[Ficlet] Embarrassingly

IMG_3407139769925

An awkward story by otherwiseM

Embarrassingly 

            || No Minwoo and Lee Jeongmin (Boyfriend), Juniel (Choi Junhee) || Ficlet || PG-13 || failed!Comedy  ||


“Nah, perlukah aku menceritakan kedua pengalaman itu pada Jeongmin?”

 .

.

                “Ya,walaupun harus menguras uang tabunganku, tidak apa-apa selama Chorong senang. Ah, bahkan aku masih mengingatnya dengan sangat jelas.”

Tiga puluh menit akan terasa tiga puluh jam saat kau bersama Lee Jeongmin. Serius, anak ini sangat-sangat cerewet. Bahkan sambil mengunyah, ia terus berbicara sampai remah-remah berhamburan di meja kantin. Jeongmin memang sangat tidak peduli dengan pandangan orang tentangnya. Namun di depan Chorong, ia berubah seratus delapan puluh derajat.

Aku sudah menghabiskan tiga gelas bubble tea, sedangkan Lee Jeongmin baru separuh gelas.

“Tak ada hal lain yang lebih membahagiakan saat melihat orang yang kau sukai tersenyum bahagia dan terharu dengan apa yang kau lakukan.”

Aku menyelingar cukup lama. Terasa sensasi aneh di perutku. Ada apa dengan Lee Jeongmin? Si pembuat onar ini kenapa mendadak bijak begini? Dia salah minum obat, atau kepalanya teratuk pintu berkali-kali?

“Lalu,bagaimana denganmu?”

“Hah?Aku apanya?” Berlagak bodoh, aku menatapnya dengan wajah polos. Membuat Jeongmin menyematkan kekesalan dalam tatapannya.

“Jujur saja padaku, kau tidak pernah berbuat hal romantis sebelumnya, ‘kan?”

“E-eh,ti-tidak kok! Ya, jangan meremehkanku!” Sial, harga diriku sudah berada di ambang batas normal. Bagaimana bisa alis tebal yang hampir menyatu itu membuat tubuhku merinding begini? Hah, seharusnya sejak awal aku tak usah ikut ke kantin bersamanya.Benar-benar sial.

“Lalu, hal romantis apa yang telah kau lakukan?”

“Kenapa kau ingin tahu?” tanyaku kesal.

Jeongmin mendesis panjang. “Galak sekali. Atau, bagaimana pertemuan pertamamu dengan Junhee? Atau kencan pertamamu dengannya?”

“Kenapa ingin tahu, sih?”

“Ya,hanya ingin tahu saja! Ceritakan padaku!” pintanya dengan wajah memelas.

“Umm….” Aku mengatukkan telunjuk di dagu. Menengadah menatap langit-langit. Pikiranku menyelami tragedi tahun lalu.

                Pertemuan pertama, di kedai es krim.

Saat musim panas, ketika matahari seakan bersinar di atas kepala. Detik-detik menyiksa yang harus rutin dilalui tiap tahun. Bau keringat terkoar dimana-mana. Bahkan kaos tipis yang kukenakan terasa seperti selimut setebal lima senti. Benar-benar hari yang panas!

Hyewoo—adikku yang cerewet tapi tidak secerewet Jeongmin—memaksaku membelikannya es krim karena dia tidak mau mengantri. Dengan dalih akan mengadu pada Ibu, aku terpaksa berdesakan bersama pembeli yang didominasi kaum kanak-kanak dengan belanjaan dan ‘kantung rahasia’ di tangan.

Sekonyong-konyong,ada gadis yang menabrakku hingga aku terpental dan menindih beberapa anak didepanku. Kira-kira enam, dan mereka menangis semua. Sangat keras sampai akuragu jika besok masih bisa mendengar lagi.

Aku yang dilanda rasa panik, berusaha menenangkan mereka sedemikian rupa. Gadis itu juga. Sialnya, perkara baru muncul. Ibu anak-anak tersebut mendatangi kami. Aku seperti melihat perubahan hulk saat mereka beralih memandangku setelah menggendong anak masing-masing.

Berbagai asumsi mengerikan seketika memenuhi otakku dan beberapanya terjadi. Mereka membentakku, mencubit pipi serta lenganku, menjambakku, dan parahnya ada satu anak ber-makeup tebal yang berjanji akan berhenti menangis jika aku menikahinya.

HEI, UMURKU MASIH 18 TAHUN DAN DIA TIDAK LEBIH TUA DARI HYEWOO!

Gadi syang tadi menabrakku, kulirik tengah menahan tawa. Namun selang beberapa detik, ia menjelaskan semuanya dan membuat kerumunan hulk itu pun bubar sambil bersungut-sungut. Dia menatapku, masih menahan tawa, lantas buru-buru meminta maaf. Kira-kira seperti inilah kata-katanya,

                “Maaf. Aku tidak sengaja menabrakmu, dan maaf juga aku tidak bisa menahan tawaku. Hahaha.”

Kata-kata yang kejam sih, tapi saat aku menyelami parasnya yang manis, aku hanya mengangguk-angguk seperti orang bodoh. Ia hanya memakai setelan kaos dan jeans pendek. Tapi bisa membuatku terpesona.

Kesan pertamaku tetang gadis tidak tahu sopan santun berubah saat ia berhenti tertawa kemudian membungkuk berulang kali dengan wajah serius, terkesan memelas. Jawabanku? Tentu saja “tidak apa-apa, kok! Aku baik-baik saja”, padahal sebenarnya tubuhku sakit semua.

Menelaah pertemuan pertama kami, mungkin tergolong satu yang lucu dan manis. (Lupakanadegan penyiksaan itu!)

Tapi ada satu kejadian di mana rasanya aku ingin menenggelamkan diri di lembah terpencil, atau menari di pinggiran jurang, atau berenang di dasar air terjun. Tidak ada perumpamaan yang dapat mendefinisikan perasaanku saat itu. Manakala Junhee membantuku mengambil kantung belanjaanku, dan secara tidak sengaja mengangkat terbalik ‘kantung rahasia’ yang membuat isinya keluar semua!

Benda ‘rahasia’ itu pun berhamburan di lantai! Celana dalam berwarna merah, bergambar Mickey Mouse dengan nama “MINWOO” yang tercetak besar di sana berhamburan dan Junhee melihatnya! JUNHEE MELIHAT DAN BAHKAN MEMBACA TULISAN TERKUTUK ITU!

Ituadalah hal termemalukan sepanjang delapan belas tahun hidupku. Awalnya aku tak terlalu malu semalu-malunya hingga ia mengajakku berkenalan. Glek! Saat itu tubuhku sudah berubah menjadi agar-agar banyak rasa. Sambil meratapi serpihan harga diri yang berjatuhan ke mana-mana, aku tertawa kecil dan bilang bahwa namaku adalah Jeongmin. Lee Jeongmin. SIALNYA, Hyewoo yang sudah bosan menunggu memanggilku dengan suara Tarzan-nya. DAN AKU MENYAHUTINYA! Kalian pikirkan saja apa yang terjadi selanjutnya.

Ada satu fakta memalukan dari kejadian itu. Awalnya kupikir kami tidak akan pernah bertemu lagi semenjak tragedi itu. Tapi ternyata dia adalah siswi pindahan Jepang yang seminggu lalu diumumkan wali kelasku, dan KAMI SEKELAS!!

                Beralih ke kencan pertamaku di musim semi tahun lalu.

Orang-orang bilang, musim semi adalah saat yang paling tepat untuk berkencan. Katanya juga akan sangat berkesan jika menyatakan perasaan di bawah bunga sakura yang berguguran. Oleh karena itu, aku memersiapkan segalanya seapik mungkin. Kendati begitu, tak ada satu pun yang berjalan dengan semestinya.

Berawal dari keterlambatanku yang menyebabkan Junhee menunggu hampir setengah jam, memakai dua sepatu yang berbeda jenis (Junhee malah mengatakannya unik dan bertanya di mana aku membelinya. Sampai saat ini dia belum tahu kalau sebenarnya saat itu aku memakai dua sepatu yang berbeda), meninggalkan dompetku dan membiarkan Junhee membayar semua makanan serta ongkos kencan, dan terakhir adalah aku salah membawa hadiah.

Yang kupersiapkan adalah sebuah boneka beruang berwarna putih yang jika di pelukakan mengeluarkan suaraku, “Aku menyukaimu!”. Namun saat Junhee membukanya, hadiah itu berisi setumpuk kaus kaki yang sebagiannya belum kucuci sehingga bau tak sedap terkoar ke mana-mana. (Hyewoo yang mengganti isiny akarena sejak awal dia memang sangat menyukai boneka itu. Hiks, kau jahat Hyewoo-ya!)

Kencan pertama yang tak kalah memalukan dibanding pertemuan pertama. Namun anehnya, saat aku menyatakan perasaanku dengan penuh penyesalan, Junhee menerimanya dan mengatakan bahwa dia juga menyukaiku.

Aku tak mengerti apa yang ada di pikiran gadis itu yang masih bertahan menyukaiku hingga sekarang.

Nah, perlukah aku menceritakan kedua pengalaman itu pada Jeongmin?

“Ei, No Minwoo! Kenapa melamun?” Jeongmin menggoncang bahuku. Cukup keras hingga aku hampir terjungkal ke belakang jika tidak berpegangan ke ujung meja. “Memikirkan apa sih?”

“Ah, tidak.”

“Lalu … bagaimana pertemuan pertamamu dengannya?”

Gugup, aku mengelus tengkukku. “E-eh, ya, ya, begitulah.”

“Lalu kencan pertamamu?”

Aku hanya memamerkan senyuman polos. Bunuh diri jika menceritakannya.

“Hah,kau jahat tidak mau menceritakannya padaku.”

Bukannya tidak mau Jeongminie, aku hanya terlalu malu menceritakannya, batinku geram. “Hehe, pertemuan pertamanya tidak terlalu berkesan kok.”

                Bukan ‘tidak terlalu berkesan’, tapi ‘sangat memalukan’.

Jeongmin memicing curiga, membuat matanya jadi sepasang garis lurus. “Pertemuan pertamaku dengan Chorong juga tidak seperti yang terjadi di film-film roman. Lalu kenapa tak mau menceritakannya padaku?”

“I-itukarena … karena … y-ya, begitulah. Pertemuan pertamamu dengan Chorong cukup berkesan kok menurutku! Yang kualami hanya pertemuan biasa kok! Aku malu jika menceritakannya karena tak seromantis dirimu,” sanggahku sambil tertawa, mengurai kecanggungan yang kian menggerogoti tubuhku.

“Benarkah? Haha, baiklah.” Jeongmin akhirnya menyerah juga. Ia meneguk habis bubble tea-nya, lantas berpamitan padaku. “Aku pergi ‘mencari informasi’ ya!”

“Oke, dah!”

                Ah, lega rasanya.

*****

Awalnya kupikir, ‘mencari informasi’ adalah menanyai Youngmin dan Kwangmin tentang pertemuan atau kencan pertama mereka. Aku tidak secuil pun merasa curiga karena Jeongmin tipikal orang dengan kurioritas tinggi. Ternyata aku salah. Salah besar karena aku tidak menyadari seringai kecilnya saat meninggalkanku.

“Hei No Minwoo! Apa kau masih memakai celana dalam bergambar Mickey Mouse dengan tulisan namamu?”

Sepertinya tinggal di kutub selatan tidak terlalu buruk. Aku bisa berteman baik dengan beruang kutub dan pinguin. Aku akan berenang di Samudera Arktik dan membeku disana.

                Sialan kau, Lee Jeongmin!

                Junhee!~ Kau kejam sekali padakuT.T kenapa kau jujur sekali sih? Kenapa harus menceritakannya pada anak itu?

FIN

NB : MINU SAYANG MAAFKAN AKU SAYANG! KAMU SUPER DUPER SANGAT TERBULLY DI SINI!!
DAN UNTUK PACAR DAN ISTRI MINU, AKU JUGA MINTA MAAF KARENA MUKA MINU BIKIN AKUPINGIN BULLY DIA XD

Advertisements

3 comments

  1. han dong ri · May 13, 2015

    Hahahahaha lucu bgt
    apalagi pas kantong rahasia minwoo jatuh..
    ditunggu cerita comedy lainnya ya..

    Like

    • kimminjung00 · May 13, 2015

      makasih udah komentar ^^
      hahahahha XD kalo orang pasti malunya ga ketulungan ._. *ditendang minu XD
      sip ^^ makasih ya~~~

      Like

  2. Pingback: Ficlet | OtherwiseM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s