[Oneshoot] www.letsdeath.com

1476073_628292897234645_1610204509_nA Story by otherwiseM

|| Jo Kwangmin (Boyfriend), IU (Lee Ji Eun), Shim Hyunseong (Boyfriend) || Angst, Family || PG-13 || Oneshoot ||


Kwang Min merebahkan tubuhnya di ranjang dengan segumpal beban di kepala. Bahkan aroma lavender kamarnya tak sanggup menyalurkan ketenangan pada hatinya yang kelam.

Lelaki berambut cepak hitam itu menghela napas panjang. Menatap dalam langit-langit kamarnya yang terhiaskan cahaya lampu menyilaukan mata. Untuk beberapa saat, ia sempat terpejam dalam beratnya masalah yang membelenggunya saat ini.

Kecewa dan sakit. Hanya dua kata itulah yang mampu mendefinisikan perasaannya. Bayangkan saja bagaimana sakitnya perasaan seorang anak yang ditampar keras-keras ibunya saat sang anak berusaha berubah, mengawali harinya dengan secercah senyum ceria. Terlebih kata-kata menusuk yang dilontarkan setelahnya.

Hari yang diawali dengan keburukan, akan berjalan dengan buruk. Ternyata prinsip omong kosong salah satu temannya adalah benar adanya. Hingga saat ini, bahkan Kwang Min tak ingin memercayai kebenaran yang menghinggapinya. Kebenaran bahwa kedua orang tuanya rela menukarkan dirinya yang berstatus sebagai ‘anak kandung’ dengan setumpuk kertas di kantor. Juga seluruh temannya yang mendekatinya karena kartu kredit tanpa batas miliknya. Oh, hidup sungguh kejam.

Sebuah suara membuat Kwang Min bersingut dari ranjangnya. Lelaki itu menggapai sebuah ponsel hitam  yang tergeletak di meja dengan malas. Sebuah pemberitahuan dari salah satu fanspage yang Kwang Min ikuti. Ia menyerngit tatkala sepasang irisnya menangkap rangkaian kata yang tertulis rapi di sana.

            Hei, apa kalian pernah dengar sebuah situs bunuh diri dengan alamat web www.letsdeath.com? Kudengar, itu adalah situs illegal yang paling terkenal. Polisi sudah berulang kali memblokirnya, namun anak dari situs tersebut selalu saja bermunculan di keesokan harinya. Katanya polisi juga angkat tangan dalam kasus ini. Apa pendapat kalian?

Apa pendapat kalian? Tentu saja ini hal gila! Selebih orang akan beranggapan seperti itu. Namun berbeda dengan Kwang Min. Ia tersenyum simpul, lantas meletakkan kembali ponselnya. Pemikiran orang lain tentang kematian, pasti akan berubah 360 derajat setelah–setidaknya–mereka bertukar kehidupan dengan Kwang Min barang hanya separuh hari.

Lelaki itu memutuskan turun dari ranjangnya setelah tenggorokannya terasa kering. Ia perlahan menuruni anak tangga. Dan saat ia menginjak anak tangga terakhir, pintu utama terbuka. Terlihatlah pria separuh baya dengan pakaian resminya yang berjalan sempoyongan dan akhirnya terkulai lemas di sofa.

Kwang Min tersenyum kecut. Bau alkohol yang tercium, membuatnya kian muak tinggal di rumah megah ini. Bahkan niat Kwang Min untuk meneguk segelas air putih mesti kandas seketila. Sayang sekali tubuhnya begitu membutuhkan cairan bening tersebut. Sepertinya lelaki itu akan membeli sekardus air mineral agar ia tak perlu keluar dari kamar lagi seperti ini.

“DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI! BAGAIMANA BISA KAU TAK MENATAP AYAHMU YANG KELELAHAN INI SAMA SEKALI, HAH?!”

Kwang Min meremas ujung piyamanya. Air mata sudah menggenang di kedua pelupuk matanya. Dengan tergesa-gesa ia meneguk airnya, lalu berjalan cepat menyusuri anak tangga. Napas Kwang Min terasa lebih sesak saat sang Ayah melanjutkan perkataannya.

“KAU TULI DAN BISU YA? DARIPADA MENAMBAH BEBANKU, LEBIH BAIK MATI SAJA!!”

Tidak, Kwang Min bukannya bisu ataupun tuli. Ia bahkan bisa mendengar dengan jelas segala keluh-kesah sang Ayah yang terlalu berlebihan. Kwang Min hanya terlaku sakit dan bingung untuk menimpalinya. Ia takut sang Ayah akan memukulinya hingga bibirnya sobek lagi. Namun toh pada akhirnya, lelaki itu tetap memutuskan untuk membuka mulutnya meski rasa takut itu kian merayapi dirinya.

“Saran Ayah ada benarnya juga. Aku akan mencobanya,” tukas Kwang Min sarkastis. Lelaki itu menggerakkan tungkai kakinya secepat yang ia bisa.

Yang Kwang Min inginkan sekarang adalah sebuah ruang kosong dengan hanya ada dirinya di sana. Agar ia bisa berteriak dan menangis sesukanya. Kwang Min menutup keras-keras pintu kamarnya. Menguncinya lalu merebahkan diri di ranjang. Air mata tak sanggup dibendung lagi. Semuanya tumpah dalam satu kedipan. Ini menyakitkan, sangat menyakitkan.

Sehina inikah dirinya hingga ia diperlakukan seperti ini? Seperti sampah yang sama sekali tak berguna? Kwang Min mulai bertanya-tanya, apa hukum masih berlaku? Ke mana perginya Komisi Perlindungan Anak?

Ia adalah seorang anak malang yang bahkan tak pernah merasakan kecupan hangat dari seorang ibu. Anak malang yang tak pernah dibangga-banggakan meski prestasinya di atas rata-rata. Anak malang yang harus menggunakan wali di setiap acara sekolah. Anak malang yang diberikan kartu kredit tanpa batas sejak ia duduk di bangku pertama sekolah dasar. Dan yang terakhir, anak malang yang bahkan tak pernah melihat senyum tulus kedua orang tuanya.

Oh, lengkap sudah semuanya. Dan Kwang Min sudah memutuskan sesuatu.

Kwang Min meraih ponselnya. Membuat akun baru bernama “UnluckyBoy” di situs ‘kematian’ tersebut. Jari-jarinya dengan lihai berman di atas ponsel touchscreen-nya. Ada satu hal yang lelaki itu baru sadari. Yaitu adanya ratusan manusia tak beruntung yang bernasib sama sepertinya.

Namun jika diteliti, kenapa rasanya nasib Kwang Min yang paling menyedihkan di sini?

NoHope : Hai.

Seseorang menyapanya lewat chat. Meski awalnya ragu, pada akhirnya Kwang Min tetap membalasnya.

UnluckyBoy : Hai juga.

NoHope : Merasa hidupmu hancur? Maaf, kau pasti merasa risih dengan pertanyaan orang asing sepertiku. Tapi, maukah kau mengakhiri hidupmu bersamaku? Aku sudah terlalu muak dengan kisah duniawi ini.

Dahi Kwang Min berkerut hebat. Tak habis pikir dengan ke-tanpa-basa-basi-an orang ini yang dengan mudahnya mengajak Kwang Min mati bersama meski mereka saling tak mengenal. Ckck, sungguh menarik, pikir Kwang Min.

UnluckyBoy : Waw, aku kagum padamu. Kita bahkan belum saling mengenal. Memangnya kalau boleh tahu, masalah apa yang mengikatmu?

Entah mengapa, Kwang Min yang dikenal super cuek, yang sama sekali tak pernah mendekati gadis apalagi memiliki seorang kekasih, berubah menjadk seperti ibu-ibu penggosip yang sedang mencari bahasan untuk obrolan di keesokan hari.

NoHope : Untuk apa menanyakan masalahku? Apa ini berguna bagimu? Apa ini bermanfaat bagiku? Jika tak ingin mati bersamaku, lebih baik katakan saja!

Ais, orang ini sensitif sekali!” gumam Kwang Min kesal.

UnluckyBoy: Eh, aku ‘kan belum bilang tidak. Aku hanya ingin tahu, apakah kita memiliki masalah yang sama?

NoHope : Kedua orang tuaku berpisah saat aku masih berusia 5 tahun. Aku harus mengikuti Ibuku yang sama sekali tak menyukaiku. Melihat ayahku sendiri meregang nyawa saat hendak menyelamatkanku. Terlebih teman-temanku di sekolah yang sering menyiksaku. Bahkan setelah aku memulai hidup yang baru.

Kwang Min tersenyum tipis.

UnluckyBoy : Masalah kita sama.

NoHope: Aku tidak peduli, apakah kau mau datang atau tidak. Tengah malam ini, aku akan menunggumu di atap gedung  di dekat Sungai Han hingga pukul 1 pagi. Bukankah bagus jika dua orang yang memiliki masalah serupa, mati bersama dengan cara yang sama? Sampai jumpa.

Setelahnya, orang asing itu tak kunjung membalas chat yang Kwang Min kirim berulang kali. Lagi-lagi Kwang Min musti mengerutkan dahi dengan sikap terburu-buru orang ini. Lelaki itu melirik ke arah jam dinding yang tengah menunjukkan pukul 9 lewat 30 menit.

*****

Keputusan ini sulit. Terlalu sulit untuk remaja 19 tahun sepertinya. Bahkan Kwang Min tak tahu, apakah keputusannya ini benar atau salah. Dan inilah hasilnya. Lelaki itu tengah membiarkan kedua kaki jenjangnya bergerak sesukanya menuju gudang yang dimaksud orang tadi. Bahkan Kwang Min saja tak peduli, apakah orang yang baru saja chatdengannya itu orang baik atau jahat. Benar-benar ingin mati, atau pembunuh bayaran. Tohsejak awal ia juga memang sudah ingin menerbangkan nyawanya.

Kwang Min mengeratkan mantel tebalnya, serta mengambil topi hitam yang telah ia persiapkan sebelumnya. Anak tangga terakhir berhasil Kwang Min tapaki hingga kini dirasanya angin malam yang kian kuat menerpa tubuhnya.

“Apa itu kau? UnluckyBoy?”

Suara yang diiringi langkah sesosok siluet, membuat Kwang Min membalikkan badannya. Matanya memicing, mengamat jeli sosok tersebut. “Kau … perempuan?”

“Memang aku perempuan. Ada yang salah?” Gadis itu melangkah lebih dekat, lantas melewati tubuh Kwang Min dengan sorot datarnya. Err … jujur saja, gadis itu tampak‘cukup’ cantik di mata Kwang Min. Bibir tipis, mata bulat, rambut pendek.

“Bu-bukan seperti itu … hanya saja awalnya aku pikir NoHope adalah seorang laki-laki.”

Gadis itu tersenyum kecut. “Ibuku mengusirku dari rumah beberapa jam yang lalu. Ia tak peduli lagi, di mana aku akan bermalam. Dia membuangku seperti sampah.”

Kwang Min mendekati gadis itu. Bersedekap di sisi pembatas gedung. Memandang keramaian lampu-lampu yang saling beradu memantulkan cahaya warna-warni.

“Ayahku mencaciku dan menyuruhku mati sebelum kita memulai obrolan tadi,” tukas Kwang Min dengan hembusan napas berat.

“Apa menurutmu, masih ada yang perlu kita bicarakan?” Gadis itu mendelik, menatap Kwang Min masih dengan sorot kosongnya. Tampak jelas bahwa ia memang sangat terburu-buru dalam mengambil keputusan besar ini.

Kwang Min balas menatap. “Siapa namamu?”

“Lee Ji Eun.”

“Ah, sepertinya kau sudah menyiapkan segalanya ya!” ujar Kwang Min antusias setelah sebelumnya sedikit menarik ujung bibirnya. Lelaki itu berlarian seperti anak kecil menghampiri seutas tali yang menggantung di sudut gedung.

Ji Eun terperangah melihat senyum manis Kwang Min yang terarah padanya. Untuk kali pertama, jantungnya berdesir begitu cepat hingga yang ia bisa lakukan sekarang hanyalah mematung di tempat.

Kwang Min dengan cekatan mengikat tali tersebut mengintari lehernya, lantas mengulurkan tangan dengan seulas senyum tipis. “Apa kau sudah siap, Ji Eun-ssi? Mari kita akhiri penderitaan ini bersama.”

Dan pertanyaanya adalah, apa yang akan Ji Eun putuskan? Apa ia akan membalas uluran tangan Kwang Min lalu mengikat lehernya kencang-kencang dengan tali? Atau mungkin … menanyakan nama lelaki itu?

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s