“Annabelle” and Her Two Sides of Life

10371977_699061006824500_4350085287528429239_n

Proudly present
An Original-Fiction by otherwiseM
Cover by Shafa Triya Aulia

“Annabelle”and Her Two Side of Life

Crime,Gore, Thriller, Horror

PG-15 (WARNING!! FULL OF CRIME)

Oneshoot

HappyReading!! ^o^

.

.

.

         Aku memiliki seorang teman. Namanya adalah Annabelle.

         Gadis lima belas tahun yang manis, lembut, lugu, dan penyayang. Namun sebuah anomali dalam dirinya menarik atensiku untuk membahas kehidupannya lebih lanjut. Apa kalian mau mendengarnya?

         Sekepal dogma menguatkan diriku untuk menceritakannya pada kalian. Tapi, kalian harus berjanji untuk tidak menceritakannya pada siapa pun. Karena ini adalah sebuah cerita menarik yang kurahasiakan seumur hidupku.

         Aku hanya akan menceritakannya sekali. Maka, berkonsenterasilah karena aku tak akan bisa mengulangnya. Risiko besar bagiku jika melakukan hal ini sekali lagi.

         Annabelle memiliki dua sisi dalam dirinya yang dapat berubah dalam satu kedipan mata. Aku hanya bisa memandanginya dari kanopi, dan berharap ia tak menyadari kehadiranku yang senantiasa mengikutinya dalam sudut gelap tak terjamah mata.

         Dia cantik menurutku. Imut juga. Namun aku berpikir ulang sesaat setelah irisnya berubah biru …,

*****

         “To-tolong jangan … bunuh aku.”

         Serentetan rintihan serupa dari seorang gadis dalam ruangan pengap minim pencahayaan tak menggugah keapatisan Annabelle di ujung sana, yang menuliskan sesuatu dalam diam. Sorot luka penuhi irisnya.

         “Ini tak akan menyakitkan, aku janji. Kau memiliki mata yang bagus. Aku suka.” Akhirnya sebuah suara menembus gendang telinga si gadis yang terikat kuat di bagian kaki dan tangan. Air mata banjiri paras pucatnya, temani cairan pekat yang menganak sungai di ubin. Rasa perih di sekujur tubuh tak mampu hilangkah tekad melepas jeratannya.

         “Berhenti melukai dirimu sendiri,” titahnya dingin. Annabelle telah selesai menulis. Tangan mungilnya beralih pada pisau kecil di meja sebelah. Digunakannya benda itu untuk mengiris kecil jemarinya, pastikan asahannya kemarin sempurna.

         “Ke-napa k-kau melakukan ini … padaku? A-apa salahku?!” Matanya membulat maksimal manakala dilihatnya sosok itu mendekat dengan gemelatap teratur. Napasnya memburu. Paras itu tampak begitu gamblang meski hanya bohlam kecil yang menjadi satu-satunya penerangan di sini. “K-kau!”

         Gadis itu menempelkan telujuk di bibir. Sejurus kemudian, suntikan menampakan wujud dari balik saku babydoll merah yang mengumbar bau anyir. “Selamat tinggal, Sunbaenim. Segala cacianmu akan kuingat dalam hati dan kujadikan kenangan dalam matamu yang selalu menatapku penuh kebencian.”

         “Ti-tidak mungkin … kau … TIDAK!!”

         Teriakannya meredam seiring jarum suntik berdiameter tak lebih dari 0,2 milimeter menembus bahu sebelah kiri. Dengan satu tekanan lembut, cairan penuh racun tersebut berhasil mendifusi dalam eritrositnya.

         Gadis itu tersenyum dalam kegelapan kala sang rembulan menampakan diri dicakrawala.

         “Matamu yang bagus, akan kuletakkan di tempat yang bagus juga. Jadi, jangan khawatir,” ujarnya menenangkan setelah mencokel sadis bola mata gadis di hadapannya satu persatu. Butuh kehati-hatian tinggi agar benda bulat itu tak tergores. Namun sayang sekali gadis beriris biru ini tak miliki kesabaran untuk itu. Bola mungil yang semula berwarna putih dengan lingkaran hitam di tengah, berubah merah saat dimasuklan ke toples. Lantas ia merutuk dalam hati, kemudian tersenyum riang.

         “Aku tidak bisa menunggu untuk melakukannya. Salahkan dirimu sendiri yang menunjukkan hal menarik padaku.”

         Sikap apatis kembali ditunjukkan melalui ayunan tungkai menjauhi seonggok tubuh tak bernyawa itu. Namun tak selang lama, gemelatap langkah arogannya terdengar. Kini dengan gema lebih kuat sebab kedua dampal kakinya teralaskan high hells setinggi dua belas senti.

         “Aku benci wajah congkakmu!” Gadis itu mengemu dengan tangan terkepal kuat-kuat serta kaki terangkat, “selalu bangga dengan wajah hasil bedahan!”

         Ngilu akan memenuhi pikiran orang-orang jika mendengar ini. Suara remukan tengkorak silih berganti, menghasilkan nada dan tempias darah di mana-mana. Tanpa ampun, gadis itu menginjak dan menginjak dan menginjak lagi kepala itu hingga sisakan seonggok otak lunak.

         “AKU BENCI!” Gelagatnya kian menggila setiap detik. Kini tangannya bergerilya meraih pisau di saku. Berulang kali menusuk, berulang kali darah muncrat nodai parasnya, pakaiannya, rambutnya. Namun ia tak peduli. Amarah berdifusi rata di tubuh mungil tersebut.

         Dan malam itu berakhir dengan gelak tawa puas Annabelle yang wajahnya tertutup sempurna cairan anyir dan seonggok daging tak berbentuk dengan besetan mengerikan di mana-mana serta cacahan organ dalam.

*****

         Dan saat irisnya berubah kelam seperti sedia kala …,

         Annabelle duduk bersimpuh di hadapan lima boneka beruang kumuh penuh debu. Memandang penuh afeksi, Annabelle menuangkan cairan pekat ke beberapa cangkir merah muda. Hening masih menguasai suasana hingga si gadis memulai percakapan monolog.

         “Tuan Berry, apa kau mau secangkir teh lagi?” Dengan seulas senyum manis, Annabelle menggeser salah satu cangkir mendekat. Namun alangkah sebalnya ia saat mendapati mangkuk mungil di sisinya kosong.

         “Yah, gulanya habis.” Annabelle tampak menyesal, namun benda mati di hadapannya tak akan pernah bisa merespon manik berair tersebut. Iris gelapnya mengerling ke arah dapur. Kembali, tarikan sudut bibirnya menghasilkan senyuman. “Tunggu sebentar ya, Tuan Berry! Aku akan mengambilnya lagi!” tukasnya riang.

         Gemelatap tungkainya yang terbalut sepatu berwarna putih itu berhenti menggema, sesaat setelah alpa mungilnya meraih kapak perak di rak. Dalam satu kedipan, iris hitam berubah menjadi biru.

         Annabelle menggerundel sejenak sebelum memasuki kamar yang membiarkan warna hitam menyapa sejauh mata memandang. Menyadari eksistensi gadis manis itu, deru napas memburu sekonyong-konyong terdengar.

         “NYALAKAN LAMPUNYA!”

         Annabelle tersenyum miring. Menekan saklar tanpa berkomentar. Kegamangan penuhi atmosfer lelaki kelut berpakaian compang-camping dengan luka dimana-mana. Kuku panjangnya menekan-nekan jubin, hampir terkelupas. “NYALAKAN LAMPUNYA!”

         “Aku sudah menyalakannya. Buka matamu!”

         Si lelaki segera berteriak, menjambaki rambutnya dan menendangi nampam berisi makanan basi di hadapannya. “KENAPA SEMUANYA GELAP? KENAPA?”

         Annabelle tersenyum. Sengit darah menusuk hidungnya, dan senyum Annabelle kian melebar. “Jangan lukai dirimu sendiri. Kau semakin membuatku tertarik.”

         Tak dipedulikannya sosok Annabelle yang mendekat. Lelaki kurus itu memukulkan kepalanya ke tembok, menangis sejadi-jadinya. Annabelle berjongkok sembari menilik parasnya dalam jarak tak lebih dari sepuluh senti.

         “Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku kan sudah minta maaf, aku sudah menye—“

         Annabelle membanting kapaknya. Benda itu  mengenai pergelangan kaki si lelaki, buatnya menjerit tak terkendali.

         “Aku benci saat orang bilang dia menyesal. Bersikap sok baik dan tulus, padahal hanya memanfaatkan saja. Kau tahu kalau aku menyukaimu, dan kau jadikan aku taruhan? Cih!” Annabelle meludah tepat di wajah lelaki tersebut. “Aku malas melihat wajahmu. Dalam sudut seperti ini, kau sama sekali tidak tampan! Kenapa aku bisa menyukaimu, ya?”

         Annabelle bangkit, bertumpu pada tumit. Benda mengkilat senantiasa berada dalam genggamannya. Annabelle menggertakkan gigi sebelum melayangkan bilah kapak, tepat mengenai leher. Merobek separuh bagiannya. Buat kepala lelaki itu oleng ke kanan.

         Senyap.

         Annabelle tersenyum sarkastik. Tak ada lagi suara gila yang mengganggunya acap kali ia membuka pintu. Tak ada lagi makhluk sialan yang mesti ia beri makan setiap hari. Annabelle puas.

         Namun bukan karena itu ia ke mari.

         Annabelle menarik tangan kirinya. Tiba-tiba mengayunkan kapak sebanyak tiga kali sampai terlepas dari tubuh. Bagian kanan bisa terpisah dalam dua kali ayunan.Annabelle merasakan peningkatan energi di balik tubuh kecilnya. Setelah mewalakan sepasang alpa dalam pelukannya, Annabelle bangkit. Memandang jijik seonggokmayat penuh darah.

         Uh, kau bau! Sebaiknya kau mandi. Aku akan melumurimu dengan minyak setelah pestanya selesai,”tuturnya sembari menutup pintu. Gadis itu menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mengeluarkannya perlahan.

         Annabelle mencuci tangannya dan sedikit merapikan rambut sebelum mengambil blender. Sedikit sulit memasukkan lengan ke dalam blender. Annabelle merutuk, mengapa ia tidak memotongnya menjadibagian yang kecil-kecil tadi. Ia malas harus membiarkan wajah mulusnya ternodai lagi.

         Kekuatan penuh pisau potong dalam blender membutuhkan waktu sedikit lebih lama agar dapat mencacah tulang-belulang menjadi bagian yang kecil-kecil.

 

*****

         Berjanjilah untuk tidak menceritakannya pada siapa pun, karena ….

         “Apa itu? Cicak? Jijik sekali!” Annabele mengalihkan pandang dari cacahan usus dan bersiap melemparku dengan pisau di tangannya. “Kau pasti sudah melihatnya. Bersiaplah bertemu kematian, teman kecil.”

         DIA AKAN MEMBUNUHMU JIKA KAU LAKUKAN ITU!

“Hahaha ….”

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s