskan perusahaan ayahnya. Aku yang mendengar penjelasan itu, spontan saja memarahinya yang telah mengecewakan ayahnya. Tapi … dia bilang ia tak menyesal, karena ia bisa mengenalku karena insiden itu.

Ini adalah suatu kebodohan. Kebodohan yang seharusnya tak terjadi. Aku memang benar-bdnar ceroboh, ceroboh karena telah terpikat akan pesonanya. Ceroboh karena aku … mencintainya.

“Aku sangat senang! Kau tahu tidak?” Kini lelaki berambut hitam itu berdiri tepat di hadapanku. Memaksaku menatap kedua maniknya dengan menahan kedua bahuku. Untung saja aku sudah terbiasa dengan kontak fisik seperti ini sehingga wajahku tak memerah. Tapi kenapa jantungku sulit diajak kompromi ya? Perlukan aku membelikannya semangkuk es krim yang sama saat Min Woo membujuku agar mengijinkannya menginap di rumahku?

“Hei,kau ini kenapa sih? Minggir sana! Aku sedang sibuk!” Dengan kasar, kutepis tangannya. Mengambil langkah sejuta untuk menghindarinya. Tunggu, sibuk? Haha, padahal setelah ini rencananya aku akan ke kelas untuk menggosip bersama Ah Ra. Memangnya menggosip itu sebuah kesibukan ya? Hoho, aku baru tahu. Mulutku memang bertingkah seenaknya saat gugup begini.

“Jun Hee, tolong pukul aku!”

Duh, bagaimana bisa hingga saat ini aku tak terkena serangan jantung? Dia selalu saja muncul tiba-tiba di depanku dengan jarak yang sangaaaattt dekat.

Y-ya, kau ini kenapa?!” Dengan wajah merah padam, aku melangkah mundur. Sedikit menundukkan kepala. Menghidari tatapannya, tentu saja.

“Jun Hee, terima kasih ya! Kau memang gadis baik, aku menyayangimu!” Min Woo dalam satu gerakan, mendekapku erat. Begitu erat hingga aku tak sanggup bernapas lebih dari lima menit lagi.

Kembang api meledak dalam jantungku, kupu-kupu beterbangan menggelitik perutku. Aku seperti orang telah melihat wajah Medusa secara langsung, sehingga langsung menjadi batu yang sama sekali tak dapat bergerak. Ini mimpi? Mimpi, ‘kan? Atau mungkin imajinasiku kambuh lagi ya? Dia tidak sedang menyatakan perasaannya, ‘kan? Dia tidak sedang menyatakan perasaaannya di koridor yang cukup lenggang ini, ‘kan?

“Mi-Min Woo, kita masih … di sekolah.” Aku berujar dengan napas tercekat. Kejam sekali yang meremas tenggorokanku seperti ini!

“Biarkan seperti ini. Sebentar saja.”

Beberapa siswa yang kebetulan lewat entah dari mana menatap kami lekat, ada beberapa yang saling berbisik. Wajahku memerah lagi. Dan lamat-lamat, aku mulai dapat kembali menguasai tubuhku. Oh, syukurlah.

E-eh, hei! Kenapa ini? Tangan! Kenapa kalian malah bergerak membalas pelukan lelaki ini? Kenapa kalian hilang kendali? Dan jantung! Berhentilah memompa darah secepat itu! Aku bisa mati jika kau rusak! Dan juga paru-paru! Kenapa sulit sekali mencerna oksigen? Memangnya oksigen di bumi sudah habis ya?

“Jun Hee ….” Min Woo melepas pelukannya. Hah, akhirnya …. Sorot teduh itu, menyapu kedua irisku. Memberikan ketenangan tiada tara. Dan senyum itu kembali membuat jantungku berdetak kencang. Uh, mulai lagi!

“Terima kasih untuk kata-katamu waktu itu.”

“Maksudnya?”

Min Woo tersenyum, ia menggenggam erat tangan kiriku. “Ternyata kau benar, aku memang harus bersabar dan tak membantah. Kau masih ingat ‘kan Ayahku akan menjodohkanku dengan anak rekan bisnisnya? Ternyata orang itu adalah Ji Eun! Lee Ji Eun teman sekelasku!”

Senyumku memudar, tergantikan sengatan listrik sekuat 100 volt yang menyerang hatiku. Mematikan fungsi sel di tubuhku. Oh iya, aku melupakan satu fakta. Dia menyukai seorang gadis yang selalu membantu dan menyapanya. Namanya Lee Ji Eun.

“Benarkah? Bagus kalau begitu.”

Ya, bagus sekali. Hatiku hancur lebur seperti ini memang bagus namanya. Aku aneh.

“Terima kasih ya.” Min Woo tersenyum lagi. Terpatri jelas kebahagiaan yang semakin menusuk hatiku. “Kau memang sahabat terbaikku. Aku menyayangimu, Jun Hee.”

FIN

Advertisements

One comment

  1. Pingback: Ficlet | OtherwiseM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s